OD | Tetangga Kutub Es

1124 Words
Seorang gadis remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas baru saja menempati kamar kos nomor 27. Sebelumnya, gadis bernama lengkap Alena Baskara itu tinggal di kos yang tidak jauh dari kawasan kos barunya ini. Lena, panggilan akrab gadis bersurai coklat panjang itu mulai menata barang-barang bawaannya seorang diri. Menjadi seorang anak yatim piatu selama dua tahun ini memaksa Alena untuk hidup mandiri. Alena memilih tinggal di kos yang tak jauh dari sekolahnya. Selain untuk memudahkannya pergi ke sekolah, dia juga tidak terlalu suka tinggal bersama kakak-kakaknya. Sehingga Alena memutuskan untuk tinggal di kos saja. "Huft, padahal udah nyaman banget ngekos di sana." desah gadis itu selesai menata barangnya di tempat yang dia inginkan. Bruk Alena lalu melemparkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang. Kakinya dibiarkan menjuntai ke lantai yang dingin. Gadis itu menarik ponsel yang ada di sakunya dan membuka salah satu aplikasi sosmed miliknya. Mencebik pelan karena tak mendapat notif apapun, Alena melempar asal benda persegi itu ke ranjang sampingnya. "Ngapain ya enaknya.. " kata Alena bermonolog. Menatap langit-langit kamarnya dengan bosan. Duk duk duk Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tengah memukul sesuatu berkali-kali. Alena merasa penasaran dan mulai beranjak dari ranjangnya. Mencari sumber suara yang mengganggunya itu. Srek Gadis itu menarik pintu balkon kamar kosnya dan mendapati seorang pria dewasa yang tengah bertelanjang d**a tengah membuat sesuatu di samping kamar kosnya. Dua orang berbeda usia itu saling pandang. Alena menatap pria itu dengan raut terkejut, sedangkan pria yang belum diketahui namanya itu menatapnya tanpa ekspresi. "Si-Siang, Om." sapa Alena kikuk. Gadis itu mendekat ke pembatas balkon kamar kos yang tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Tidak ada balasan dari pria itu. Membuat Alena mengurungkan niatnya untuk kembali bersuara. Sehingga membuat keadaan di antara mereka kembali hening. Sepertinya pria itu mulai terganggu karena gadis kecil di depannya yang terus melihat kegiatannya. Dia sebenarnya tengah membuat meja kecil untuk ditempatkan di balkon kamarnya. "What are you doing here?" ucap pria itu bersuara. "Hah?" Alena spontan mengerjap saat suara itu refleks keluar dari bibirnya. "Lupakan." kata pria itu datar. Membuat Alena jadi merasa canggung. "Perkenalkan nama saya Alena, Om." Alena mencoba memecah suasana canggung di antara mereka dengan memperkenalkan dirinya. "Saya Dewa." singkat, padat dan jelas. Itulah jawaban dari pria di depannya yang kini dia ketahui bernama Dewa. "Om lagi buat apa?" tanya Alena berbasa-basi. "Apa saya harus jawab pertanyaan kamu?" Dewa justru bertanya balik. Alena yang merasa jika pria itu tidak ingin diganggu menggelengkan kepalanya. Menahan rasa kesal, dia memilih menyingkir dari tempat itu. "Lain kali pakai pakaian yang benar. Saya tidak akan tergoda lihat d**a tepos kamu." kata Dewa datar dan segera masuk ke dalam kamar kosnya. "What?" pekik Alena tidak terima. Dia melihat penampilannya dengan seksama. Matanya seketika melebar saat menyadari jika dia tidak memakai bra di balik kaos oversize putih yang dikenakannya. Wajah gadis itu berubah merah, dengan sumpah serapah yang dia layangkan pada dirinya sendiri. |•| Seharian ini Alena jadi uring-uringan sendiri karena mengingat pertemuan memalukan sekaligus mengesalkannya bersama tetangga barunya. Pria dewasa yang sayangnya berwajah tampan itu dengan seenaknya mengatakan jika dadanya tepos. Padahal dari semua temannya, d**a Alena yang ukurannya paling besar di antara mereka. "Dasar triplek. Emang gue sudi apa pamerin d**a gue ke dia." gerutu gadis itu. Alena baru saja selesai mencuci baju-baju kotornya di lantai bawah. Tempat kos Alena memang menyediakan tempat untuk laundry. Gadis itu mulai menata jemurannya di balkon kamar kosnya. Dengan cuek dia pura-pura tidak melihat Dewa yang tengah berdiri di balkon kamarnya sendiri dengan secangkir kopi hangat yang ada di tangannya. Alena cepat-cepat menyelesaikan kegiatannya karena tidak ingin berlama-lama berdekatan dengan pria menyebalkan itu. Walaupun mereka dibatasi oleh dinding, tetap saja Alena merasa tidak nyaman. Selesai dengan kegiatannya, tanpa ingin menyapa, Alena segera masuk ke dalam kamar kosnya lagi. Dewa yang tengah mengistirahatkan diri itu terlihat melirik gadis itu datar sebelum hilang dari pandangannya. "Harusnya kamar itu lebih baik kosong." gumam Dewa. Dia kembali menyesap kopi instan yang baru dibuatnya dengan santai. Menatap langit senja yang memperlihatkan warna kemerahan yang indah di pandang mata. Gedubrak.. Dewa sedikit meringis mendengar suara grasak-grusuk yang ada di kamar sebelahnya. Entah apa yang dilakukan oleh gadis itu hingga terdengar sangat berisik. Menggeram pelan, pria itu memilih kembali masuk ke dalam kamarnya. Hilang sudah seleranya menghabiskan waktu tenangnya di balkon kamar karena suara-suara yang berasal dari kamar sebelahnya. Di sisi lain, Alena hampir saja terpeleset karena lantai kamarnya yang licin. Dia yang terlalu sibuk menyumpah serapahi tetangga sebelahnya itu tidak menyadari jika lantai yang dia pijak terdapat cembungan air. Sehingga membuatnya hampir terjungkal jika saja tidak berpegangan pada tiang sandaran kursi yang ada di sampingnya. Namun karena refleknya itu membuat baskom yang dia bawa terlempar hingga menimbulkan bunyi yang cukup gaduh. "Haish.. gara-gara mikirin Om itu gue hampir aja jatuh." kesal Alena yang ingin kembali berjalan. Gadis itu menyambar baskom yang sempat terjatuh dengan mendengus dan membawanya kembali ke kamar mandi. "Lain kali nggak bakal gue sok-sok ramah sama tuh Om-Om." gumamnya dengan bibir memberenggut. Sepertinya Alena masih sangat kesal dengan Dewa. Terbukti selama dia membersihkan tubuhnya hingga malam menjelang, gadis itu tak henti menggerutu mengingat tetangga menyebalkannya itu. Ting Tiba-tiba ponselnya berdenting saat Alena tengah sibuk mengerjakan PR-nya. Dia melirik layar persegi itu dengan memicing. _____________ Runanana🥴 Gimana sama kos baru lo? Nyaman nggak tinggal di sana? Read Alena tak langsung membalas pesan dari sahabatnya itu. Dia kembali fokus pada angka-angka yang ada di depan matanya. Ting ___________ Runanana🥴 Si kampr*t, di read doang chat gue😡 Read Alena terkikik membaca pesan dari Runa, sahabatnya. Pasti gadis itu sekarang tengah bersungut-sungut karena dia abaikan. Tak ingin mendapatkan kemarahan Runa besok di sekolah, Alena akhirnya memilih untuk membalas pesan Runa cepat. _______________ Alenanonano😮‍💨 Nggak nyaman. Tetangga sebelah nyebelin. Send Dia kembali meletakkan ponselnya dan hendak mengambil pulpennya. Namun dering ponselnya membuat Alena mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kegiatannya. Drrt.. drrt.. Klik "Kenapa?" tanya Alena tanpa basa-basi. "Lo udah kenalan sama tetangga baru lo?" tanya Runa dari sebrang. "Hm." balas Alena malas. "Cewek apa cowok?" tanya Runa lagi. "Udah Om-om. Kenapa emangnya?" tanya Alena balik. "Mantep tuh. Ganteng nggak, Len?" tanya Runa terdengar semangat. "Em.. b aja sih menurut gue." balas Alena tidak yakin. "Halah.. dari jawaban lo yang kaya ragu gitu udah jelas kalo tetangga lo ganteng." seloroh Runa. "Ya terus masalahnya apa? Nggak penting tau nggak ngomongin dia." ujar Alena sewot. "Ini tuh bisa jadi kesempatan buat lo dapetin sugar daddy buat bayarin kebutuhan lo, Len. Jadi lo nggak perlu kerja part time di cafe Bang Genta lagi." kata Runa menggebu-gebu. Alena mendelik mendengar perkataan sahabatnya itu. "Dasar sinting lo." umpat Alena dan langsung mematikan sambungan telfonnya dengan Runa yang tertawa terpingkal-pingkal karena berhasil membuat Alena kesal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD