“Open BO, kah?” Madam menatap jahil ke arah Aluna, setelah tiga hari cuti.
Cuti yang hanya dihabiskan untuk berdiam diri di dalam kamar saja. Kejadian malam itu, malam dimana Tian menyentuhnya dengan paksa, seolah meninggalkan sesuatu di hati.
Kecewa, marah, dan sensasi yang sulit dijelaskan.
“Nggak!” kening Aluna mengerut, menatap bingung ke arah Madam, ia tidak merasa melakukan hal itu. Malam itu tidak dianggap sebagai open BO, tapin pelecehan.
“Kenapa Madam bisa ngomong kayak gitu?” Selidik Aluna.
“Seseorang menghubungiku, dia bilang mau booking kamu malam ini. Nggak hanya malam ini sih, tapi dia sudah menghubungi Madam sejak beberapa hari lalu, tapi karena kamu cuti, dia harus menunggu.”
“Siapa?” Aluna memang memiliki beberapa pelanggan tetap, yang selalu menggunakan jasanya untuk menemani minum. Tapi hanya minum saja, tidak lebih. Seharusnya mereka tahu bagaimana Aluna bekerja.
“Namanya Lionel Christian. Dia bilang udah pernah booking kamu sebelumnya, apa benar?”
Kedua tangan Aluna mengepal bersama dengusan nafas kasar. b******n sialan itu sedang mengambil kesempatan untuk mempermainkannya.
“Dia mengatakan kamu masih memiliki hutang padanya. Hutang apa? Apa kamu pernah meminjam uang pada lelaki itu?”
“Tidak. Aku tidak semiskin itu untuk meminjam uang pada lelaki yang tidak aku kenal.”
Aluna berusaha tenang, karena untuk menghadapi lelaki seperti Tian dibutuhkan kesabaran seluas samudera. Bukan dengan melawannya seperti beberapa waktu lalu.
“Aku tidak pernah berhutang pada siapapun.” Aluna menegaskan.
Madam mengangguk, tahu betul bagaimana kebiasaan Aluna dan rasanya tidak mungkin hal tersebut terjadi.
“Aku percaya sama kamu, tapi lelaki itu memintamu menghubunginya. Lebih baik kamu segera menghubungi saja, selesaikan masalah ini. Aku yakin hanya salah paham saja.”
“Iya. Aku akan segera menghubunginya.”
“Oke, kalau begitu Madam pergi dulu.” ucapnya sambil menepuk pelan pundak Aluna.
Aluna berhitung dalam hati, berusaha menenangkan diri sebelum menghubungi Tian. Nomor lelaki itu sudah didapatnya, hanya tinggal menekan tombol hijau saya dan panggilan akan tersambung. Namun jarinya seakan berat untuk melakukan itu, ada keengganan dalam hati yang begitu mengganggu. Tapi Aluna harus menyelesaikannya, membuat salah paham ini tidak berlanjut lebih jauh. Aluna tidak pernah open BO, satu-satunya lelaki yang pernah menyentuhnya hanya Tian.
“Hallo!” panggilan terhibur, suara Tian terdengar dari seberang sana.
“Akhirnya,, ternyata butuh beberapa hari untuk mengumpulkan keberanian, atau mungkin terlalu sibuk setelah melayani banyak laki-laki. Kira-kira berapa tamu yang sanggup kamu layani semalam?”
Suara bariton dengan nada penuh ejekan terdengar dari seberang sana.
Sial!
“Nggak perlu tahu berapa banyak lelaki yang sanggup aku puaskan, kamu pasti terkejut. Yang jelas, beberapa hari ini aku benar-benar sibuk.” balas Aluna, tidak mau kalah.
“Kesini sekarang!”
“Maaf, sepertinya tidak bisa!” Tolak Aluna.
“Kalau kamu nggak datang, aku yang akan datang ke sana.” ancam Tian.
“Silahkan, tempat ini terbuka untuk semua orang, nggak usah sombong karena kamu nggak sepenting itu.” Aluna terkekeh pelan.
“Oh,, begitu. Seru kayaknya kalau aku kesana dan mengembalikan celana dalam yang tertinggal malam itu. Aku ingin tahu reaksi temanmu, setelah tahu teman yang dianggap baik ternyata diam-diam menjual diri tanpa sepengetahuan mereka. Apakah mereka akan tetap menganggapmu baik?”
“b******k!” Sembur Aluna, berdiri dengan kepanikan yang semakin menjadi ketika mendengar ancaman kurang ajarnya tadi.
“Jadi, masih ingin jual mahal atau aku akan mempermalukanmu di depan semua orang?”
Aluna tahu lelaki itu membencinya, lelaki itu merasa dicampakkan padahal kenyataannya Tian yang mencampakkannya.
lelaki itu akan melakukan apapun jika mereka bertemu.
Aluna harus mempersiapkan diri untuk menghadapi pria itu dengan alibi atau amukan, tapi sama sekali tidak memperhitungkan cara Tian memberikan salam pertemuan malam itu. Aluna berubah menjadi sosok wanita kebingungan dengan memberikan perlawanan sia-sia dan berakhir menikmati sentuhannya.
Tidak ingin ada keributan, apalagi sampai mencoreng nama baiknya, Aluna segera bergegas pergi, setelah Tian mengirim alamat. Alamat apartemen milik Tian.
Seorang petugas menyambut Aluna seolah sudah menunggu. Petugas itu memberikan arahan pada Aluna agar mengikutinya sampai ke kediaman Tian.
“Silahkan masuk, Tuan sudah menunggu di dalam.”
Petugas itu lantas meninggalkan Aluna tepat di depan pintu masuk kediaman Tian.
Aluna bisa mendengar suara denting jam dinding yang berdetak. Sunyi. Dan mencekam.
Tiba-tiba Aluna mendengar suara pintu yang sengaja dibanting dengan keras, sampai menghasilkan getaran yang merambat ke seluruh ruangan, dan membuatnya tersentak kaget. Bahkan ia sampai lupa cara bernafas. Setelah menarik nafas panjang, pintu terbuka dan sosok Tian muncul dengan terlihat begitu mempesona dalam balutan setelan jas. Sorot mata tajam penuh amarah itu menghunus ke arahnya.
“Selamat datang Aluna Sofia, si pelacurr murahan!” sambutan yang jelas jauh dari kata ramah.
“Nggak usah buang-buang waktu! Apa mau kamu sampai suruh aku datang ke sini.” balas Aluna. Bahkan sebelum lelaki itu Mempersilahkan masuk, Aluna audisi terlebih dulu berjalan perlahan melewati Tian yang berdiri mematung di depan pintu.
Sorot mata Tian tajam, menatap dengan penuh penilaian seolah mempelajari setiap detail wajahnya.
“Kenapa terburu-buru, kita belum ngobrol setelah malam itu.”
“Aku nggak mau ngobrol sama kamu. Lagipula setiap tamu yang datang padaku tidak ada yang bersikap sepertimu. Kami hanya sekali bertemu, sekali pakai dan setelah itu selesai. Itu cara kerjaku,”
Alis Tian terangkat dengan ekpresi yang masih begitu datar. Tian memasukkan kedua tangan ke saku, lalu berjalan mendekati. Aluna tidak mundur, justru membalas sorot mata itu dengan berani. Ia tida ingin menunjukan sisi lemahnya.
Tian meraih pinggangnya dan menariknya ke dalam dekapan lelaki itu.
“Memang kamu pikir aku mau ngobrol hah?! Aku hanya butuh penjelasan tentang kepergianmu selama beberapa tahun lalu dan juga untuk membayar hutangku malam itu. Aku tidak mau dikasih gratis oleh pelacurr murahan sepertimu. Menikmati sesuatu tanpa membayar, aku tidak semiskin itu!”
Nafas Tian menyembur hangat di wajah Aluna, membuatnya menatap dengan nafas tertahan dan kepanikan yang menyiksa.
“Nggak ada penjelasan, aku pergi karena sudah terlalu bosan. Jangan terbawa perasaan, atau jangan-jangan kamu masih menyukaiku sampai hari ini?” ledek Aluna.
“Gitu?” Sahut Tian dengan satu alis terangkat setengah, terlihat menantang. “Udah tahu nggak diinginkan tapi malah datang dan menawarkan diri. Bersikap sok lugu, mendekatiku. ck murahan!”
“Yah.. Anggap saja aku murahan. Urusan kita selesai, kan?” Aluna berusaha melepaskan tangan Tian yang memegang erat pinggangnya.
Meski terlihat tenang Aluna merasa terhina dengan ucapan Tian.
Sadar jika ia hanya dijadikan mainan lelaki itu saja dan lihatlah sekarang, lelaki itu tetap tidak pernah mencintainya malah semakin merendahkan nya.
“Udah tahu murahan, ngapain masih ngotot minta penjelasan?”
Cengkraman di pergelangan tangannya semakin kuat, membuat Aluna meringis pelan.
“Oh begitu? Berapa harga satu malam atau satu bulan? Aku akan membayarnya! Kamu butuh uang kan? Katakan berapa? Aku sanggup membayarnya!”
Plak!
Tamparan keras mendarat sempurna di wajah Tian lalu mendorong Tian dengan sekuat tenaga, hingga lelaki itu melepaskannya.
“Aku nggak butuh uang dari mu,” Aluna mengusap telapak tangannya yang terasa panas.
Sementara Tian mengusap pipinya yang memerah akibat tamparan.
“Dengar, kita nggak ada hubungan apapun sedari dulu. Jadi nggak usah bersikap seolah-olah kamu adalah cowok gagal move on! Kamu nggak jauh lebih baik dari pelanggan ku yang lain. Aku memang butuh uang, tapi aku juga berhak menolak ajakan kamu sekalipun kamu bersedia membayar mahal!”
Aluna menghela, menahan sakit yang kian menjalar di tubuhnya.
“Aku datang bukan untuk mengiba, apalagi meminta uangmu. Aku nggak mau uangmu!”
Tian masih menatap tajam Aluna, mengunci tubuhnya tanpa sentuhan.
“Kamu membuat hidupku berantakan!” Ucap Tian lirih.
“Kau pun. Kamu sudah membuat hidupku hancur!”
Aluna merasakan sedikit sesak saat melihat tanda merah di wajah Tian akibat tamparannya. Ia lantas mendekat dan berjinjit mencium bibir Tian.
Ciuman kasar, dengan mencengkram rambut Tian, menekannya turun agar menunduk. Ciuman yang menyakitkan, tapi menimbulkan debaran asing yang membuat hatinya berdenyut nyeri. Meski saling menyakiti, Aluna maupun Tian enggan menghentikan, justru berlomba untuk bertahan.
Dimas merangkul pinggang Aluna, memangkup rahangnya sementara Aluna masih menjambak rambut Tian sambil mencengkram sisi jas yang dikenakan lelaki itu
Sampai akhirnya ciuman itu melembut, ketika menghisap bibir bawah Tian, ia bisa mengecap rasa darah disana. Tanpa sadar, keduanya menutup mata untuk menikmati ciuman dan saling merapatkan tubuh, merasakan kehangatan lebih.
Bibir terlepas, dengan kening saling beradu, selagi mereka bernafas terengah-engah tanpa memutuskan tatapan. Menatap beberapa saat lalu saling melepaskan diri untuk menciptakan jarak.
“Balasan untuk penghinaan yang sudah kamu lakukan.” Aluna menatap luka di sudut bibir Tian. Ia tidak main-main saat menggigitnya.
“Kamu tidak mau menjelaskan alasan menghilang selama ini, kamu juga menolak tawaranku. Kalau begitu silahkan pergi.”
Aluan tersenyum, “Baiklah, selamat malam Tuan.” lantas bergegas pergi tanpa menoleh.