Jelita, Ganika dan Pram memperhatikan Asih bekerja. Setelah beberapa saat, dia berhenti berkutat dengan laptopnya. "Ok,selesai," Asih tersenyum. "Thanks," Pram merasa lega. Jelita ikut tersenyum, "Terima kasih." "Aku pergi dulu," Asih menatap Pram. "Aku antar," Pram bangkit dari kursinya. Keduanya bergerak keluar dari rumah dan berjalan menyusuri gang. Asih menatapnya tak berkedip, "Siapa dia? Kenapa kamu membantunya?" Pram menahan senyum, "Nanti aku cerita, tidak sekarang." Asih tertawa, "Aku patah hati." Pram merangkul bahu Asih. Satu sentuhan persahabatan, "Jangan begitu." Asih hanya geleng geleng kepala, "Aku tunggu ceritamu." "Ya, ya," Pram tersenyum, "Hati hati..." Ia memperhatikan Asih memasuki mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Asih membuka jendela mob

