Dinding tak kasat mata

1004 Words
Tok tok tok. "Masuk." Pintu ruangan terbuka, Wajah Lydia menyembul sedikit. "Bu, ada Pak Revan, dia bilang mau ketemu Ibu." Melani Dei Oktaviona Adhitama, si CEO menolehkan kepalanya. Raut wajahnya yang datar tampak sedikit berubah. Tapi dia masih tetap tenang, seolah tidak ingin terlihat terpengaruh. Dia berkata dengan tegas. "Biarkan dia masuk." "Baik, Bu." Lydia kembali menutup pintu. Tidak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Kali ini sosok yang muncul bukan lagi sekertarisnya, melainkan seorang pria yang memiliki postur atletis dengan tinggi sekitar 178 cm dan bahu yang bidang, hasil dari latihan fisik bertahun-tahun. Kulitnya sawo matang, terbakar matahari karena sering berlatih di luar ruangan. Rambutnya hitam gelap, dipotong pendek rapi dengan sedikit jambul di depan yang kadang dibiarkan berantakan saat bertanding. Tatapannya tajam dan penuh determinasi, dengan alis tebal yang menambah kesan serius di wajahnya. Rahangnya tegas, dagunya kokoh, dan senyumnya jarang terlihat, kecuali saat mencetak gol atau merayakan kemenangan tim. Dia adalah Revan Suwandi, pesebak bola internasional yang kini berstatus sebagai tunangannya. Begitu Revan masuk, Lani langsung meletakkan dokumen di tangannya. Berdiri untuk menyambutnya. Ia menghampiri Revan. Membantu Revan membukakan jaketnya. "Kapan datang? Kenapa tidak kabari aku?" "Apakah aku perlu meminta izin dulu sebelum bertemu denganmu, padahal sudah kangen?" Lani tidak menjawab. Dia membantu menurunkan jaket Revan dari bahunya. Revan mengamati Lani. Dari jarak sedekat ini, Lani terlihat dingin dan sempurna. Kulitnya putih bersih, nyaris pucat, seperti porselen. Wajahnya tenang dengan garis-garis tegas, alis rapi, mata hitam tajam, dan bibir tipis yang jarang tersenyum. Rambut hitamnya dikuncir rapi, menyisakan sedikit helaian di sisi wajah. Ia memakai blouse satin abu-abu dan rok hitam ketat, tampak anggun sekaligus berjarak. Setiap geraknya terukur, penuh wibawa. Aroma tubuhnya lembut namun kuat. Perpaduan white musk dan kayu cedar dengan sedikit wangi bunga. Tidak manis, tapi tegas, aroma perempuan yang tahu cara menguasai ruangan tanpa perlu bicara banyak. Dan Revan, entah sejak kapan, jadi salah satu yang dikuasai oleh aroma itu. Ada magnet dalam setiap gerakan Lani, dalam setiap tatapannya yang seolah tak peduli. Tanpa sadar, Revan mengulurkan tangan dan menarik pinggang Lani perlahan, membawanya lebih dekat. "Kamu bisa pura-pura dingin," Bisiknya pelan, menatap mata Lani lekat-lekat, "tapi kamu tahu kamu bikin aku kehilangan kendali." Revan menunduk memiringkan wajahnya, matanya menatap tajam bibir Lani. Nafas hangat mereka mulai beradu, membuat Lani menghentikan gerakan tangannya. Revan menggunakan kesempatan itu untuk mendekatkan wajahnya, hanya tinggal beberapa senti lagi sebelum bibirnya bisa menyentuh bibir perempuan itu. Tapi Lani meletakkan tangannya di d**a Revan, mendorongnya pelan. gerakannya sangat halus, tapi cukup untuk membuat Revan berhenti. Lani mundur sedikit, cukup untuk menciptakan jarak yang jelas di antara mereka. Revan terdiam, terhenyak oleh penolakan yang tak ia duga. Tubuhnya menegang, seolah waktu membeku bersamaan dengan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan. Bibirnya sempat terbuka, lalu tertutup lagi, kata-kata yang ingin ia sampaikan tertahan di kerongkongan, menggumpal bersama rasa kecewa yang tak bisa disembunyikan. "Kenapa?" Revan akhirnya berhasil bersuara meski serak, "Apa aku terlalu lancang? Atau kamu yang belum siap?" Tatapan Lani melesat menjauh, tak sanggup menatap matanya. Tangan yang semula hendak membantu Revan melepaskan jaket pun mengambang di udara sebelum perlahan ia turunkan. Dengan gerakan lembut, ia melepas tangan Revan yang melingkar di pinggangnya. "Maaf." Bisiknya pelan. Revan terdiam. Sekujur tubuhnya menegang, seolah kata itu telah memutus tali tipis harapan yang selama ini masih ia genggam erat. Ia menatap Lani lekat-lekat, mencari sesuatu—apapun— yang bisa menandakan bahwa kata “maaf” itu datang dari hati. Tapi tidak ada. Wajah Lani tak memperlihatkan ekspresi apapun. Revan tersenyum miris, lebih pada dirinya sendiri. Sakit. Dadanya sesak. Ia sadar, ia sedang berjuang sendirian dalam hubungan yang seharusnya dibangun berdua. "Bukan kata 'maaf' yang aku mau, Lan." Suaranya serak. "Aku tunanganmu. Kita lama nggak ketemu. Apa kamu nggak merindukanku sama sekali?" Hening. Revan menghela napas lagi. Berucap dengan getir. “Kenapa kamu masih begini, Lan? Kenapa kamu masih menolak saat aku mencoba mendekat? Apa salahku selama ini?” Sejak awal hubungan mereka, ia selalu mencoba. Selalu berusaha menghargai ruang yang Lani minta, bersabar dengan dinginnya sikap, berusaha jadi lebih baik demi mempertahankan hubungan mereka Tapi siang ini, semua itu terasa sia-sia. Lani tampak ingin bicara, tapi memilih berbalik, berjalan ke arah meja. “Kamu pasti lelah,” katanya datar. “Mungkin kamu mau minum sesuatu. Ada teh, atau—” “Tidak perlu,” potong Revan. “Aku ke sini bukan untuk itu.” Lani menoleh perlahan. Revan menarik napas, menegakkan bahunya, mencoba mengunci kembali emosi yang sempat retak. “Aku cuma mau sampaikan undangan makan malam dari Mami. Beliau bilang kamu harus datang.” ujar Revan datar. “Aku akan jemput kamu jam enam. Sesuai permintaan Mama kamu.” Tak ada senyum atau kehangatan seperti tadi. Tidak perlu lagi untuk disebutkan, Lani sudah tahu alasannya. Tapi dia tidak berbuat apa-apa untuk membalik keadaan. "Aku akan datang." Revan mengangguk singkat, "Maaf mengganggu." lalu berbalik menuju pintu. Kali ini, ia tidak menunggu Lani menjawab. Bunyi klik dari gagang pintu terdengar begitu nyaring dalam keheningan itu. Dan dalam sekejap, Revan sudah hilang di balik daun pintu yang kini kembali tertutup rapat, seperti hatinya yang perlahan mulai membeku. Lani menunduk. Jemarinya yang tadi sempat menyentuh jaket Revan kini mengepal, menggenggam udara yang dingin dan hampa. Ia tidak menangis. Tapi dalam diamnya, perasaan bersalah itu mulai menyesakkan, menumpuk seperti debu yang lama tak dibersihkan dari hati yang rapuh. Revan melangkah dengan kepala tertunduk, tangan mengepal di sisi tubuhnya. Mobilnya terparkir di sisi gedung, dan setiap langkah menuju sana terasa semakin berat. Bukan karena tubuhnya lelah tapi karena hatinya mulai mempertanyakan segalanya. Begitu sampai di mobil, tangannya menggenggam gagang pintu. Pikirannya tiba-tiba melayang, kembali ke malam yang berbeda. Malam di mana semuanya terasa lebih sederhana dan harapan masih hidup Pertemuan kembali mereka setelah lama sibuk dengan pendidikan masing-masing. Itu terjadi di acara ulang tahun perusahaan Adhitama corp. Revan datang sebagai tamu undangan, dan di sana ia melihat Lani yang sudah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang memesona. Rambut hitamnya tergerai, kulit putihnya bersinar di bawah cahaya lampu, dan sorot matanya tajam, penuh wibawa. Saat itu, Revan jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD