Bab 6. Menggoda Duda Dingin

1098 Words
“Apa aku harus menghubunginya?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Dewangga. Lirih, lebih seperti pengakuan terselip yang tidak disengaja keluar dari mulutnya. Dewangga menaruh garpu dan pisaunya. Selera makannya lenyap begitu saja. Digantikan pikiran kacau mengenai seorang gadis yang belum pernah benar-benar ia pahami, Jandita. Setelah meneguk sisa air di gelasnya, ia merogoh ponsel. Menatap layar cukup lama, seperti sedang mencari keberanian yang hilang entah ke mana. Lalu dengan satu helaan napas panjang, ia menekan tombol panggil setelah menemukan nama Jandita di antara ratusan kontak yang ia simpan. Nada sambung berjalan lama. Terasa menggelitik dadanya yang tiba-tiba berdebar aneh, hingga akhirnya terdengar suara yang ia hapal dari malam kejadian itu. “Ha–halo, Om. Ada apa?” Suara renyah, lembut, sedikit ragu-ragu … dan jelas tidak menyangka ia akan ditelepon. Jandita menelan ludahnya dengan kasar ketika kemudian ia menerima panggilan itu. Setelah baru saja, Tara melabraknya. “Kita perlu bicara,” ucap Dewangga Pria itu menahan napas sejenak agar suaranya tetap stabil. “Oh.” Ada jeda singkat. “S–sekarang?” “Sekarang.” Sunyi sesaat sebelum Dewangga bicara lagi. Kali ini lebih pelan dan lebih berat. “Kita akan menikah, Jandita. Tapi kita bahkan belum bicara sama sekali. Aku ingin tahu satu hal … sebenarnya kamu itu menyukaiku? Atau kamu hanya bilang begitu pada papamu karena terdesak?” Pertanyaan itu menembus Jandita seperti pisau tipis dan dingin. Ia tidak menjawab. Tidak segera menjawab, sebab alasannya jelas. Karena ia memang terdesak dan refleks mengaku telah tidur dengan Dewangga. Napas Jandita bahkan memburu, seiring otaknya yang berputar mencari jawaban. Apa aku terdesak? Atau aku hanya tidak mau kalah lagi dari Tara? Pikiran itu muncul tanpa permisi. Mendesak dan membuat dadanya terasa panas. Tara. Gadis itu. Anak dari Dewangga, sekaligus sosok yang telah mengkhianatinya dengan merebut dan berselingkuh dengan kekasihnya. Kini menjadi motivasi paling besar untuk tetap melangkah. Dan dengan pernikahan ini, Jandita yakin akan menjadi serangan paling mematikan bagi Tara dan Kendra. Namun, tentu saja Jandita tidak mungkin mengatakan itu pada Dewangga. Ia menelan ludah, lalu menimpali dengan cepat. “Om.” Suaranya melembut. “Aku memang terdesak mengatakannya, tapi aku sebenarnya … ya aku memang tertarik sama Om.” “Tertarik?” ulang Dewangga, nada bicaranya rendah dan mengalir dingin. “Itu saja?” “Untuk sekarang,” jawabnya jujur tapi aman. “Tapi aku nggak pernah bilang apa pun yang nggak kupikirkan.” Dewangga menghela napas panjang, lalu kembali membuka suara. “Kalau begitu, kita bisa membatalkan semuanya. Kamu tidak harus menikah denganku hanya karena ucapanmu pada ayahmu. Tidak ada apa-apa di antara kita, kan.” Jandita memejamkan mata kuat-kuat, lalu menggeleng lemah. Membatalkan? Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ia kira. Ia melihat kembali bayangan Tara. Senyumannya yang seolah-olah menganggap Jandita hanya sebatas manusia yang mudah sekali dibohongi membuatnya kembali mantap. Kali ini, ia harus mengambil risiko. Ia tidak akan kalah lagi. Tidak dari Tara. Tidak kali ini. “Nggak mau.” Dewangga mengerutkan dahi. “Tidak mau?” “Aku nggak mau batal, Om.” Ada jeda panjang dari sisi Dewangga. “Kenapa?” Seribu alasan berkecamuk dalam diri Jandita, tetapi tak satu pun boleh ia ucapkan. Ia hanya menarik napas dalam, lalu menenangkan detak jantungnya. “Aku sudah terlanjur memutuskan. Dan Om juga udah janji sama Papa, kan,” katanya akhirnya. “Dan aku yakin.” Dewangga tampak terdiam. Ia menimbang ucapan Jandita dan mencoba mencari tahu, apakah yang katakannya itu memang benar. Sementara Jandita, seolah-olah ingin mengubah suasana yang terasa terlalu serius, gadis itu mengembalikan nada manjanya. Seperti sedang bicara pada kekasihnya. “Lagi pula,” ucapnya, memerangkap nada centil di kalimatnya, “Om nggak mau sama gadis cantik dan seksi kayak aku? Om beruntung, loh, punya calon istri kayak aku.” Sesuatu di bibir Dewangga bergetar. Nyaris tak terlihat, walaupun samar. Jandita bisa mendengar perubahan halus itu lewat helaan napasnya. Sepertinya, ia berhasil menggoda pria 40 tahunan itu untuk tetap menikahinya. “Kamu percaya diri sekali,” gumamnya. “Harus dong,” jawab Jandita jenaka. “Nanti aku jadi istri Om, masa aku minder?” Dewangga menyandarkan tubuh ke kursi, seraya menatap jendela ruang makannya. “Jadi pernikahannya dilanjutkan?” “Dilanjutkan,” jawab Jandita mantap. Lebih mantap dari perasaannya sendiri. “Oke,” ucap Dewangga. “Om … setuju? Nggak berubah pikiran, kan?” tanya Jandita, setengah menggoda, setengah mencoba membaca isi hati pria itu. “Aku belum tahu.” Jawab Dewangga jujur. “Tapi kalau ini keputusanmu, aku harus mengatakan satu hal.” “Apa?” Jandita menunggu dengan sabar apa yang hendak dikatakan Dewangga. Alih-alih penasaran, tapi dadanya berdegup dengan kencang. “Pernikahan ini bukan kontrak.” Nada suara itu berubah dingin dan tajam. Hampir seperti peringatan lembut. “Ini bukan drama, bukan kesepakatan main-main. Ini pernikahan yang sah.” Jandita menahan napas. Ucapan itu terasa … berat dan serius. “Dan kamu harus siap dengan apa pun yang datang sesudahnya,” lanjut Dewangga. “Termasuk hal-hal yang … bersifat mengikat antara suami dan istri.” Jandita hanya diam. Ia mendadak tidak tahu harus bernapas lewat mana usai mendengar ucapan Dewangga barusan. Dan jantungnya benar-benar bergemuruh ketika pria itu melanjutkan kata-katanya. “Termasuk … ketika nanti aku meminta hakku sebagai suami.” Napas Jandita tercekat di tenggorokan. Ia merasa wajahnya memanas sampai telinga. Ia paham apa yang dimaksud pria itu. Jandita tahu, ke mana arah ucapan Dewangga. Dan sepertinya, ia tidak punya pilihan lain. Dewangga menunggu dengan tenang. Membiarkan kata-katanya tenggelam sempurna dalam tubuh dan pikiran gadis itu. “Jandita,” panggilnya lembut tapi tegas. “Aku … tahu, Om,” jawab Jandita dengan suara yang hampir bergetar. “Aku ngerti, kok.” “Dan tetap tidak ingin membatalkan?” tanya Dewangga memastikan. “Nggak.” “Baik,” ucap Dewangga akhirnya. Ada ketegasan yang tidak bisa ditawar-tawar. “Kita lanjutkan.” Jandita tersenyum getir. Kemenangan kecil yang hanya ia nikmati sendiri. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia benar-benar menikah dengan Dewangga. Pria yang selama ini ia hormati sebagai sahabat papanya. “Om,” ucapnya pelan. “Jangan nyesel nanti.” Dewangga membalas, tenang tapi tajam, “Aku yang harus bilang itu padamu.” Lalu, sebelum telepon berakhir. Dewangga menambahkan. “Bersiaplah, Jandita. Ini bukan permainan.” Telepon kemudian terputus. Namun, getaran di d**a keduanya jelas sama. Meskipun dengan alasan yang sangat berbeda. Jandita membuang napas dengan kasar usai meletakkan ponselnya di meja. Benda itu meredup, lalu padam. Seiring helaan napas gadis 22 tahun yang kini hanya bisa menggeleng lemah. “Ya … sepertinya aku harus bersiap mulai sekarang untuk jadi ibu tiri Tara,” bisiknya putus asa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD