Glup
Fajar menelan ludahnya susah payah mendengar jawaban frontal nona mudanya. Dia mengerjap, menatap wajah Bulan dengan pandangan yang sulit diartikan.
Di sisi lain, Bulan merasa malu sekaligus senang melihat Fajar tak berkutik. Dia semakin ingin menggoda pria yang telah membuatnya tertarik itu.
"N-Non Bulan liat begituan?" tanya Fajar tergagap.
Bulan mengangguk pelan dengan senyum sensual. Dia sengaja mendekatkan dirinya pada supir pribadinya itu.
"Pak Fajar mau nggak nonton bareng Bulan?"
Gila. Bulan sepertinya memang sudah gila karena mengajak pria dewasa itu menonton film dewasa yang dia lihat tadi.
Glup
Fajar seketika itu merasa sangat susah menelan ludahnya. Ajakan itu benar-benar membuatnya tak dapat berpikir jernih.
"N-Nonton dimana, Non?" tanya Fajar terlihat pias.
"Di kamar Bulan." balas Bulan dengan wajah polos.
Fajar yang mendengar itu semakin dirundung gelisah. Dia tidak habis pikir, nona mudanya itu benar-benar polos atau memang berpura-pura saja. Bagaimana bisa gadis itu mengajaknya menonton film dewasa hanya berdua saja di dalam kamarnya?
"Gimana Pak? Mau nggak?" tanya Bulan menanti jawaban pria di depannya itu.
"S-Saya nggak berani, Non. Takut nanti ada yang lihat." tolak Fajar pada akhirnya.
"Kan nggak ada siapa-siapa Pak di rumah. Papa juga belum pulang kan dari luar negeri." Bulan masih berusaha membujuk Fajar.
Pria itu terdiam, sibuk menimang-menimang apakah dia akan menyetujui ajakan nonanya itu atau tidak.
"Ayo dong, Pak." bujuk Bulan lagi sembari merangkul tangan Fajar.
Fajar menelan ludahnya gugup karena hal itu. Dia menatap wajah Bulan dengan seksama dan akhirnya mengangguk.
Melihat itu, Bulan dengan semangat langsung menarik tangan Fajar untuk bangun dan berjalan menuju kamarnya.
Sepanjang jalan menuju kamar nonanya, Fajar rasanya tak dapat bernapas dengan tenang karena menahan rasa gugup. Pikirannya berkecamuk memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini jika dia masuk ke dalam kamar gadis itu.
Ceklek
Bunyi knop pintu yang diputar menyadarkan Fajar dari lamunannya. Pria itu baru sadar jika dia telah berada di dalam kamar nona mudanya itu.
Bulan membawa Fajar duduk di atas ranjangnya. Dia kembali beranjak menuju pintu kamarnya.
Tak
"K-Kok dikunci, Non?" tanya Fajar bingung.
"B-Biar nggak ada yang ganggu, Pak." jawab Bulan tersenyum kecil sembari kembali mendekat ke arahnya.
Gadis itu lalu mendudukkan dirinya di samping pria dewasa itu. Dia menarik laptop yang berada di tengah ranjangnya dan membukanya.
"Gimana kalau kita nontonnya di bawah sini aja, Pak?" usul Bulan.
Fajar hanya bisa mengangguk kaku sebagai jawaban. Dia menerima ajakan gadis itu dan duduk di atas karpet bulu yang ada di bawah ranjang.
Bulan meletakkan laptopnya di tepi ranjang. Dia lalu ikut duduk di samping Fajar yang sedari tadi hanya diam saja.
"Jangan tegang gitu dong, Pak." kekeh Bulan mengelus tangan Fajar ringan.
Fajar yang mendapat perlakuan itu seketika merasa tersengat listrik. Elusan lembut tangan mungil Bulan benar-benar membuatnya panas dingin.
Film yang mereka tonton mulai berputar. Tampak seorang gadis cantik yang masih terlihat sangat muda tengah berada di atas pangkuan pria dewasa berkulit sawo matang.
Bulan dan Fajar terlihat serius menonton film itu. Keringat dingin tampak membasahi pelipis mereka.
"Ah, panas banget ya Pak di sini." celetuk Bulan mengibaskan tangannya.
Fajar menoleh dan mengangguk setuju. Tak disangka, Bulan dengan sengaja melepaskan kaos oversize yang dia kenakan hingga menyisakan bra hitamnya saja.
Wajah Fajar seketika merah padam melihat apa yang dilakukan oleh gadis di sampingnya itu. Dirinya semakin merasa panas dingin karena melihat pemandangan menggiurkan itu.
"Nggak papa ya Pak Bulan lepas baju. Gerah banget soalnya." kata Bulan menatap Fajar dengan senyum canggung.
Lagi-lagi Fajar hanya bisa mengangguk. Dia kembali memfokuskan dirinya pada layar kotak yang ada di depannya. Walau jika boleh jujur, pemandangan di sampingnya lebih menarik dari pada film itu saat ini.
"Bulan udah lama penasaran gimana rasanya diremes ne-nennya sama cowok." Bulan kembali bersuara, sembari menangkup da-danya.
Fajar tak bergeming, tak juga menimpali ucapan gadis di sampingnya. Keringatnya bercucuran menahan gejolak di hatinya.
Bulan terlihat sebal karena Fajar tak menanggapi ucapannya. Dia memberenggut dan memilih kembali fokus menonton film dewasa itu.
Keadaan menjadi hening di antara mereka. Hanya ada suara desahan yang terdengar dari film yang mereka tonton.
Adegan itu menampilkan kedua manusia yang saling memuaskan hasratnya. Tampak gadis muda itu sangat menikmati gempuran pria dewasa itu.
Bulan semakin dirundung gelisah. Kewanitaannya terasa basah melihat adegan panas itu. Dia melirik Fajar yang terduduk dengan wajah tegang di sampingnya.
"Pak.. " lirih Bulan dengan wajah sayu.
Fajar menoleh kaku ke arah Bulan. Dia menelan ludahnya kasar melihat tatapan sayu dari gadis itu.
"Bulan jadi pengen kaya gitu, Pak." ujar Bulan dengan suara serak.
"T-Tapi, Non.. " Fajar terlihat begitu tertekan.
Tangan Bulan terulur memegang tangan Fajar. Mengelusnya dengan gerakan naik turun yang membuat pria itu resah.
Pluk
Fajar hampir saja berjengit saat tiba-tiba tangannya sudah berada di da-da gadis itu. Dia hendak menarik tangannya dari area itu, namun Bulan dengan sengaja menahannya.
"Pak Fajar mau kan remes ne-nen Bulan?" entah itu sebuah pertanyaan atau perintah. Yang pasti sukses membuat Fajar meradang.
"N-Non ini nggak bo-"
Sssttt...
Bulan menghentikan ucapan Fajar dengan meletakkan jari telunjuknya di atas bibir pria itu.
"Pak Fajar boleh kok remes ne-nen Bulan." bisik Bulan tepat di telinga pria itu. Menjilat cupingnya dengan lidah terjulur.
Napas berat berhembus seketika dari hidung bangir Fajar. Dia gelisah mendapat perlakuan seperti itu dari nona mudanya.
"N-Non.. " cicit Fajar gugup.
Bulan terlihat diam saja. Dia sudah menjauhkan wajahnya dari telinga pria itu. Namun tangannya beralih menggerakkan tangan Fajar yang menangkup sebelah da-danya.
"Coba gerakin tangannya, Pak." pinta Bulan merapatkan dirinya pada pria itu.
Fajar tak bersuara, tak juga menuruti ucapan Bulan. Membuat gadis itu merasa kesal karena tak mendapat tanggapan.
Dengan berani Bulan menggerakkan tangan Fajar di atas da-danya sendiri. Seolah pria itu tengah meremas bukit kembarnya.
"Ahh.. gini aja udah enak." desah Bulan menikmati kegiatannya sendiri.
***