Bab 3. Bantuan Dinda

1074 Words
Dandy tersenyum simpul, menyadari pertanyaannya yang konyol dan bersifat sangat pribadi, dia tidak patut mempertanyakan status Dinda dan dia pun baru mengenal. “Saya sudah minta maaf, Bu,” ucapnya karena merasa kurang enak dengan Dinda. “Nggak apa-apa, Dandy. Yah … ya, saya memang sudah bercerai. Lima tahun lalu. Kenapa kamu bertanya?” Melihat reaksi Dinda yang tenang, Dandy duduk di kursi di depan meja kerja Dinda tanpa dipersilakan. Lucunya, Dinda justru tergugup. “Maafkan saya, Dandy. Saya sampai tidak mempersilakan kamu duduk.” “Ibu sedang santai, ‘kan?” “Ya ya.” Entah kenapa Dinda yang seolah tersihir akan sikap tenang dan cuek Dandy, dan lagi-lagi dia teringat mendiang Fauzan. Terlebih, sikap dan tatapannya yang sama. Sampai-sampai Dinda tanpa sadar memperbaiki rambut dan jasnya. “Lima tahun lalu, Bu?” “Ha?" "Maksud saya Ibu sudah lima tahun bercerai." "Oh, haha, iya, Dandy. Saya sudah lima tahun bercerai.” “Bassam cerita papanya di Bandung, tapi punya apartemen di sini. Saya tanya kenapa nggak tinggal di rumah, dia bilang … papa dan mamanya sudah lama pisah.” Dinda tergelak, merasa lucu dengan Bassam yang bercerita ke Dandy tentang papanya. “Jadi, Bassam lima tahun waktu itu," ujar Dandy. “Iya, Dandy. Karena kami tidak cocok lagi, dan kami memutuskan berpisah. Oiya, Bassam baru saja bertemu papanya.” “Dia juga cerita tentang itu.” “Oh, maaf kalo dia berlebihan.” “Nggak apa-apa, Bu. Saya justru senang dipercaya.” “Sebentar,” ujar Dinda, meraih ponselnya, lalu menghubungi seseorang. Dandy mengangguk mempersilakan. “Feli, hai.” Dinda tersenyum ke arah Dandy, memberi isyarat bahwa dirinya ingin membahas tentang perkembangan laporan akhir kuliah Dandy. “Aku mau bahas tentang Dandy … Dandy….” Dinda menatap Dandy. Dandy yang dengan cepat mengerti isyarat tatapan Dinda langsung mengetik nama lengkapnya di layar ponselnya dan menunjukkannya ke Dinda. “Dandy Lionel Samudra, mahasiswa tingkat akhir jurusan arsitektur," ujar Dinda ke ponselnya. “Aku tau dia, ada apa dia denganmu?” “Begini, dia ini pacarnya Edith, dan Edith adalah mahasiswi bimbinganku. Dandy memiliki kesulitan konsultasi dengan pak Pedro.” “Ah, Pedro, si sibuk. Sudah ada dua mahasiswa yang mengajukan perubahan dosbing. Apa Dandy juga ingin mengajukan?” “Iya, Feli.” “Suruh dia mengajukan surat permohonan, kirim saja lewat WA, aku bisa proses saat ini juga.” “Terima kasih, Feli.” “Dia yang harusnya berterima kasih kepadamu.” “Haha, baik.” “Dia mahasiswa yang cukup pintar, nilai-nilainya bagus. Maklum, bukan anak-anak nakal, nggak ikut organisasi manapun. Cukup dikenal sebagai anak pengusaha besar.” “Oh, begitu. Baik, nanti aku sampaikan ke Dandy.” “Oke, Dinda. Anyway, selamat mendapat uang milyaran ya? traktir dong.” “Oh, itu. Iya, bisa diatur.” Dinda mengakhiri panggilannya karena Felisha yang tiba-tiba dipanggil seseorang di ujung sana. Dinda beralih ke Dandy. “Kamu buat surat pengajuan dan kirim ke nomor kontak bu Feli. Bisa diproses sekarang, ah … saya lupa menanyakan dosen yang bagus untuk memimbing kamu, oiya … kamu punya usulan?” Dandy mendengus tersenyum. “Seandainya bisa pilih Ibu, saya pilih Bu Dinda saja.” “Haha, Dandy, saya bukan dosen Fakultas Teknik.” “Ya, saya tau, Bu.” Dandy berpikir sejenak. “Saya pilih bu Inka. Dia memang bertugas di Fakultas Ekonomi, tapi homebasenya di Teknik.” “Inka?” “Ibu mungkin belum mengenal, tapi saya yakin bu Feli tahu dan mengenalnya.” Dinda berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Ya, kamu buat surat pengajuan segera dan kirim ke bu Feli, atau melalui saya.” Dandy bersiap-siap beranjak dari duduknya. “Baik, Bu, terima kasih,” ucapnya saat berdiri dan berbalik, dia merasa sangat terbantukan. “Dandy!” panggil Dinda tiba-tiba, Dandy berbalik lagi ke arahnya. “Saya buatkan surat pengajuan itu,” ujar Dinda. Dandy terperangah, dan dia kembali duduk di depan meja Dinda. Dinda lalu mencari file di komputernya dan membuatkan surat pengajuan perubahan dosen pembimbing untuk Dandy. Surat sudah dibuat Dinda, sudah pula Dinda kirimkan ke Felisha. Tak lama menunggu, Felisah membalas dengan surat persetujuan, dan Dandy disarankan untuk membuat janji bertemu Inka. “Ah, Bu. Ibu baik sekali, saya … terima kasih banyak, Bu,” ucap Dandy senang. “Sama-sama, Dandy. Selama saya bisa bantu ya saya bantu. Lagi pula ini juga membantu kinerja kampus,” ujar Dinda, dan dia berdiri dari duduknya. “Saya ada jadwal mengajar.” “Oh.” Dandy ikut berdiri dari duduknya, dan berjalan ke luar ruangan bersama Dinda. “Tadinya saya mau tanya-tanya tentang … bagaimana itu single parent.” “Kok?” “Mama saya, ‘kan janda, Bu. Hm, sama dengan Ibu.” “Oh, lalu apa yang ingin kamu tanyakan?” Dandy menghela napas sejenak. “Sejak papa meninggal, mama cepat sekali marah dan tersinggung.” Dinda mendengus tersenyum. “Saya awal-awal bercerai juga begitu, tapi dalam hitungan bulan saya tidak mudah tersinggung lagi. Ya, saya tahu cerai hidup dan cerai ditinggal meninggal itu berbeda. Dan apa yang dialami mamamu sangat berat.” Dandy mengangguk. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Edith menghubunginya, tapi dia tidak menanggapi. “Angkat saja, Dandy. Edith, ‘kan?” “Saya sedang tidak mood.” “Karena masalah mamamu?” Dandy mengangguk. Kelas yang dituju Dinda sudah dekat. “Kamu lebih baik fokus laporan akhirmu, harus semangat, Ibu yakin mamamu pasti berubah lebih tenang,” ujar Dinda sebelum masuk ke dalam kelas. Dandy mengangguk pelan, dan dia yang sepertinya masih ingin berbincang banyak dengan Dinda. *** Bassam berteriak kegirangan saat mamanya pulang dan membawa titipan dari Dandy. “Ma, Kak Dandy katanya mau datang ke rumah,” ujar Bassam, masih dengan wajah cerianya. “Ha? Kok bisa tau kak Dandy mau datang?” “Itu, Ma. Kak Dandy kirim pesan lewat rob**x.” “Oh, haha.” Dinda tertawa kecil, menyadari dirinya yang kurang update tentang permainan anak seumuran Bassam sekarang. “Dia pake akun keponakannya.” “Oke.” “Kak Dandy suruh aku tanya Mama dulu apa boleh dia datang ke sini, dia mau kasih tau cara main mainan ini, Ma.” “Iya, boleh.” “Ini mahal, Ma. Jutaan harganya,” omel Bassam lagi. Dinda tersenyum kecil melihat keceriaan Bassam. Sepertinya anak itu memang cocok bermain dengan Dandy. “Aku ke kamar ya, Ma. Mau bilang ke kak Dandy suruh dia ke sini.” Bassam berlarian masuk ke dalam kamarnya, dan Dinda menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD