SATU DEMI SATU

1157 Words
Lingga tiba di sebuah tempat gym eksklusif bernama GYM WORLD tempat Mardhi berada. Ia tetap mengenakan masker, topi dan kacamata hitamnya agar tidak menarik perhatian para pengunjung. Saat staf yang ada di resepsionis mencegatnya, Mardhi kemudian muncul, “Dia bersamaku.” “Oh baik pak,” ucap staf tersebut. Ia mengangguk hormat karena Mardhi Diwangkara adalah konsumen VVVIP. “Siapa yang ada di sini?” tanya Lingga penasaran. “Aku tidak mengenalnya, tapi namanya sesuai yang pernah kamu sebutkan,” bisik Mardhi. “Aku tadi tak sengaja mendengarnya saat registrasi. Katanya namanya Lanaya Isvara. “Lalu aku tanya pada personal trainer nya, dan katanya memang betul itu namanya.” “Hmm..” Lingga menyeringai. Ia tak sabar ingin segera melihatnya. Apakah dia si nomor satu? Nomor dua? Atau nomor tiga? Ia masuk ke dalam ruang gym yang luas dan besar. Banyak peralatan olahraga mahal yang berderet dengan bersih dan rapi. “Mana?” tanya Lingga lagi. “Itu orangnya, yang berada di treadmill,” jawab Mardhi pelan. Lingga tersenyum lebar ketika menyadari kalau perempuan bernama Lanaya Isvara itu memang salah satu dari tiga perempuan yang diciumnya. Lanaya sedang berlari di atas treadmill dengan peluh membasahi kening dan dahinya. Bahkan mengucur hingga ke leher dan dadanya. You’re hot… Lingga menyeringai. “Iya, itu dia,” bisik Lingga pada Mardhi. “Salah satu dari tiga perempuan yang aku cium.” “Apa maksudmu?” Mardhi mengerutkan keningnya. Lingga tergelak lalu menceritakan kejadian malam itu. “Kamu gila,” Mardhi menggelengkan kepalanya. “Tiga dalam satu malam. “Darimana kamu tahu kalu perempuan itu memang salah satu dari tiga orang malam itu?” “Namanya, itu petunjuk pertama. Kedua, tubuhnya… I touch her.. I knew it…” Lingga kembali tersenyum. Perempuan yang bernama Lanaya itu mengenakan baju olahraga yang membentuk tubuhnya sehingga setiap lekuk badannya terlihat jelas. “Tapi dia… Sepertinya si nomor dua atau tiga, bukan nomor satu,” ucap Lingga lagi. “Apa yang akan kamu lakukan untuk mengetahuinya?” Mardhi penasaran. Lingga tersenyum penuh makna, “Aku bertanya langsung atau… I kiss her..” Mardhi hanya melongo memperhatikan sahabatnya yang bergerak ke area treadmill dan menghampiri perempuan tersebut. “Kamu akan menciumnya? Sekarang juga?” gumamnya. Mardhi lalu melihat sekeliling gym. Ada orang orang lain yang sedang berolahraga dan ia sedikit cemas kalau sampai ada adegan tidak senonoh atau malah ada tamparan yang melayang ke wajah sahabatnya itu. Hadoh… Niatku olah raga malah jantungku yang olah raga. Mardhi menjaga jarak dan memperhatikan langkah langkah yang dilakukan Lingga. Lingga mendekat ke arah perempuan yang terlihat sudah selesai berolah raga dan sedang mengeringkan keringatnya. “Hai…” sapanya. “Apa kabarmu?” Perempuan itu menatapnya dan membelalak kaget, “Suaramu… Kamu lelaki itu???” Lingga tersenyum lalu melepaskan kacamata hitamnya, “Yes it’s me. Lelaki yang katamu lebih buruk dari stalker.” Perempuan bernama Lanaya ini si nomor tiga, si gadis kipas. “Kipasmu mana?” Lingga tergelak. “Apa aku akan bebas dari pukulan hari ini?” Lanaya terdiam memperhatikan lelaki di hadapannya. Ada rasa tertarik yang tidak bisa ia pungkiri. Meski mengenakan masker dan topi, tapi dari gaya dan penampilannya, lelaki di hadapannya itu sangatlah tampan dan memesona. “Kenapa kamu diam?” tanyanya. “Jawab pertanyaanku.” “Ini tidak fair,” ucap Lanaya sambil menahan senyumnya. “Kamu masih mengenakan topengmu. Masker itu… “Sedangkan aku sudah melepas topengku.” “Aku… Bukan seseorang yang bisa menampakkan wajahku dengan bebas,” ucap Lingga. “Let’s talk in private, Lanaya… “Itu namamu bukan? Lanaya Isvara.” Lanaya terlihat kaget karena lelaki di hadapannya itu menyebut namanya dengang lengkap. Tapi ia akhirnya tersenyum, “Biarkan aku mandi dulu. Kalau kamu mau, tunggu di kafe lantai bawah.” Lingga menggeleng, “Tidak di kafe lantai bawah, terlalu ramai. “Ada lounge di lantai ini, kita bisa bicara di situ. Dari sini, masuk lorong di seberangmu itu, dan belok kiri. Aku tunggu di sana.” “Baiklah,” Lanaya tersenyum dengan cantiknya lalu beranjak pergi. Lingga pun berbalik untuk menuju lounge. Tiba tiba saja, Mardhi muncul di sampingnya, “Apa yang kamu bicarakan?” “Belum bicara apapun. Aku pinjam lounge untuk mengobrol empat mata dengannya,” ungkap Lingga sambil senyum senyum penuh makna. “Tapi… Apa tujuanmu bicara empat mata dengannya? Apa kamu tertarik? Apa dia orangnya?” tanya Mardhi lagi. “Jangan banyak tanya dulu,” Lingga tergelak. “Tujuan utamaku adalah mencari gadis halte bis yang aku curigai si nomor satu.” “Lalu, untuk apa kamu bicara empat mata dengan Lanaya? Bukankah dengan tahu identitasnya sudah cukup?” Mardhi kembali bertanya tanya. “Setidaknya kamu tahu kalau si nomor satu bukanlah Lanaya.” “Aku hanya ingin mencari tahu tentang kejadian malam itu. Siapa tahu saja… Dia tahu soal si nomor satu…” jelas Lingga lagi. “Oh I see…” Mardhi mengangguk angguk. “Semoga saja perempuan tadi tidak salah paham.” Lingga tergelak, “Salah paham atau tidak, bukan urusanmu.” Mardhi hanya menggelengkan kepalanya, “Aku ke sauna dulu.” Lingga menjawab dengan anggukan lalu masuk ke dalam lounge. Selang tiga puluh menit kemudian, Lanaya Isvara muncul. Lingga melirik dan memperhatikan penampilannya yang harus diakuinya luar biasa memesona. Si nomor tiga itu mengenakan gaun ketat yang pendek tanpa kerah sehingga memperlihatkan kakinya dan bahunya yang putih mulus. Kedua buahdadanya membusung sempurna dan menjadi aset tubuhnya yang mampu membuat lelaki melirik dua kali karena ukurannya yang cukup besar. “Apa kamu mau meminta maaf?” tanyanya sambil duduk di samping Lingga. Lingga tergelak, “Bukankah aku sudah meminta maaf? Tapi no problem, I’m sorry… “Selain itu, aku juga ada urusan lain. Ada yang ingin aku tanyakan.” “Lepas dulu. Aku tidak mau bicara dengan orang asing,” Lanaya tersenyum sambil menunjuk ke arah masker yang dikenakan Lingga. Lingga melepaskan maskernya dan juga topinya. Ia kemudian mengulurkan tangannya, “Lingga.” Lanaya menatapnya dengan sedikit kaget karena mengenali sosoknya sebagai pebalap ternama. “Oh… Kamu adalah dia… Pebalap itu bukan?” tanyanya gugup. Lingga hanya tertawa, “Siapa pebalap itu?” “Ah…” Lanaya mengeluarkan ponselnya dan melakukan pencarian di dunia maya. Ia kemudian menunjukkan layarnya pada Lingga, “Ini kamu bukan?” Di layarnya terlihat foto dirinya dan beberapa berita mengenainya. Lingga tersenyum, “Iya. Itu aku.” “Oww… Seorang Lingga Mahapraja ada di hadapanku,” Lanaya tersenyum lalu tiba tiba saja menggeser posisi duduknya mendekat ke samping pebalap kenamaan tersebut. “And.. You kissed me.” Lingga tergelak, “Aku sudah bilang minta maaf.” “No problem,” Lanaya tersenyum. “By the way, namaku seperti yang kamu sebutkan yaitu Lanaya. Tapi kamu bisa memanggilku Lana.” “Oh ya, Lana…” Lingga memamerkan senyumnya yang menghipnotis. Ia menyadari kalau perempuan di hadapannya ini tertarik kepadanya. Aku bisa ‘memanfaatkannya’ untuk mencari informasi. Saat Lingga hendak membuka mulutnya, tiba tiba saja satu kecupan mendarat di bibirnya. Lana kembali menciumnya. Matanya membelalak dengan kaget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD