Bab 30. Dosa Warisan Masa Lalu

1309 Words

Suasana di kantor polisi pagi itu terasa begitu dingin, bukan karena pendingin ruangan yang bekerja maksimal, melainkan karena kebekuan yang memancar dari sorot mata Dewangga. Pria itu berdiri tegak, tangannya masih melingkar protektif di bahu Jandita, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu inci pun udara kotor di tempat itu yang boleh menyakiti istrinya lagi. Tara, yang berdiri beberapa langkah di depan mereka, tampak hancur. Wajahnya yang biasanya dipoles riasan sempurna kini sembab, dengan maskara yang luntur membentuk garis-garis hitam di pipinya. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata menuntut, sebuah percampuran antara amarah dan luka yang sudah bernanah bertahun-tahun. "Kenapa, Pa?" Suara Tara pecah, bergetar hebat di udara yang sunyi. "Kenapa selalu dia? Kenapa Papa selalu pa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD