Cahaya matahari menembus celah tirai, menyentuh wajah Naura yang masih terpejam. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada. Suara burung di luar jendela terasa asing, begitu juga wangi seprei mahal yang tak pernah ia cium sebelumnya. Semuanya terlalu tenang. Tidak ada suara motor tetangga, tidak ada langkah ibunya di dapur, tidak ada aroma kopi yang biasanya diseduh Aditya. Hanya ada hening dan udara dingin yang terlalu bersih. Ketika kesadarannya kembali penuh, Naura membuka mata perlahan. Kamar itu begitu luas — dengan dinding abu muda, tirai krem, dan jendela besar yang langsung menghadap taman belakang. Di sisi lain ranjang, Ethan sudah tidak ada. Naura menarik selimut, duduk perlahan sambil menatap kosong ke depan. Hatinya terasa berat. Semua yang terjadi kemarin terasa sepert

