Di dalam ruang kerja eksekutif bernuansa modern-industrial yang megah di lantai paling atas gedung pencakar langit Abraham Group, keheningan yang tenang mendadak pecah oleh suara dengungan halus dari ponsel pintar milik sang pemilik kekuasaan. Vernon Abraham sedang duduk tegap di balik meja kerja berbahan kayu mahoni utuh. Pria berusia 34 tahun itu mengenakan kemeja putih yang disingsingkan rapi hingga melingkari lengannya yang kekar, memamerkan urat-urat menonjol serta jam tangan perak bernilai fantastis. Jemari tangannya yang panjang tengah sibuk menggeser dokumen-dokumen investasi berskala internasional ketika notifikasi prioritas dari bank internasional berbunyi. Vernon menghentikan aktivitasnya sejenak. Dengan gerakan santai dan penuh wibawa, ia mengambil ponsel tersebut lalu mengus

