Jandita menaiki tangga dengan langkah agak cepat dan terburu-buru. Hatinya kesal bukan main mendapatkan respons dingin dari Dewangga. “Ya udah,” gumamnya sendiri, sedikit mendesis. “Tidur aja di ruang kerja. Aku malah seneng.” Tangannya menggenggam pegangan tangga lebih erat dari yang ia biasa lakukan. Kakinya yang telanjang menapak pelan, ritmis, seolah-olah mengikuti omelan di kepalanya yang tidak mau diam. Seneng, katanya. Padahal barusan, di dapur, ia sudah mengatakannya dengan nada yang menurutnya cukup jelas. Cukup dewasa dan tidak dengan maksud apa pun. [Om bisa tidur di kamar, kalau mau] Kalimatnya sederhana, tidak memaksa. Tidak juga menuntut. Dan respons Dewangga hanya diam. Menatapnya seolah-olah Jandita baru saja mengatakan hal gila. Padahal ia hanya berniat baik menawa

