"Apa kabar Tante?" Naya mencium punggung tangannya Anggia. Dan perempuan yang masih cantik diusianya yang sudah setengah baya itu memeluknya. "Duh, kamu ke mana aja? Kenapa gak maen lagi?" Perlahan Tante Anggia mendorong Naya dan menatap perutnya yang sudah buncit. "Udah berapa bulan, ini sayang?" Naya mengusap perutnya. "Udah lima Tante." Anggia mengangguk. "Ayo duduk," Anggia mengajak Naya duduk di sopa. "Kamu mau minum apa? Tante punya jus jambu. Kamu harus minum ya ..., jambu sangat baik untuk ibu hamil." Naya mengangguk. "Boleh Tante." "Ya udah, Tante ambilin dulu ya ..." Anggia pergi ke arah dapur. Sedangkan Naya, ia melihat-lihat rumah itu dengan tatapan miris. Semuanya masih sangat membekas diingatannya. Dewa yang selalu membuatnya menjadi perempuan spesial dan dihargai. An

