Keesokan paginya, Alena terbangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari baru menembus tirai jendela, tapi pikirannya sudah penuh oleh bayangan percakapan semalam. Ia duduk di tepi ranjang cukup lama, memandangi lantai yang menutupi kotak logam itu. Rasanya belum ada keputusan yang bisa ia ambil. Satu sisi dirinya ingin mencari tahu lebih banyak tentang masa lalunya, tapi sisi lainnya takut kalau semua itu malah membuka luka yang belum siap ia terima. Ketika ia akhirnya turun ke ruang makan, Rendi sudah ada di sana. Pria itu mengenakan kemeja biru muda, duduk sambil membaca laporan di meja. Begitu mendengar langkah Alena, ia menurunkan kertasnya dan menatapnya sebentar. “Pagi,” sapanya pelan. “Pagi,” jawab Alena singkat. Ia duduk di seberang, mencoba menghindari tatapan itu. Pelayan

