Malam itu, apartemen kecil Naura terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu ruang tamu dibiarkan menyala redup, hanya menyoroti tumpukan kertas kontrak yang masih tergeletak di meja. Lembar itu sudah ia baca berulang kali, tapi tetap terasa menyesakkan setiap kali matanya berhenti di bagian tanda tangan.
Ia bersandar di sofa, memeluk lutut, menatap kertas itu seperti menatap dosa yang siap menjeratnya.
Semua terasa tidak nyata. Dalam satu hari, hidupnya berubah arah—dari sekadar mencari uang tambahan, menjadi calon istri kontrak dari seorang bos besar yang bahkan nyaris tidak pernah ia pahami sepenuhnya.
“Lima miliar,” gumamnya lirih. “Cukup buat biaya operasi, perawatan, dan sisa utang rumah sakit.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Nafasnya berat.
Ini bukan keputusan mudah, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ibu harus diselamatkan.
Suara getar ponsel di atas meja memecah keheningan. Nama Aditya muncul di layar. Naura menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab.
“Halo, Di.”
“Sayang, kamu udah di rumah?” suara Aditya terdengar lembut, tapi ada nada khawatir di baliknya.
“Iya. Baru aja sampai.”
“Kamu nggak mampir ke kedai? Aku kira mau makan bareng.”
Naura menarik napas pelan. “Maaf, aku capek banget hari ini. Di kantor lagi chaos.”
Hening sejenak di ujung sana. Lalu Aditya berkata, “Kamu yakin nggak apa-apa? Dari kemarin kamu kayak ngilang.”
Naura memejamkan mata, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil. “Aku nggak apa-apa, Di. Tapi… aku mau kasih kabar baik.”
“Berita baik? Tentang apa?”
Naura menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang dibuat sesantai mungkin. “Bos aku bantu pinjaman buat biaya operasi Ibu. Uangnya udah ditransfer sore tadi.”
Aditya langsung bereaksi, “Serius? Ya Tuhan, itu kabar bagus banget, Nau!” Nada suaranya berubah cerah seketika. “Akhirnya kamu bisa tenang. Aku bisa bantu ngurus administrasinya nanti.”
Naura tersenyum lemah meski hatinya bergetar hebat. “Iya, nanti aku kasih rinciannya. Aku juga masih belum percaya dia sebaik itu.”
“Lihat kan? Masih ada orang baik di dunia ini,” kata Aditya dengan tawa kecil. “Aku senang banget dengarnya. Kamu istirahat, ya. Aku mampir besok pagi.”
Naura hampir menolak, tapi menahan diri. “Oke. Hati-hati, Di.”
Begitu panggilan berakhir, senyum di wajahnya langsung hilang. Ponsel itu ia letakkan di meja, dan matanya kembali ke arah dokumen di hadapan.
“Kamu bohong lagi,” bisiknya pelan pada diri sendiri.
Satu kebohongan kecil yang terasa berat luar biasa.
---
Keesokan paginya, Aditya datang membawa sarapan seperti biasa. Naura yang baru saja keluar dari kamar berusaha menampilkan wajah ceria.
“Aku bawain roti dan kopi favorit kamu,” kata Aditya sambil menata di meja. “Sekalian, aku pengin tahu kabar terakhir soal Ibu.”
Naura duduk, pura-pura sibuk menyiapkan gelas. “Tadi malam aku udah hubungi rumah sakit. Mereka siap begitu uang muka masuk. Operasinya dijadwalkan dua hari lagi.”
Aditya tersenyum lega. “Syukurlah. Aku pengin ikut jaga nanti.”
Naura menatapnya sesaat, lalu mengalihkan pandangan. “Nggak usah, Di. Kamu sibuk di kedai. Aku bisa jaga sendiri kok.”
“Tapi kamu nggak harus ngadepin semua sendirian,” balas Aditya dengan lembut.
Naura mengeraskan senyum. “Aku tahu. Tapi kali ini biar aku yang urus. Aku pengin nunjukin kalau aku juga bisa diandalkan.”
Aditya tertawa kecil, tidak menyadari bahwa kata-kata itu justru jadi tameng untuk menyembunyikan hal yang lebih besar. “Oke, oke. Tapi kalau kamu butuh sesuatu, janji bilang, ya?”
Naura mengangguk cepat. “Janji.”
Setelah Aditya pulang, Naura duduk di sofa, menatap meja makan yang masih berantakan dengan sisa roti dan kopi. Ia menarik napas panjang, lalu membuka tas kerjanya. Di dalamnya, dokumen pernikahan kontrak itu masih tersimpan rapi dalam map hitam.
Ia mengambilnya perlahan. Jemarinya menyusuri bagian bawah halaman terakhir, tempat tanda tangan harus diletakkan.
Beberapa detik hening berlalu sebelum akhirnya ia mengambil pena.
Tangannya bergetar saat menulis namanya: Naura Prameswari.
Begitu tinta pena menyentuh kertas, seolah ada sesuatu yang terlepas dari dirinya. Rasa bersalah, takut, dan lega bercampur jadi satu. Ia menatap tanda tangan itu lama, lalu menutup map dengan tegas.
“Maaf, Di,” bisiknya pelan. “Aku janji ini cuma sementara.”
Tapi jauh di dalam hatinya, Naura tahu — tidak ada kebohongan yang benar-benar bisa disembunyikan selamanya.
---
Sore harinya, Naura mengantarkan dokumen itu ke kantor Ethan. Ia sengaja datang setelah jam kerja agar tidak ada yang memperhatikan. Saat masuk, ruangan itu sudah setengah gelap. Hanya lampu di sudut meja Ethan yang masih menyala.
Ethan sedang berdiri di depan jendela besar, menatap langit Jakarta yang mulai gelap. Ia berbalik ketika mendengar langkah kaki Naura.
“Sudah kamu tanda tangani?” tanyanya langsung.
Naura mengangguk, menyerahkan map itu. “Sudah.”
Ethan menerima tanpa banyak kata, lalu memeriksa halaman terakhir. “Baik. Saya akan urus sisanya malam ini.”
“Terima kasih,” kata Naura pelan.
Ethan menatapnya beberapa detik, lalu bertanya, “Aditya tahu?”
Pertanyaan itu membuat Naura menegang. “Tidak. Saya bilang saya dapat pinjaman dari bos.”
Ethan menatapnya tajam. “Kebohongan pertama selalu yang paling sulit,” ujarnya tenang. “Setelah itu, semuanya akan lebih mudah.”
Naura menelan ludah, menatap lantai. “Saya nggak mau terbiasa bohong.”
“Tidak ada yang mau,” balas Ethan datar, “tapi kadang hidup tidak memberi pilihan lain.”
Ia menutup map itu, lalu berjalan mendekat. “Mulai besok, kamu ikut saya ke rumah. Kita akan siapkan semua berkas dan jadwal pernikahan sipil. Tidak perlu mewah, cukup formalitas.”
Naura mengangguk pelan. “Baik.”
Saat ia berbalik hendak pergi, suara Ethan kembali terdengar, pelan tapi jelas.
“Naura.”
Ia menoleh. “Ya?”
“Terima kasih karena sudah percaya.”
Naura menatapnya, bingung harus menanggapinya bagaimana. Kata “percaya” terasa asing dalam situasi ini. Tapi entah kenapa, nada suara Ethan tidak terdengar seperti sindiran.
Ia hanya mengangguk kecil, lalu keluar dari ruangan dengan langkah yang berat.
Begitu pintu tertutup, Ethan menatap map di tangannya lama, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Bukan senyum kemenangan, tapi semacam kelegaan yang sulit dijelaskan.
Akhirnya, perempuan yang dulu menolongnya tanpa tahu siapa dia… kini terikat padanya, meski lewat cara yang paling dingin dan tidak romantis sekalipun.