Bab 6

1077 Words
Keesokan harinya, matahari belum sepenuhnya meninggi ketika aku dan Andi sudah bersiap untuk pergi ke ladang. Andi terlihat lebih segar, meski matanya masih menyimpan kabut kebingungan yang belum sepenuhnya hilang. Ada sesuatu yang berubah di antara kami setelah kejadian di sungai kemarin. Sebuah keintiman yang tak terucapkan, sebuah ikatan yang terbentuk bukan dari kata-kata, tetapi setiap bahasa tubuh, lirikan mata, dan perasaan saling memiliki. "Kamu yakin udah kuat? Kamu belum pulih betul lho, Ndi?" tanyaku saat melihatnya mengangkat cangkul dari gudang kecil di belakang rumah. Luka di dadanya masih terbungkus rapi, tetapi sudah tidak mengeluarkan darah. Dia mengangguk, senyum kecil mengembang di bibirnya. "Aku ingin bantu bantu kamu, Mak Iroh. Aku tidak mau hanya diam aja di rumah. Seperti lelaki yang tak berguna," Suaranya rendah, tapi penuh tekad. Aku mengangguk. Mungkin, dengan bekerja, dia merasa bisa membalas kebaikanku. Atau mungkin, ini caranya mencari jejak identitasnya yang hilang, dengan menjadi berguna. Ladang kami tak jauh dari rumah, hanya berjarak sepuluh meter saja. Ladang itu adalah warisan Pak Dar, sepetak tanah subur yang biasa ditanami pisang, terong, kacang kapri, cabai, dan beberapa pohon singkong. Selama ini aku mengelolanya sendiri, dengan tenaga yang semakin terbatas. Kehadiran Andi seperti angin segar. Sesampainya di ladang, panorama hijau membentang di bawah sinar matahari pagi yang keemasan. Udara segar bercampur aroma tanah basah dan dedaunan. Burung-burung berkicau riang di kejauhan. Andi berdiri sebentar, memandang sekeliling dengan mata yang sedikit terpesona. "Aku suka di sini," gumamnya. "Iya. Ini sumber hidupku," jawabku sambil menyerahkan sabit padanya. "Kamu bisa mulai memotong rumput liar di bagian pinggir. Aku akan memanen terong dan kacang kapri dulu di sebelah sana. Untuk makan malam kita." Dia mengangguk, lalu dengan gerakan yang masih kaku namun penuh semangat, dia mulai menyabit. Aku memunggangi keranjang anyaman dan berjalan ke bedengan terong. Pekerjaan dimulai. Aku sibuk memilih terong yang sudah ungu tua dan berat, memetik kacang kapri yang polongnya sudah montok. Sesekali mataku melirik ke arah Andi. Dia bekerja dengan sungguh-sungguh, tubuhnya yang atletis membungkuk dan tegak dalam irama yang teratur. Keringat mulai membasahi kemeja lusuh warna coklat tua peninggalan mendiang suami ku yang dikenakannya. Kemeja itu semakin lekat pada tubuhnya, memperlihatkan kontur otot punggung yang bergerak setiap kali dia mengayunkan sabit. Waktu berlalu. Matahari semakin tinggi, panas mulai terik. Aku berpindah ke pohon pisang, memotong beberapa tandan yang sudah matang dengan golok. Saat aku turun dari tangga kayu sederhana, aku melihat Andi sudah beralih ke cangkul, membongkar tanah di sekitar tanaman singkong yang tanahnya memadat. Kemejanya sudah benar-benar basah oleh keringat. Dengan gerakan tanpa pikir panjang, dia meloloskan kemeja itu dari tubuhnya, melingkarkannya di pinggang. Dan seketika, napasku tersendat. Tubuhnya terbuka di bawah sinar matahari. Bahunya yang lebar, d**a yang bidang dengan otot pectoral yang jelas, perut six-pack yang terpahat sempurna, hingga V-line yang mengarah ke celana panjang sederhana yang dia kenakan. Kulitnya yang kecokelatan berkilau oleh keringat, memantulkan cahaya seperti action figure superhero yang hidup. Otot-otot lengannya bergerak setiap kali cangkul menancap dan membalik tanah. Itu adalah pemandangan yang begitu primal, begitu maskulin, dan bagi diriku yang telah lama lapar, bagaikan oasis di padang gurun. Aku berdiri terpaku, keranjang pisang di tanganku terlupakan. Darah berdesir cepat di nadiku. Ingatan tentang kehangatan tubuhnya, tentang kepenuhannya di dalam diriku kemarin pagi, kembali menghantam dengan kekuatan penuh. Keringatku sendiri yang mengalir di lekuk leher dan d**a terasa mendadak panas. Andi sepertinya merasakan tatapanku. Dia berhenti sejenak, menoleh ke arahku. Matanya yang cokelat tua menyipit diterpa sinar matahari. Dia tersenyum, polos, tanpa tahu badai yang sedang dia picu dalam diriku. "Panas sekali, ya," katanya, lalu menggunakan topi caping yang kupakai kan di kepalanya tadi untuk mengipasi tubuhnya. Otot-otot dadanya bergerak mengikuti gerakan tangannya. Itu terlalu... terlalu menggoda. Aku menelan ludah, mencoba menguasai diri. "Istirahat sebentar, Andi. Minum dulu." Suaraku agak serak. Aku mengambil kendi air dari bawah pohon pisang dan menghampirinya. Andi meletakkan cangkul, lalu duduk di atas sebuah batu besar di pinggir ladang. Aku duduk di sisinya, menuangkan air ke dalam cangkir plastik dan menyodorkannya padanya. Dia minum dengan lahap, tenggorokannya bergerak naik turun. Setetes keringat mengalir dari pelipisnya, menyusuri rahangnya yang tegas, lalu menetes ke dadanya. Tanpa pikir panjang, tanganku mengusap tetesan itu dengan ujung jari. Sontak, Sentuhanku membuatnya terkejut, tetapi dia tidak menolak. Matanya menatapku, penuh pertanyaan. "Kamu berkeringat banyak," bisikku, suaraku semakin rendah. Jari-jariku tidak berhenti di dadanya, tapi mulai menyusuri otot bahunya yang kencang. "Pundakmu pasti pegal. Aku pijit ya?" tawarku. Dia mengangguk, meski matanya masih bingung. "Iya, terima kasih." Aku berdiri di belakangnya. Tanganku yang tidak sebesar tangannya, namun kuat karena bertahun-tahun bekerja, menempel di pundaknya. Kulitnya hangat, lembab oleh keringat. Aku mulai memijat, awalnya dengan tekanan yang wajar. Otot-ototnya memang keras, tegang oleh pekerjaan yang tidak biasa dilakukannya—atau setidaknya, yang tidak diingatnya. "Kamu kuat sekali," gumamku, sambil jari-jariku menggali lebih dalam ke otot trapezius-nya. Dia mengerang pelan, sebuah suara rendah yang bergema di dadanya. "Rasanya enak." Dorongan dalam diriku semakin menjadi. N a f s u yang sudah ku kandung sejak tadi pagi, bahkan sejak kemarin, mulai mengambil alih akal sehat. Pijatanku berubah, tidak lagi sekadar menghilangkan pegal. Jari-jariku mulai membelai, bukan menekan. Telapak tanganku menyusuri tulang belakangnya, turun ke punggung bawah. Dan tanpa bisa kutahan, dadaku yang hanya dibalut daster tipis katun tanpa dalaman, aku sengaja menempelkan ke punggungnya yang polos. Aku merasakan kehangatan kulitnya menembus kain tipis itu, merasakan setiap tonjolan tulang belakangnya. Andi menegang. "Mak Iroh? Kamu sedang apa?" suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena kebingungan dan sesuatu yang lain, sebuah ga air ah yang mulai terbangun. "Aku di sini," bisikku di dekat telinganya. Nafasku yang panas menyentuh kulit lehernya. Tanganku tidak lagi memijat, tapi merangkul dari belakang, telapak tangan kananku menempel rata di dadanya, merasakan detak jantungnya yang mulai cepat. "Aku ingin kamu, Andi. Sekarang." Dia berbalik pelan, wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajahku. Matanya membesar, di dalamnya ada badai konflik: kebingungan, rasa bersalah yang tak tahu sumbernya, lalu kemauan fisik yang mulai berkobar. "Di sini? Tapi... " "Tidak ada 'tapi'," potongku, dan sebelum dia bisa berkata lagi, bibirku sudah menyambar bibirnya. C i u m a n itu seperti menyulut api. Andi, yang awalnya kaku, segera merespons. Tangannya yang besar meraih pinggangku, menarik ku erat hingga tubuh kami bertaut dari d**a hingga kaki. Bibirnya membalas geram, lidahnya yang polos tapi penuh keinginan menyelusup ke mulutku. Rasanya liar, terlarang, dan sangat, sangat memabukkan. Delapan tahun kekeringan, dan kini aku tenggelam dalam banjir hasrat. Tanganku meloloskan daster tipis ini, membiarkannya terjatuh ke rumput. Tubuhku akhirnya terbuka di bawah langit biru dan matahari yang menyaksikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD