Part 3

1018 Words
JOSHUA SMITH Aku sama sekali tidak menyangka jika hari yang kunantikan selama hampir enam tahun mengenal Kelly Anderson, tiba juga. Aku tahu perbuatanku yang sedikit memaksa ini, sangat tak pantas kulakukan. Tapi aku tidak bisa berhenti, terlebih ketika tubuh kami berdua sudah tak lagi mengenakan sehelai benang pun seperti sekarang. Aku membiarkan hasrat hewani dalam diriku mengambil alih logika dalam isi kepalaku dan juga memimpin wanitaku, "Ini akan terasa sedikit sakit, Baby. Tapi percayalah, aku tidak berniat melukaimu sama sekali." "Lakukanlah, Jooo... Jangan bicara la-Hemphhh..." Namun yang lebih dulu kulakukan adalah membungkam mulut cerewet Kelly yang begitu menggemaskan. Setelahnya, kejantananku pun kutuntun untuk menerobos masuk ke dalam kewanitaan Kelly, "ARGHHH...!" Lalu teriakkannya terdengar begitu keras, saat aku benar-benar berhasil menembus selaput perawannya. Oh, Tuhan! Ini sangat sempit dan begitu sesak. Aku yakin Kelly benar-benar kesakitan di bawah sana. Kutatap wajahnya yang menampilkan beberapa kerutan di kening, "Apa ini terlalu menyakitkan? Kau ingin aku menariknya keluar?" Kemudian kuputuskan untuk mengalah saja, daripada harus menyakitinya. Akan tetapi Kelly dengan cepat melingkarkan kedua kakinya di pinggangku, membuka kedua mata dan memohon padaku, "Jangan! Jangan lakukan itu, Jo. Biarkan seperti ini. Ak..u akuuu... Em, aku juga menginginkannya." "Benarkah? Oh, Sayang. Mungkin aku akan gila sebentar lagi." Sehingga pelan tapi pasti, aku pun menggerakkan pinggulku sembari menjawab perkataannya. "Argh, Jooo..." Teriakkan Kelly, terdengar lagi di telingaku saat itu juga. "Maafkan aku, Baby. Maafkan." Maka kali ini kuputuskan untuk membungkam lagi bibirnya, agar Kelly merasa sedikit rileks saat pinggulku terus bergerak. Benar saja. Beberapa saat kemudian, dapat kurasakan tubuh Kelly sudah tidak lagi meronta seperti tadi, dan aku pun melepaskan pagutanku untuk menikmati bagaimana ekspresi wajahnya saat pinggulku terus mencari kenikmatan untuk kami berdua. Akan tetapi saat hendak menganggat punggungku, "Peluk aku, Jooo... Ahhh... Kau...! Kau mau ke mana?" Kelly merengek seperti itu padaku, dan menampilkan wajah lugunya yang sangat menggemaskan. Tanpa banyak bicara, kucoba mengangkat tubuh Kelly agar posisi kami berubah menjadi terduduk di atas pangkuanku, "Argh, Jooo...!" Lalu hal itu kurasa semakin membuat Kelly menggila, karena nyatanya ia langsung menghadiahkan aku satu gigitan tepat di bahu kiriku. Oh, Tuhan. Ini memang teramat sangat nikmat. Kelly yang begitu sesak, benar-benar menghimpit kejantananku di bawah sana. Sampai-sampai entah sudah berapa kali aku berusaha menahan diriku untuk tidak segera meledak. Aku ingin membuat Kelly lebih dulu menikmati pelepasan pertamanya denganku, lalu kembali mendapatkannya sekali lagi. Di luar dugaan, Kelly ternyata membuatku begitu menegang saat ia meneriakkan namaku dengan begitu menggoda, "Joshua, pleaseee...!" "Sialan kau! Jangan lakukan itu lagi, Babyyy... Ahhh... Kau akan dihukum berat kali ini! Ughhh...!" Sampai hampir saja juniorku meledak di bawah sana. Kupacu pergerakan di pinggulku agar dapat bekerja dua kali lebih cepat dari yang tadi kulakukan, "Jooo...!" Lalu tak lama kemudian kudengar Kelly kembali meneriakkan namaku dan menggigit pundakku sekali lagi. Kendati terasa sedikit sakit, aku tak mau memedulikan gigitan itu dan terus saja memompa kejantananku. Tiga menit kemudian, kurasa dunia seakan kian mengerucut ke satu titik yang memaksaku harus semakin keras memacu, sebab pelepasan itu sudah berada di ujung tanduk. Dengan peluh yang menetes tanpa henti, "Oh, Yes! Kau sungguh sangat seksi, Kelly! Kau adalah milikku! Achhh...!" Akhirnya aku pun tumbang di atas tubuh Kelly setelah ia kudorong ke belakang. Memang aku sama sekali tak mendengar teriakkan lagi dari bibir Kelly setelah aku mencapai puncak. Akan tetapi pelukan Kelly yang semakin erat, membuatku paham jika ia juga sangat menikmati percintaan panas ini dan itu benar-benar kuanggap sebagai suatu keberuntungan. Saat hendak mencabut kejantananku, "Ah!" Barulah kudengar sebuah lengkuhan kecil dari pita suara Kelly. "Apa aku menyakitimu?" Aku bertanya dengan sangat hati-hati karena merasa bersalah padanya. "Ti..tidak. Aku... Em... Aku hanya terkejut saja tadi." Tetapi jawaban Kelly yang terbata, kini membuatku menjadi lega. Kukecup lembut kedua kelopak mata yang memiliki mata berwarna hazell yang begitu kusukai saat ia sedang memandangku, "Persiapkan dirimu, Kelly. Kurasa pernikahan kita akan dilaksanakan dalam waktu dekat, karena mungkin tubuhku akan sangat kecanduan dengan tubuh seksimu ini," Lalu aku beringsut turun dari tempat tidur, saat ponselku yang kuletakkan di dalam saku celana kerjaku. Nama Caroline Moore yang merupakan sekretaris pribadiku pun tertera di layar ponsel, lalu saat aku menyapanya, "Hallo?" "Hallo, Tuan Smith. Rapat dengan Tim dari The Charles Schwab Corporation akan di mulai setengah jam lagi. Aku menelepon hanya untuk mengingatkan hal itu, karena saat ini Anda belum juga terlihat." Ia berkata tentang jadwal rapat penting yang mengharuskan aku untuk hadir di dalamnya. Menghela napas berat setelah sempat mataku menoleh ke arah Kelly, sambungan telepon itu pun kuputuskan sesudah aku menjawabnya sekali lagi. "Aku akan sampai lima belas menit lagi. Siapkan segalanya dengan baik." Saat tubuhku belum juga bergerak ke arah lain, aku mendengar Kelly membuka suaranya untukku. "Aku tidak mengapa, Jo. Pergilah ke kantormu sekarang. Kau akan terlambat jika terus berada di sini." Maka aku pun membalas ucapannya dengan jawaban demikian, "Iya, Baby. Tadi aku sedang mengetik pesan agar Nuel menyiapkan satu mobil lagi untukmu, karena setelah rapat selesai aku ingin kau datang ke kantorku." "Untuk apa, Jo? Kau tahu kan aku harus menjaga Jose." "Untuk membawakanku makan siang, Kelly. Kau boleh datang bersama Jose dan juga Bibi Shena jika kau mau. Kau tidak keberatan, bukan? Apa kau ingin aku makan siang dengan wanita lain?" "Aku tidak mempermasalahkannya jika kau ingin makan siang dengan wanita lain, Tuan Joshua Smith yang terhormat. Toh itu hanya sekedar makan siang. Intinya aku adalah ibu kandung Jose dan aku tidak mau posisiku digantikan oleh orang lain, karena aku akan selalu merawatnya dengan sepenuh hati!" "Hahaha... You're the one I need, Baby. Believe me, okay? Cup!" Lalu kami berdua sempat terlibat sedikit percakapan, sebelum aku bergegas memeluk dan memberinya satu kecupan ringan. Ketika ia membalas pelukanku, kembali seulas senyum lebar terbit begitu saja dari bibirku, dan harus kuakui jika hal ini sangat jarang kulakukan. Saat Barbara masih hidup pun, tidak selalu aku dapat tersenyum dengan begitu lebar. Maka itu sejak tiga bulan kematian Barbara, aku sangat yakin jika Kelly adalah kebahagiaan yang selama ini aku cari, dan semoga saja ia pun merasakan demikian. Menyukaiku, menyayangiku dengan sepenuh hati atau bahkan tulus mencintaiku, bukan hanya karena aku adalah ayah biologis Jose.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD