Pertanyaan Ibu Ajeng membuatnya meledak. Jelita kembali menangis tanpa bisa menahannya lagi. "Ke.. Kenapa?" Ajeng menutup pintu kamar lalu menarik tangan Jelita agar duduk di sisi tempat tidur. "Apa yang salah? Apa yang terjadi?" Tangannya membelai punggung anak kosnya itu naik turun untuk menenangkannya. Setelah beberapa saat, Jelita pun terdiam. "Ibu maafkan saya tiba tiba menangis. Tapi..." ia meremas rok nya dengan gugup. "Ceritakan saja, ibu akan mencoba jadi pendengar yang baik," Ajeng bicara perlahan. Jelita menoleh ke arahnya, "Tapi... Kalau ibu tahu cerita saya, tolong, jangan usir saya dari sini..." Ia terisak membayangkan kalau sampai tidak lagi memiliki tempat tinggal. Bagaimana kalau Ibu Ajeng menyuruhku keluar? Aku harus kemana? Anakku bagaimana? "Ibu bisa meni

