Adrian berbaring telentang di atas kasurnya, menatap langit-langit dengan napas berat. Selembar kertas putih yang sudah lecek kembali ia rentangkan. Ia membaca rentetan tulisan ibunya untuk yang kesekian kalinya malam ini.
Maafkan ibu...
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang terus-menerus menggores ulu hatinya. Ibunya baru pergi beberapa jam yang lalu, tapi rumah ini sudah kedatangan penghuni baru. Penghuni yang langsung mengambil alih posisi ibunya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Suara langkah kaki terdengar mendekati kamarnya. Terdengar pelan dan ragu.
Tok. Tok.
"Adrian?"
Suara Arini memanggil dari luar kamarnya.
Gagang pintu bergerak ke bawah. Pintu kamar Adrian yang memang tidak terkunci terbuka perlahan. Arini berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun pastel dan hijabnya. Wajahnya memancarkan kelembutan buatan yang membuat Adrian semakin jijik.
"Adrian, ayo turun. Makan malam sudah siap. Ayahmu menunggumu di meja makan," ucap Arini lembut.
Adrian tidak menjawab. Ia bahkan tidak bergerak dari posisinya yang berbaring telentang. Matanya hanya melirik tajam, menatap Arini dengan sorot penuh kebencian.
Senyum di bibir Arini perlahan menghilang. Ia terlihat tidak nyaman. Tangannya meremas sisi gaunnya sendiri. Wanita itu menelan ludah, lalu mengangguk pelan.
"Kalau kamu sudah lapar, makanannya ada di meja, ya," ucapnya pelan sebelum akhirnya menarik kembali pintu dan menutupnya rapat.
Adrian mendengus kasar. Ia meremas surat ibunya, meletakkannya di atas d**a, dan memejamkan mata. Ia membenci wanita itu. Ia membenci ayahnya. Ia membenci rumah ini.
---
Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Adrian terbangun, keringat dingin membasahi dahi dan kausnya. Ia baru saja bermimpi ibunya berjalan menjauh ke dalam kabut tebal, mengabaikan teriakannya yang memanggil-manggil.
Adrian bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya. Tenggorokannya terasa kering. Ia butuh air minum.
Saat ia baru saja berdiri, telinganya menangkap sebuah suara. Suara ranjang yang berderit. Gesekan, decitan, dan suara desahan pelan, berasal dari luar kamarnya.
Jantung Adrian berdetak lebih cepat. Ia berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya. Lorong lantai dua gelap gulita, tapi ada seberkas cahaya remang dari kamar ayahnya.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Ada celah selebar tiga jari di sana.
Langkah Adrian berhenti tepat di depan celah pintu itu. Suara derit ranjang terdengar makin jelas, bercampur dengan desahan yang terasa berat.
Dengan tangan gemetar, Adrian mengintip ke dalam.
Matanya langsung terbelalak. Di atas ranjang besar yang dulunya tempat ibunya tidur, ia melihat pemandangan yang membuatnya muak. Ayahnya berbaring di sana. Di atas tubuh ayahnya, Arini bergerak naik turun.
Arini sudah tidak memakai apapun. Rambut panjangnya bergerak pelan mengikuti gerakan-gerakannya. Tubuhnya begitu mulus dan putih, ada sebuah tato mawar di bagian lehernya. Payudaranya yang besar nampak bergoyang-goyang.
Napas Adrian tertahan di tenggorokan. Rasa jijik dan amarah mendidih di kepalanya. Ibunya belum genap sehari pergi dari rumah, dan ayahnya sudah tidur dengan wanita lain di ranjang yang sama.
Arini mendesah pelan, menikmati setiap gerakan yang dia lakukan. Tepat pada detik itu, mata Arini menatap langsung dengan mata Adrian di celah pintu.
Adrian terdiam. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia mengira Arini akan terkejut, menarik selimut, atau menjerit panik karena kepergok oleh anak tirinya.
Tapi Arini tidak melakukan itu.
Arini hanya diam menatap mata Adrian.
Napas wanita itu masih memburu, pinggulnya masih bergerak seirama dengan ayahnya yang memejamkan mata di bawahnya.
Lalu perlahan... wanita itu tersenyum tipis ke arah Adrian, diikuti dengan kedipan mata.
Adrian mundur perlahan, kakinya lemas. Ia berbalik dan berjalan pelan kembali ke kamarnya, lalu mengunci pintu dari dalam.
Ia bersandar di balik pintu dengan napas terengah-engah, mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. Senyum itu. Kedipan mata itu. Wanita itu benar-benar gila.
---
Sinar matahari menembus jendela kaca rumah, tapi tidak ada lagi kehangatan yang tersisa di rumah itu seperti dulu.
Adrian turun ke lantai bawah dengan seragam sekolah putih abunya yang sedikit kusut. Ia menenteng tas ranselnya, berjalan menuju ruang makan.
Ayahnya sudah duduk, meminum kopi hitam pekat. Sebagai pemilik kebun kopi yang cukup kaya di desa ini, ayahnya memang punya kebiasaan memeriksa kebunnya setelah sarapan.
Arini ada di sana, mengenakan daster rumahan dan hijab instan. Sedang menyendokkan nasi goreng ke piring ayahnya. Ia terlihat biasa saja. Seolah semalam tidak melihat apapun.
"Duduklah, Adrian. Sarapan dulu." Suara ayahnya datar saat melihat Adrian berdiri di dekat tangga.
Adrian melangkah maju. Ia menarik kursi kayu dan duduk. Arini segera meletakkan sepiring nasi goreng di depannya dengan senyum lembut. Senyum yang sama persis dengan yang ia lihat di celah pintu semalam.
Adrian menatap piring itu, tangannya mendorong piring itu menjauh.
"Aku nggak mau makan makanan buatan perempuan ini," ucap Adrian dingin.
Ayahnya meletakkan cangkir kopi. "Adrian! Jaga bicaramu! Ayah sudah bilang, panggil dia Ibu!"
"Dia bukan ibuku!" bentak Adrian, suaranya menggema di ruang makan. "Ibuku pergi karena kalian berdua. Menjijikkan!"
Wajah ayahnya berubah merah padam. Rahangnya mengeras. Ia berdiri dari kursinya dengan cepat, menendang kursinya sendiri ke belakang. Tangannya terangkat tinggi di udara, bersiap menampar wajah anak remajanya itu.
Adrian hanya diam, menatap lurus ke ayahnya.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat. Tapi bukan ke arah Adrian. Arini menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng.
Tangan Ayahnya mendarat keras di lengan atas Arini, membuat wanita itu terhuyung dan menabrak pinggiran meja.
"Jangan, Mas! Jangan pukul Adrian!" seru Arini memelas, menahan lengan suaminya yang masih gemetar menahan marah.
"Minggir kamu, Arini! Anak ini harus diajari sopan santun!" bentak ayahnya.
"Tidak, Mas, kumohon. Dia masih syok ibunya pergi. Biarkan saja," Arini terus memohon, memeluk lengan suaminya agar tidak kembali melayang ke arah Adrian.
Adrian tetap diam di tempatnya. Matanya menatap Arini yang sedang melindunginya. Tapi tidak ada rasa terima kasih di sana. Tidak ada rasa kasihan. Hanya ada tatapan benci dan muak dengan segala drama yang wanita itu mainkan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adrian mengambil tas ranselnya dari atas kursi. Ia berbalik dan berjalan cepat keluar rumah, membanting pintu depan dengan keras.
Adrian menaiki sepedanya, mengayuh pedal dengan sekuat tenaga, meninggalkan pekarangan rumahnya.