Kami mengambil sabun dan handuk, lalu berjalan hati-hati menuju sungai. Kali ini, tidak ada gairah yang membara, hanya keinginan untuk membersihkan diri dari keringat, dari tanah, dan dari rasa malu yang masih membekas. Sepanjang jalan, kami tidak banyak bicara. Pikiranku dipenuhi skenario terburuk, desas-desus perzinahan kami akan segera menyebar, kedatangan petugas desa dan juga amarah para warga.
Wajah Andi yang mungkin akan ditandai sebagai lelaki asing yang mencemari desa kami.
Sampai di sungai, tempat di mana semuanya berubah antara kami, kami mandi dengan cepat. Air yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti upaya pembersihan dosa. Aku dan Andi saling membantu membasuh, tetapi sentuhan kali ini berbeda—lebih lembut, lebih penuh perhatian, tanpa nafsu yang membara.
"Dulu, sebelum kehilangan ingatan," kata Andi tiba-tiba saat dia membasuh punggungku yang polos, "apakah aku... apakah biasanya orang akan melakukan hal seperti itu... di tempat terbuka?"
Pertanyaannya polos, tapi menusuk. Aku berbalik badan. Menatap nya dengan lembut.
"Tidak selalu. Itu... situasinya khusus. Tapi, manusia punya nafsu, Andi. Dan kadang nafsu itu lebih kuat dari akal sehat."
"Apakah ini salah? Apakah kita sudah berbuat dosa?" tanyanya lagi, suaranya kecil.
Aku memandangi matanya yang jernih penuh pertanyaan. "Aku tidak tahu, Andi. Yang aku tahu, kita tidak menyakiti siapa pun. Tapi masyarakat punya aturan mereka sendiri. Dan kita melanggarnya."
Dia mengangguk pelan, lalu diam. Setelah selesai mandi, kami memakai pakaian bersih dan duduk di batu besar di tepi sungai. Suara gemericik air menenangkan.
"Aku ingin mengingat," katanya lagi, memandangi air yang mengalir. "Aku ingin tahu siapa aku, supaya aku bisa melindungi mu dengan benar. Supaya aku tahu apakah aku punya hak untuk berada di sisimu."
Perkataannya membuat hatiku tersentuh. Selama ini, selama aku menikah dengan pak Dar, bahkan pria itu hampir tak pernah mengucapkan kata kata romantis yang mampu membuat hati seorang wanita terhanyut dengan perasaan.
Tapi sekarang.... Lelaki asing ini mampu membuat jantungku berdenyut lebih kencang, meskipun dia mengatakannya dalam keadaan lupa ingatan.
"Kamu punya hak, Andi. Kamu sudah ada di sini. Dan aku... aku ingin kamu tetap di sini." Pengakuan itu keluar dengan sendirinya. Aku menyadari, dalam waktu singkat ini, aku sudah menjadi terikat padanya. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Dia telah mengisi kekosongan yang selama ini menganga.
Tapi realitas tidak semudah itu. Saat kami bersiap untuk pulang, dari kejauhan, di seberang sungai, aku melihat asap mengepul dari arah desa. Bukan asap dapur biasa, tapi asap yang lebih besar. Lalu, terdengar suara genderang ditabuh bertalu-talu—suara yang biasanya menandakan ada pengumuman penting atau pertemuan desa.
Jantungku berdebar kencang. "Itu tanda ada pertemuan di balai desa," bisikku, tangan menggenggam lengan Andi. "Biasanya untuk hal-hal penting."
Andi menatapku, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sama. "Apakah... karena kita?"
"Aku tidak tahu. Tapi waktunya terlalu kebetulan."
Kami berjalan pulang dengan langkah berat. Suasana di rumah terasa mencekam. Aku mencoba menyibukkan diri dengan menyiapkan makan malam, tetapi pikiranku melayang ke balai desa, ke mulut-mulut yang mungkin sedang membisikkan namaku dan Andi.
Malam harinya, saat kami duduk makan dengan sunyi, terdengar suara ketukan di pintu. Keras dan mendesak.
Dor! Dor! Dor!
Dadaku seolah di hentakkan. Andi langsung berdiri, tubuhnya siaga.
"Siapa?" tanyaku, suaraku bergetar.
" Saya! Karno. Saya mau menyampaikan Surat panggilan untuk Mak Iroh!" Jawab Karno. Dia adalah sekertaris desa, tangan kanan pak lurah.
Dengan tangan gemetar, aku membuka pintu. Karno berdiri dengan wajah datar dan dingin.
"Saya mau memberikan ini," ucapnya sambil menyodorkan selembar amplop warna putih. Aku menerimanya dengan sedikit gemetar.
" Te... Terima kasih..."
Karno tak beraksi. Dia melirik ke dalam rumah, matanya tertuju pada Andi yang berdiri di belakangku, lalu tersenyum kecut sebelum berlalu.
Aku menutup pintu dan membuka amplop itu dengan gemetar. Isinya sederhana, tapi setiap kata bagai pukulan:
"Kepada Sdri. Munaroh (Mak Iroh),
Anda diharapkan hadir di balai desa besok pagi, pukul 08.00, untuk memberikan klarifikasi terkait kedatangan tamu tidak dikenal di kediaman Anda serta aktivitas tidak pantas yang dilaporkan terjadi di area ladang milik desa.
Hormat kami,
Lurah Desa Sriwedari,
Rojali"
Surat itu jatuh dari tanganku. Mataku berkunang-kunang. Laporan itu benar-benar dibuat. Dan sekarang, kami dihadapkan pada konfrontasi langsung.
"Andi," bisikku, hampir tak bersuara. "Mereka tahu. Mereka akan memanggilku."
Dia mengambil surat itu, membacanya. Wajahnya menjadi dingin, ekspresi yang asing bagiku. Matanya yang biasanya polos, sekarang memancarkan ketegangan dan... amarah? Atau mungkin, sebuah ingatan yang tersentuh?
"Jangan pergi," katanya tiba-tiba. "Biar Aku yang akan pergi."
"Tidak! Mereka akan menahan mu, menginterogasi mu. Kamu tidak ingat apa-apa, kamu tidak bisa membela diri!"
"Tapi jika kamu pergi, mereka akan menghukum mu. Menghinamu. Aku tidak bisa membiarkan itu," jawabnya, tangannya mengepal kuat.
Kami berdebat dengan berbisik, penuh ketakutan dan keputusasaan. Akhirnya, setelah diskusi panjang, kami memutuskan bahwa aku akan pergi sendirian besok. Aku akan bercerita bahwa aku menemukan Andi terluka dan hanya merawatnya. Tentang hubungan kami, aku akan menyangkalnya, mengatakan itu hanya tuduhan jahat dari pemuda-pemuda yang iseng.
Tapi rencana itu terasa rapuh. Aku tahu desa kecil ini. Mereka tidak butuh bukti kuat. Prasangka dan gosip sudah cukup untuk menghancurkan seseorang.
Malam itu, kami tidak bisa tidur. Andi memelukku erat, seolah takut aku hilang. Aku memandangi langit-langit rumah yang gelap, memikirkan semua kemungkinan buruk. Andi juga terlihat gelisah. Beberapa kali dia mengerang pelan, memegangi kepalanya seolah ada sesuatu yang mencoba menerobos masuk.
"Kepalaku... sakit," bisiknya saat tengah malam. "Seperti ada potongan potongan ingatan... tapi kabur."
"Tentang apa?" tanyaku, berharap dia mulai mengingat sesuatu yang bisa membantu.
"Api... teriakan... dan... seseorang... perempuan..." ucapnya terputus-putus, lalu dia menggeleng kesakitan. "Tidak bisa. Tidak jelas."
Aku memeluknya lebih erat. "Jangan dipaksakan. Kamu Istirahat saja."
Tapi dalam hati, aku bertanya-tanya: Siapa perempuan dalam ingatannya? Apakah dia punya istri atau kekasih di suatu tempat? Jika iya, apakah dia akan meninggalkanku jika ingatannya pulih?
Pertanyaan-pertanyaan itu menyiksa. Namun, di balik semua ketakutan, ada satu hal yang semakin jelas: perasaanku padanya. Aku tidak ingin kehilangan dia. Entah itu salah atau benar, entah itu dosa atau bukan, Andi telah menjadi cahaya dalam kesunyian hidupku. Dan aku akan berjuang untuk mempertahankannya, sekalipun harus menghadapi seluruh desa.
Keesokan paginya, dengan hati berat dan penuh kecemasan, aku bersiap untuk pergi ke balai desa. Andi memandangiku dengan mata yang penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.
"Aku akan menunggumu di sini," katanya, memegang tanganku erat. "Jika ada apa-apa, lari ke sini. Aku akan melindungi kamu."
Aku mengangguk, lalu berjalan keluar rumah, menuju jalan setapak yang akan membawaku ke desa, ke tempat di mana masa depanku—dan masa depan kami—akan ditentukan. Langkahku terasa berat, tetapi di dalam hatiku, sebuah tekad mengeras.... Aku adalah Mak Iroh, perempuan yang telah bertahan sendirian selama delapan tahun. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil kebahagiaan yang baru saja kudapat, sekecil apa pun itu.
Dan di balik punggungku, dari jendela rumah, Andi memandangiku pergi dengan tatapan yang semakin fokus dan penuh tekad. Seolah-olah, dalam dirinya, sesuatu mulai bangun. Bukan hanya ingatan, tetapi juga kekuatan untuk melindungi apa yang sekarang dia anggap miliknya.
( B e r s a m b u n g )