SHINE : 16 Televisi menyala. Tayangan acara lokal terpampang di sana. Meski berbaring di sofa dengan arah pandangan ke layar televisi, tapi pikiran Yana sama sekali tak ada di sana. Nada yang melihat kegalauan di wajah Yana lantas menyapa. “Berarti kamu nggak jadi pergi sama bos kamu itu?” tanya Nada dengan agak terkejut setelah Yana selesai bercerita. Yana mengangguk. “Terus sekarang galau karena apa? Nyesal nggak jadi pergi atau karena mikirin Mas Bara?” Yana duduk. Perbaiki ikatan rambutnya. Dipandanginya Nada. “Aku nggak tau, Nad. Bingung. Banget.” “Bingung kenapa?” Yana hela napas lagi. Dia memang sempat menyukai Raphael karena laki-laki itu punya senyum manis. Tapi Yana tak sempat menikmati debaran lebih lama karena dengan cepat ia menyadari perasaannya pada bosnya itu ha

