Bab 1

1363 Words
Wilujeng meninggalkan gedung sekolah Taman Kanak-Kanak yang selama hampir dua tahun menjadi tempat dirinya mencari nafkah dengan perasaan campur aduk. Terlalu banyak kenangan di sekolah tersebut yang berkaitan dengan Kaivan, sehingga setelah merenungkan sekian lama, Lujeng memutuskan untuk mengundurkan diri menjadi pengajar di sekolah itu. Salah satu dari berbagai upaya untuk menghapus segala kenangan tentang lelaki itu yang sudah terlanjur melekat kuat di ingatan Lujeng. Mungkin dirinya bisa dikatakan naif ketika perpisahannya dengan Kaivan setahun lalu, ia terlihat tegar dan baik-baik saja. Seolah hatinya tidak berdarah-darah karena untuk kedua kalinya ia harus kehilangan orang yang dicintainya. Tetapi setelah menyaksikan sendiri bagaimana wajah bahagia Kaivan dan Silviana di hari pernikahan mereka, entah mengapa ikhlas yang ia coba gaungkan tergerus rasa sakit yang menggerogoti sekujur tubuh. Hubungannya dengan Kaivan memang terbilang singkat, tapi justru entah mengapa begitu membekas di hati wanita itu. Lujeng meraup napas dengan susah payah. Ada segumpal darah beku yang seolah menyumbat paru-parunya. Sesak Lujeng rasakan bersamaan dengan panas yang mulai merambat di sekitar sepasang matanya. “Aku nggak boleh nangis. Ini keputusanmu kan, Lujeng? Kamu yang menginginkan perpisahan ini. Kamu yang meminta Kaivan untuk menikahi Silviana. Jadi kamu harus kuat. Kaivan sudah bahagia, dan kamu juga harus bahagia.” Setelah menyemangati diri sendiri, Lujeng mulai menyalakan motor bersiap meninggalkan tempat tersebut. Motor yang dikendarai Lujeng membelah jalanan yang siang itu cukup lengang. Wanita itu, setelah bersusah payah untuk tak menangis, nyatanya air matanya justu mengalir deras saat ia melewati jalan penuh kenangan bersama Kaivan dulu. Kota tempatnya dilahirkan, menyimpan terlalu banyak kenangan dirinya dengan lelaki berbeda umur lima tahun dengannya itu. “Apa iya aku harus pergi dari sini?” “Ah enggak-enggak. Ngapain si aku mikir gitu. Kalau aku pergi, Ibu gimana?” “Udah Lujeng, udah. Kamu kuat. Kamu bisa bahagia tanpa Kaivan.” Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja motor Lujeng oleng dan lantas menyerempret sebuah mobil di sebuah tikungan yang sudah cukup dekat dengan rumahnya. “Aaarrggghhh,” teriak Lujeng panik, bersamaan dengan suara gesekan antara bagian depan motornya pada badan mobil berwarna putih metalik. “Ya Allah, Ya Allah. Gimana ini?” Lujeng menjauh dari motornya, yang ia biarkan begitu saja di samping mobil yang otomatis berhenti. Keringat kini membanjiri tubuh Lujeng, ketika ia melihat pintu mobil yang baru ia srempet bergerak terbuka. Sebuah kaki kokoh berbalut sepatu dari brand ternama terjulur menginjakkan aspal jalanan. Lujeng sudah bersiap mendapat makian dari orang tersebut dan diminta ganti rugi. Wanita itu di tengah kepanikan, menghitung uang di tabungannya jika ia diharuskan mengganti rugi. Mungkin tidak terkuras habis, tapi tentu saja akan berkurang untuk pengeluaran yang tidak terduga dan seharusnya tidak perlu ia lakukan jika ia bisa lebih hati-hati lagi. Mobil yang baru ia srempet bukanlah mobil murah, dan pasti butuh biasa reparasi yang tidak sedikit. Lujeng mengerang kesal pada kecerobohannya sendiri. “Tenang Wilujeng, tenang. Kamu pasti bisa mengatasi ini semua.” Untuk beberapa detik Lujeng terpaku oleh sosok yang baru saja keluar dari dalam mobil. Sosok pria berkarisma yang tentu saja memiliki tingkat ketampanan di atas rata-rata. “Mbak yang menyerempet mobil saya?” tanya lelaki itu dengan suara khas pria matang. Lujeng mengedipkan mata, tersadar jika dirinya baru saja terpesona oleh ketampanan pria di hadapannya. “Kamu kayak nggak pernah lihat cowok ganteng aja sih, Jeng.” “Iya, Mas, saya nggak sengaja. Maaf,” jawab Lujeng dengan tampang memelas. Lelaki itu diam sejenak, lantas berjalan mengitari mobil untuk melihat seberapa parah kerusakan mobilnya oleh ulah wanita yang saat ini menurutnya tengah ketakutan. Terlihat garis memanjang dari pintu belakang hingga pintu tengah mobilnya. Lelaki itu menghela napas, tetapi ia juga tidak mungkin untuk memarahi wanita tersebut. Ia yakin wanita yang berkulit eksotis tersebut juga tak sengaja menyerempet mobilnya. Lelaki itu lantas kembali mendekati Lujeng dan berbicara pada orang-orang yang sejak tadi mengerubungi mereka, jika ia dan wanita si penyerempet akan menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. “Mas, jadi ini gimana? Saya harus bayar berapa untuk ganti rugi?” tanya Lujeng cemas. “Nggak perlu. Mbak juga pasti nggak sengaja kan?” tolak lelaki itu dengan sopan. “Beneran, Mas?” tanya Lujeng setengah tak percaya. “Iya nggak perlu. Tapi lain kali Mbak harus lebih hati-hati lagi ya. Untung Mbaknya nggak apa-apa.” Fix. Lujeng mengakui ketampanan lelaki itu bertambah seribu kali lipat, karena sudah sangat perhatian padanya yang notabene adalah orang asing. Nggak usah baper deh! “Baik, Mas. Kalau gitu saya terima kasih.” “Ok.” Dan lelaki itu lantas memasuki mobil, pergi meninggalkan tempat tersebut. Lujeng bernapas lega karena tidak jadi merogoh tabungannya. Ia lantas berterima kasih pada pedagang yang sudah membantu mengamankan motornya, dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.                                                             **   “Assalammu’alaikum.” Lujeng mengucap salam memasuki rumah. Ia langsung saja mendaratkan tubuhnya pada sofa yang sudah tak lagi empuk. Tubuhnya terasa lelah, padahal ia pergi ke sekolah hanya untuk berpamitan dengan rekan-rekan guru dan murid. Juga untuk serah terima pekerjaannya dengan guru pengganti dirinya. “Wa’alaikumsalam.” Lisa menyahut dari arah dalam. “Pada ke mana, Lis? Sepi amat rumah?” Lisa muncul dari ruang tengah dan duduk menyebelahi Lujeng. “Bang Hen lagi nganter Ibu belanja buat pesanan besok.” “Tumben kamu nggak ikut?” “Enggak lah, capek. Enakan di rumah bisa selonjoran, nonton TV sambil makan.” “Huh! Dasar bumil yang dipikirin makanan mulu,” cibir Lujeng. “Biarin lah. Kan kalau banyak makan, bayinya sehat sentosa.” “Iya, iya. Terserah kamu aja deh.” Lujeng berdiri. “Aku mandi dulu deh, capek.” “Mbak.” “Apa lagi?” “Beneran resign?” tanya Lisa dengan mimik wajah serius. Lujeng duduk kembali. Menghela napas sebentar, sebelum akhirnya membuangnya begitu berat. Wanita itu juga menerawang sekejap, mengingat kembali sosok Kaivan. Lantas menggeleng, dan berkata pada diri sendiri jika ia harus melupakan lelaki itu. “Iya,” jawab Lujeng singkat. Lisa mengembuskan napas lega. Ia seperti mendengar kabar baik yang mampu melonggarkan paru-parunya, seolah melepaskannya dari beban berat. Wanita yang tengah berbadan dua itu memang selalu menanggapi sesuatu secara hiperbolis. Dan kabar Lujeng resign dari tempat kerjanya, adalah salah satu kabar baik bagi Lisa. Meski sering bercanda secara berlebihan pada Sang kakak ipar, Lisa ingin Mbak Lujeng bisa mendapat pengganti Kaivan. “Kok kamu kayak yang seneng banget gitu?” tanya Lujeng curiga melihat senyum sumringah adik iparnya. “Seneng lah, akhirnya kakakku tercinta udah bisa move on dari mantan pacar.” “Kamu kayaknya over dosis keringetnya Hendra deh, Lis. Bisa-bisanya kelakuanmu semenjak nikah copy paste kelakuan Hendra. Jadi Kang Nyinyir dan Kang Nyindir,” cibir Lujeng. “Ya Allah, aku perhatian gini dibilang nyinyir,” kata Lisa tak terima, mukanya pura-pura memberengut. “Nggak usah ngambek, ntar tambah keriput tuh muka.” “Emang aku keriput apa?” Lisa meraba-raba wajahnya. “Bawain bayi mungkin,” jawab Lujeng asal. “Ih, serius, Mbak? Emang aku keriput? Duuh, pasti ini efek karena stop skin care-an deh.” “Nggak kelihatan banget kok. Masih bisa diakalin pake filter hape.” “Tahu ih, Mbak mah gitu. Duh, pokoknya ntar kalau ponakan Mbak ini udah lahir, aku mau perawatan full di salon selama sebulan.” “Iya, iya, gimana maunya Nyonya Hendra aja, deh,” kata Lujeng untuk mengakhiri topik skin care yang bertujuan untuk mengerjai Lisa. Namun malah membuat adik iparnya itu baper. “Errm, kalau gitu.” Lisa memegang lengan Lujeng. “Besok temenin ke dokter kandungan ya, Mbak. Bang Hendra nggak bisa nganter, katanya mau pergi ke Jogja.” “Dokter kandungan?” Lujeng seperti mengingat sesuatu. “Iya. Yang di deket alun-alun itu, lho. Yang dokternya ganteng banget itu.” “Huh, dasar bumil kecentilan.” Lujeng memencet hidup setengah mancung Lisa. “Emang ganteng kok dokternya. Duda lagi katanya.” “Ya Allah, bisa-bisanya tahu statusnya tuh dokter. Dasar bigos (biang gossip).” “Enak aja. Ini aku juga denger dari perawat di sana yang lagi ngomongin Dokter Andre.” Lampu di kepala Lujeng seperti menyala, mendengar nama dokter Andre. Ia pernah menemani Lisa satu kali kontrol kehamilan. Dan meski tidak benar-benar ingat bagaimana wajah dokter Andre, tetapi Lujeng bisa memastikan jika dokter kandungan favorit adiknya itulah pemilik dari mobil yang baru saja ia serempet.   Bersambung          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD