“Aku nggak mau lepasin kamu. Jangan harap.” Suara itu membuat darah Jandita seketika dingin. Ia menoleh cepat. Kendra berdiri terlalu dekat, wajahnya keras, tatapannya bukan lagi milik pria yang dulu ia kenal. Ada sesuatu yang asing, gelap, dan membuat perut Jandita mual seketika. “Kendra, jangan gila,” ucap Jandita tercekat. Tangannya refleks mundur, tapi pergelangan itu lebih dulu dicengkeram. “Lepasin!” Jandita meronta, panik mulai menyusup ke dadanya. Namun Kendra tidak mendengar. Ia menarik Jandita kasar ke arah halaman samping rumah. Jalur sempit yang jarang dilewati, terlindung dari pandangan ruang utama. Tujuannya jelas. Tara tak boleh tahu. “Berhenti! Kamu sakit!” suara Jandita bergetar. Ia menahan langkah, kakinya terseret di lantai. “Kamu pikir aku nggak lihat caramu ke D

