Lagi-lagi Luna dibuat terkaget-kaget oleh Bastian ketika laki-laki yang baru saja menghentikan mobilnya membawanya ke sebuah toko perhiasan yang Luna lihat-lihat sangat terkenal karena ia pernah melihatnya di televisi. Banyak artis dan tokoh penting yang datang ke toko perhiasan ini.
"Sayang ayo turun sebentar lagi tokonya akan tutup jadi kita tak punya banyak waktu," kata Bastian yang memerintahkan Luna untuk turun.
"Kak kenapa kita harus datang kesini?" tanya Luna yang masih bingung kenapa Bastian mengajaknya kesini.
"Udah nanti kamu juga tahu. Lebih baik kamu ikut kakak masuk aja," perintah Bastian lagi.
Luna pun mau tak mau mengiyakan permintaan dari Bastian dengan mengikuti Bastian masuk ke toko perhiasan itu. Karena percuma juga membantah perintah dari seorang Sebastian Philip karena sudah pasti dirinya akan kalah dibuatnya.
Ketika masuk mereka pun di sambut oleh para karyawan toko perhiasan.
"Selamat malam tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan toko perhiasan itu.
"Saya mau mencari cincin pertunangan," jawab Bastian dengan wajah yang datar.
"Mari saya tunjukan beberapa koleksi cincin milik toko kami," kata karyawan toko itu dengan sangat ramah.
Dengan tetap menggenggam tangan Luna, Bastian berjalan menuju deretan cincin yang cantik dan pasti harganya mahal. Tapi bagi Bastian tak ada masalah bila berhubungan dengan uang karena ia banyak uang yang tak akan habis bila terus ia pakai.
"Sayang kamu mau pilih cincin yang mana?" tanya Bastian kepada Luna yang berada di sampingnya.
Luna yang dari tadi diam pun akhirnya diberikan kesempatan oleh Bastian untuk berbicara.
"Kenapa kita beli cincin segala sih kak? Kita juga belum mempersiapkan pernikahan kita dan tiba-tiba kakak ingin membeli cincin segala," gerutu Luna ketika melihat sifat Bastian yang sulit Luna tebak.
"Kakak mau kita membeli cincin pertunangan kita berdua. Kakak ingin benar-benar mengikat kamu agar orang-orang tahu jika kamu hanya milik kakak. Jadi kamu pilih cincin manapun yang kamu suka," perintah Bastian dengan nada yang tak terbantahkan.
Lagi-lagi sifat dikator dari Bastian muncul kembali sehingga membuat Luna yang sedang malas berdebat dengan Bastian. Luna pun melihat beberapa cincin yang di pajang di etalase itu. Beberapa cincin terlihat bagus tapi Luna tak begitu menyukainya karena modelnya yang terlalu berlebihan hingga akhirnya tanpa sengaja ia melihat sepasang cincin dengan model yang sangat sederhana menarik pandangan matanya. Luna pun berjalan semakin mendekat kearah cincin itu dan ia langsung jatuh cinta ketika melihatnya.
"Mbak boleh saya lihat yang itu," pinta Luna sambil menunjuk kearah cincin yang ia suka.
Karyawan toko perhiasan itu pun mengambil cincin yang Luna tunjukan dan kemudian memberikannya kepada Luna. Dan seperti tebakannya tadi jika cincin yang ia mau ternyata sangat bagus.
"Menurut kakak gimana?" tanya Luna pada Bastian.
"Cincinnya bagus. Kamu mau yang ini. Kalau kamu mau yang ini kita pilih ini aja," kata Bastian yang percaya dengan pilihan dari Luna.
"Aku kan tanya pendapat kakak. Kakak suka apa enggak? Kasih pendapat jangan bilang iya aja," jawab Luna yang mulai kesal dengan sikap Bastian.
Bastian pun berjalan mendekati Luna dan memeluk tubuh Luna dari belakang.
"Sayang aku akan selalu percaya dengan pilihan kamu jadi gak usah tanya lagi pendapat aku. Apapun yang kamu pilih pasti aku akan suka juga," kata Bastian masih memeluk tubuh Luna dari belakang.
Sebenarnya Luna sudah tahu jika Bastian akan mengatakan hal itu tapi sikap Bastian yang suka seenaknya sendiri yang membuat Luna malu dibuatnya. Bayangkan saja dengan seenaknya ia memeluknya bahkan Bastian dengan santainya ia mencium bibir Luna di depan para karyawan yang ada disana. Dan sudah dapat di pastikan jika semua mata tertuju kepada mereka.
"Kak malu...."
Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Luna. Karena ia benar-benar merasa malu sekali saat ini.
"Kenapa harus malu? Kamu calon istri aku dan aku pikir mereka juga gak peduli sama kita. Jadi gak usah terlalu di pikirkan," jawab Bastian dengan santainya.
Mungkin sekarang muka Luna sudah memerah karena malu setelah Bastian secara terbuka mengatakan jika ia adalah calon istrinya. Selain itu Bastian terus memeluk pinggangnya mengklaim dirinya adalah miliknya.
Akhirnya Luna pun memilih cincin yang tadi ia lihat dan segera menarik tangan Bastian keluar dari toko perhiasan itu karena ia benar-benar malu dengan tingkah Bastian yang benar-benar sangat posesif kepada dirinya. Sehingga Luna pun segera mengajak Bastian pulang ke penthouse mereka.
Sementara itu di kediaman keluarga Fabrizio semua orang panik ketika nona di rumah ini tak ada kabarnya. Tentu saja Carlos merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada putrinya hingga ia pun mulai mencari keberadaannya.
"Carlos dimana Paula? Apa kamu sudah tahu dimana keberadaan Paula?" tanya Sisca yang terlihat sangat khawatir.
"Kamu tenang dulu aku masih mencari keberadaan Paula. Aku sudah memerintahkan kepada anak buah kita untuk mencari keberadaan Paula. Jadi kita harus tenang terlebih dahulu," kata Carlos mencoba membuat istrinya tenang.
"Tapi aku tidak bisa tenang. Aku takut terjadi sesuatu kepada Paula. Kamu tahu sekarang kondisi Paula sedang tidak baik jadi aku takut terjadi sesuatu kepada dirinya," jawab Sisca yang menahan isak tangisnya.
Carlos sendiri sebenarnya merasa khawatir karena putrinya tiba-tiba menghilang. Tapi ia tak mungkin memperlihatkan rasa khawatir yang ia rasakan di hadapan istrinya karena akan membuatnya panik. Carlos sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Paula. Dan para anak buahnya pasti akan segera menemukan dimana paula saat ini.
Dan benar saja tak membutuhkan waktu yang lama ketika Carlos mendapatkan kabar dimana Paula berada.
"Maaf tuan Carlos sudah membuat anda menunggu lama. Saya baru saja mendapatkan informasi jika nona Paula sekarang ada di bandara dan akan melakukan penerbangan ke Indonesia dari apa yang saya dapatkan informasi tentang penerbangan yang akan dilakukan oleh nona Paula," kata anak buah Carlos menjelaskan.
Carlos yang mendengar informasi itu kaget karena Paula akan pergi ke Indonesia. Berarti ia akan pergi Bastian. Dan itu membuat Carlos khawatir karena putrinya akan mengalami kekecewaan ketika bertemu dengan Bastian. Karena Bastian sudah menentukan wanita mana yang akan menjadi pendamping hidupnya dan itu bukan putrinya.
"Biarkan saja dia pergi. Kalian kembali ke tempat kalian masing-masing. Biar saya yang akan mengurus sisanya," perintah Carlos.
Carlos pun menutup telepon dari anak buahnya sebelum akhirnya ia pun akan berbicara dengan istrinya.
"Paula sekarang ada di bandara untuk melakukan penerbangan ke Indonesia. Dan saat ini mungkin pesawatnya akan segera berangkat," kata Carlos mencoba menjelaskan kepada istrinya.
"Apa....?"
Sisca kaget ketika mendengar jika putrinya terbang ke negara yang Sisca pun tak tahu dimana itu. Ia bingung kenapa Paula jauh-jauh datang ke negara itu? Ada urusan apa Paula pergi kesana? Apa karena ia tak ingin menerima perjodohan dengan Aero Darkstone sehingga ia memilih kabur. Tentu saja sebagai seorang ibu Sisca tak tahu apa-apa tentang alasan sang putri kabur dari rumah ini.
"Carlos kenapa Paula pergi ke tempat yang jauh seperti itu? Apa ini ada hubungannya dengan perjodohan yang akan kita lakukan antara Paula dan Aero Darkstone sehingga Paula memilih kabur. Tapi kenapa dia pergi ke negara Indonesia yang sangat jauh itu?" tanya Sisca yang masih tak mengerti.
"Paula pergi ke Indonesia pasti untuk menemui Bastian. Kemarin dia bilang sama aku jika ia suka dengan Bastian tapi aku mengatakan kepada Paula jika ia tak memiliki Bastian karena saat ini Bastian sudah memiliki seorang wanita yang ia cintai. Bahkan ia sudah memutuskan untuk menikahi wanita itu. Maka dari itu ketika Paula mengatakan perasaan sukanya kepada Bastian untuk tak melanjutkan perasaan sukanya karena sudah pasti Bastian akan menolaknya. Aku tahu benar siapa wanita yang Bastian sukai. Wanita itu adalah wanita yang sudah Bastian sejak kecil jadi sudah pasti Bastian akan lebih memilih wanita itu daripada Paula." Carlos mencoba menjelaskan kepada Sisca.
Sisca sekarang tahu kenapa putrinya kabur dari rumah mereka. Kenapa kisah cinta antara dirinya dan sang putri bisa sama. Mereka selalu tak bisa memiliki laki-laki yang mereka cintai. Entah ini kutukan ataupun memang nasib mereka yang tak jujur tentang cinta sehingga membuat mereka tak bisa memiliki laki-laki yang mereka mau.
"Carlos kita harus menemui Paula sekarang. Aku khawatir akan terjadi hal yang buruk dengan Paula di negara orang seorang diri. Sebaiknya kita jemput Paula saja," pinta Sisca kepada sang suami.
Carlos pun terdiam sejenak mendengar perkataan dari Sisca istrinya. Ia sebenarnya ingin menjemput Paula kesana. Tapi jika seperti itu maka Paula tak akan bisa belajar untuk menghadapi masalah yang ada. Carlos hanya ingin putrinya menyelesaikan masalahnya sendiri dan tak memaksakan kehendaknya. Ia ingin mengajarkan kepada Paula tak semua yang diinginkan tak bisa didapat dengan mudah.
"Kita biarkan Paula menyelesaikan masalahnya sendiri dengan caranya sendiri. Jadi untuk sementara kita biarkan saja," kata Carlos mengambil keputusan.
"Tapi...."
Sisca mau membantah tapi lagi-lagi suaminya mengatakan jika ia ingin putrinya melakukan apa yang ingin dilakukan. Sehingga membuat Sisca mencoba mengikuti apa yang dikatakan oleh Carlos suaminya.
Sementara itu Luna berjalan meninggalkan Bastian untuk masuk ke penthouse miliknya. Ia terlalu sebal dan kesal kepada sosok laki-laki yang mengaku-ngaku sebagai calon suaminya itu. Ia tak habis pikir kenapa dari hari ke hari sikapnya semakin posesif dan dengan mudahnya mengumbar kemesraan di hadapan banyak orang di luar sana.
"Sayang kamu kenapa dari tadi diam aja? Kamu masih marah?" tanya Bastian yang bingung.
Luna memilih tak menjawab dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar mereka. Ia sedang tak ingin berbicara dengan Sebastian Philip.
"Sayang....."
Bastian pun menarik tangan Luna untuk menghentikan langkahnya. Dan meminta Luna untuk menatap kearahnya.
"Aku gak suka jika kamu gak mendengarkan apa aku. Dan bahkan mengabaikan aku," kata Bastian yang mulai marah.
Luna tampak tak suka melihat ekspresi marah yang ditunjukan oleh Bastian. Karena menurutnya ia tak suka melihat ekspresi marah Bastian sangat menakutkan.
"Aku cuma gak suka dengan sikap kakak yang suka berlebihan di depan umum. Aku merasa gak nyaman ketika kakak melakukan hal itu," jawab Luna mengatakan hal yang sejujurnya.
"Sayang dengarkan aku. Aku melakukan semua ini hanya untuk menunjukan kepada orang-orang diluar sana jika Laluna Fabrizio adalah milik Sebastian Philip. Jadi jangan merasa tak nyaman jika aku menujukkan kepemilikan aku terhadap kamu," kata Bastian dengan serius.
Luna lagi-lagi tak bisa berkata apa-apa lagi ketika Bastian sudah mengatakan hal-hal yang tidak mungkin ia bisa bantah.
Wah dokter Bastian mulai bucin. Gimana kisah Bastian dan Luna selanjutnya?
See you next chapter...
Happy reading....