Di ruangan CEO, ketegangan belum surut. Jagad kembali duduk di kursinya, menuang ulang whiskey ke gelas kristalnya, memainkan gelas hingga cairan itu berputar. "Jadi J.," Devarya memecah keheningan, suaranya datar namun tajam, penuh rasa penasaran. Dia masih berdiri di tempatnya, memasukkan tangan ke saku celana, “gadis tadi yang membuatmu jadi gila bertahun lalu? Kukira spek bidadari kahyangan, J., ternyata biasa aja. Apa yang kamu lihat dari dia?” Jagad picingkan mata ke arah Devarya, mendesah kesal dengan ucapan Devarya yang cenderung menghina Rumi, yeaah walaupun selama ini dia tidak pernah memuji Rumi secara eksplisit tapi tidak berarti orang lain bisa menghina Rumi. Baginya, hanya dia yang boleh menghina Rumi. Titik. “Itu yang kalian lihat. Coba kalian ambil mataku dan lihat Rumi,

