CRASHH!! "AARRGHH!" Andi meraung, tapi bukannya mundur, ia malah semakin marah. semakin berani. Dengan lengan berdarah, Andi menangkap tangan si copet yang memegang pisau. Gerakannya begitu cepat, begitu presisi, seperti orang yang sudah terlatih. Ia memutar tangan si copet hingga belati itu terlepas dan jatuh berdentang di aspal. Lalu dengan satu gerakan, ia membanting si copet ke tanah dan menguncinya dengan lutut. WUTT! DUGHH! "AAAKH... AMPUUN!" Beberapa warga yang sudah berkumpul segera membantu mengamankan si copet. Ada yang mengikat tangannya dengan tali tambang, ada yang memukulinya dengan batu. Sementara itu, aku berlari ke arah Andi. "ANDI!!" Aku hampir menangis melihat lengan kirinya berlumuran cairan merah. Kain lengan kemejanya robek, memperlihatkan luka sayatan sepanjan

