Ariana baru saja selesai mandi saat ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Awalnya dia tidak terlalu peduli. Mengira itu hanya pesan promosi diskon paket data atau pesan spam yang akhir-akhir ini memenuhi inbox-nya.
Namun saat membuka aplikasi pesan, Ariana langsung membeku.
Handaru Manggala.
Nama itu tercetak jelas pada profil yang muncul.
Jantung Ariana berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena rindu. Tentu saja bukan.
Lebih tepatnya karena terkejut. Dari mana mantan kekasihnya itu mendapatkan nomor ponselnya?
Padahal selama empat tahun terakhir dia sengaja mengganti ponsel beserta nomor agar tidak bisa ditemukan. Dengan ragu, Ariana membuka pesan.
📩Handaru Manggala: “Buna ini Izora. Aku mau tanya apa Buna sudah sampai rumah?”
Helaan nafas lega Ariana di tengah kamar yang sunyi sampai terdengar oleh dirinya sendiri. Ternyata bukan Handaru yang mengirim pesan, melainkan gadis kecil yang menemaninya ke salon.
Tak mau membuat Izora menunggu lama, lantas Ariana pun membalas—
📤Ariana G Aleena: “Sudah sampai rumah. Habis mandi mau istirahat. Izora sudah sampai rumah kah?”
Balasan tak lama kemudian datang.
📩Handaru Manggala: “Sama dong. Ini habis mandi dan tidur di kamar Paparu. Soalnya kamar aku kemasukan kecoa😭”
📤Ariana G Aleena: “Selamat istirahat, Izora. Dan semoga kecoa-nya cepat ketemu.”
Sengaja Ariana mengakhiri percakapan itu. Karena dia tak mau berbalas pesan dengan Izora menggunakan ponsel milik Handaru.
Meski pria itu tak masalah karena yang meminjam putrinya, tetap saja Ariana merasa sungkan dan sangat tidak nyaman.
Lantas dia pun menaruh kembali ponselnya di atas nakas. Lalu memakai skincare malam sebelum istirahat.
Tubuhnya terasa segar setelah melakukan beberapa treatment. Bahkan kini dia sedang tersenyum melihat rambut barunya yang dipotong sebatas bahu dan dicat warna caramel brown.
Ariana kini terlihat jauh lebih muda dan semakin cantik.
Seperti biasa, setelah memiliki hari yang panjang dan jadwal yang cukup padat, dia selalu mudah tertidur.
Baru memejamkan mata sebentar, Ariana sudah tidur pulas.
***
Di sisi lain... papa dan anak sedang berdebat mengenai batas wilayah kekuasaan.
Meskipun ranjang itu sangat luas, tetap saja keduanya berdebat dan tak kunjung mendapatkan solusi terbaik hingga waktu tidur si kecil sudah terlewat.
“Paparu tuh ngapain sih dekat-dekat sama aku terus?!” omel Izora dengan mata mendelik. Tangannya terlipat di depan d**a dengan bibir mencebik. “Jauhan sana!” usirnya.
Handaru memutar bola mata. “Kamu tuh numpang di kamar Paparu ya, Putri Keripik... jadi jangan semena-mena sama yang punya kuasa.”
“Kan tadi aku udah bikin batas. Kenapa Paparu ambil batasnya?”
“Ya itu kan guling Paparu. Ya diambil lah,” elak Handaru tak mau kalah. “Lagian tumben bikin batas segala. Biasanya kalau tidur juga nempel di ketiak Paparu.”
“Malam ini nggak akan nempel-nempel,” balas Izora.
Gadis kecil itu merasa terganggu dengan Papanya jika tidurnya berdempetan. Dia jadi tak leluasa berbalas pesan dengan Ariana.
Pasalnya dia masih ingin cerita kejadian saat baru sampai rumah.
Tapi sekarang Papanya sama sekali tidak mau mengalah. Malah tangannya melingkar pada pinggang kecilnya.
“Raja Keripik jangan bandel, ya.”
“Justru Putri Keripik yang jangan bandel. Sudah waktunya tidur, besok sekolah. Kembalikan ponsel Paparu.”
“No, tadi Paparu udah bilang kalau mau kasih pinjam.”
“Kan udah kirim pesan sama Tante Ariana.”
“Belum,” jawab Izora cepat. “Aku masih pengen ngobrol.”
“Sedari pulang sekolah sampai jam makan malam kalian bersama, masih kurang memangnya?” Handaru tak habis pikir dengan kebucinan putrinya pada mantan kekasihnya itu.
Selama dia merawat Izora, tak pernah sekalipun gadis kecil itu langsung akrab dengan orang yang baru ditemui. Malah dia sering galak dan membentak orang tersebut jika mencoba mengajaknya berkenalan.
Namun dengan Ariana sepertinya pengecualian.
Akhirnya Handaru mengalah. Dia duduk kembali, lalu membaringkan putrinya dan menata selimutnya.
Tangannya mengelus kepala yang rambutnya baru saja dipotong. Poninya sengaja dibiarkan panjang karena gadis kecil itu ingin seperti Ariana.
“Izora pasti nggak lupa sama pesan Paparu kan?” Suara Handaru mulai melembut beserta ekspresi wajahnya. “Boleh ajak ngobrol atau main Tante Ariana asal tidak mengganggunya.”
Kedua mata bulat Izora mengedip beberapa kali. Kemudian kepalanya mengangguk. Pertanda dia masih ingat pesan itu.
Masalahnya, dia harus cerita sama Ariana sekarang. Kalau besok dia tidak bisa meminjam ponsel Papanya.
Melihat putrinya memasang wajah sedih membuat Handaru melepaskan nafas lelah.
“Mau ngomongin soal apa sih? Sampai nggak bisa ditunda.”
“Rahasia... ini tuh urusan para wanita.”
Apa boleh buat... bersikap tegas pada Izora yang sedang mode keras kepala hanya akan membuat keduanya tidak tidur semalaman.
Dengan sangat terpaksa, Handaru pun menjauhkan dirinya ke tepi ranjang. Memberikan izin pada putrinya untuk menghubungi Ariana.
Dalam hatinya dia berdoa agar wanita itu tidak jengah menghadapi sikap manja Izora.
“Paparu jangan nguping!” Izora dengan senyum jahil menatap Papanya. Lalu dia bangun dan memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.
Kelakuan gadis kecil itu memang sungguh ajaib.
Beberapa menit kemudian terdengarlah suara bisik-bisik dan kekehan pelan dari dalam selimut.
Awalnya Handaru cuek saja. Pasti yang dibicarakan tak jauh dari rencana makan siang, jalan-jalan, dan juga belanja.
Namun telinganya tak sengaja mendengar kata ‘ganteng’ dari bibir putrinya.
Dan saat itulah dia, dengan gerakan sepelan mungkin, mendekati selimut yang menyembul ke atas.
“Iya, pas kita mau pulang dia bilang kalau Buna cantik dengan model rambut dan warna barunya.”
“[...]”
“Masak nggak dengar sih? Keras kok ngomongnya. Orang Sus Mery aja dengar.”
“[...]”
“Ah, iya. Mungkin waktu Buna lagi angkat telepon dari Ante Senja.”
“[...]”
“Oh, iya. Paparu bilang kalau Buna juga cantik banget loh. Makin muda kayak anak kuliahan semester akhir.”
“[...]”
“Haha... gombalan orang tua memang gitu kan?”
Kening Handaru mengernyit... siapa yang dikatai orang tua? Dia kah?
Bisa-bisanya putrinya menjelek-jelekkannya di belakangnya.
Dan siapa tadi yang dikatai ‘ganteng banget’? Apa Izora butuh dibelikan kacamata?
Plak!
“Awww—” Handaru mengaduh kesakitan saat tiba-tiba Izora membuka selimut. Tangan kecil itu tak sengaja memukul wajahnya. “Sayang!”
“Ih, kok deket-deketan sama aku sih, Pap?” protes gadis kecil itu. Wajahnya terlihat memerah karena gerah bersembunyi di dalam selimut. “Nguping ya?” tuduhnya.
Handaru tak mungkin bicara jujur. Dia kembali duduk bersandar pada kepala ranjang. Dan pura-pura sibuk dengan bukunya.
Sedangkan Izora mau mengomel lagi tapi tidak jadi... dia pengen pipis.
Dia pun bergegas turun dari ranjang dan menyerahkan ponsel itu pada Papanya.
“Titip sebentar, Pap. Aku mau pipis,” teriaknya begitu masuk ke dalam kamar mandi.
Kini Ariana bisa melihat wajah mantan kekasihnya dengan sangat jelas.
Seringaian jahil muncul di bibir Handaru saat melihat Ariana seperti orang kikuk.
“Kenapa gitu? Kayak nggak pernah video call-an aja.”
Eh, apa-apaan itu? Haruskah menyinggung kisah lama yang sudah terkubur?
Ariana memutar bola mata. “Gak usah ngomong aneh-aneh. Kalau kedengaran Izora bakal susah ngejelasinnya.”
“Mudah kok. Aku tinggal bilang saja Buna-nya itu mantan Papanya yang ninggalin begitu saja selama empat tahun.”
“Handaru!” seru Ariana sambil mendelik tajam.
“Kenapa?” Handaru mengangkat sebelah alisnya. “Memang begitu kan kenyataannya.”
“Mulutnya dijaga, Han!”
“Kenapa harus dijaga? Takut kamu nggak bisa nahan diri dan pengen cium?”
Astaga. Ariana dibuat tak bisa mengeluarkan sanggahan saking malunya dengan pertanyaan dari mantannya yang gila itu.
Bisa-bisanya membicarakan soal ciuman.
“Gak usah canggung gitu, Na. Kayak kamu nggak pernah nyosor bibir aku aja,” lanjut Handaru.