BAB 7

1937 Words
“Aku mau lihat Mama.” Suara Elora terdengar serak akibat tangis yang tidak juga reda sejak tadi. Kedua tangannya mencengkeram kain seprai dengan begitu erat, sementara wajahnya pucat dengan deru napas yang masih naik turun tidak teratur. Dokter Hendra berdiri di samping tempat tidur didampingi oleh Arnav. Dokter senior itu melepaskan kacamatanya sejenak, lalu mengusap pangkal hidungnya dengan perlahan untuk mengusir penat. “Kita periksa matamu dulu ya, Elora,” ujar Dokter Hendra lembut. “Aku tidak mau diperiksa! Aku mau Mama!” “Elora, tolong tenang—” “Aku mau Mama!” Suara perempuan itu meninggi, beriringan dengan air mata yang kembali luruh membasahi pipinya yang lebam. Dokter Hendra tetap mempertahankan ketenangannya menghadapi histeria tersebut. “Kami perlu memastikan kondisimu terlebih dahulu.” “Kalau begitu tolong bilang kalau lampunya sedang mati,” bisik Elora lirih. Tidak ada yang menyahut. Elora menggigit bibir bawahnya erat-erat, meratapi keheningan yang mendadak terasa begitu mengintimidasi. Jantungnya kembali berdegup kencang diburu rasa takut. “Kenapa semuanya diam?” Arnav berdiri mematung di sisi ranjang yang hanya berjarak beberapa langkah dari posisi Elora. Ia mengenali setiap detail ekspresi itu, cara Elora menangis sambil menggigit bibir bawahnya masih sama persis seperti sepuluh tahun yang lalu. Dadanya mendadak terasa sesak dan terhimpit setiap kali mendengar isak tangis perempuan itu. Dokter Hendra mengambil penlight dari saku jasnya. “Elora, aku akan memeriksa refleks matamu sebentar. Bisa buka matanya?” “Aku bisa buka mata,” sahut Elora menantang. “Bagus.” Perempuan itu membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar, menatap lurus ke depan meski pandangannya nihil. Ruangan mendadak hening total saat Dokter Hendra mulai menyalakan berkas cahaya kecil itu dan mengarahkannya ke mata kanan Elora. Tidak ada reaksi. Pupil itu bergeming. Dokter Hendra memindahkan arah sorot lampu ke mata kiri. Tetap sama, tidak ada respons berarti yang ditunjukkan oleh netra indah tersebut. Arnav yang memperhatikan sejak tadi langsung mengerti arti klinis di balik pemeriksaan itu, membuat dadanya terasa kian mengencang. Dokter Hendra melanjutkan pemeriksaan menggunakan oftalmoskop untuk melihat bagian dalam mata. Sorot mata sang dokter senior berubah menjadi sangat serius. “Dok ...” bisik Arnav tertahan. Dokter Hendra hanya menggelengkan kepala dengan sangat pelan. Arnav tahu betul arti dari gerakan kecil itu—sebuah isyarat yang terlalu sering ia lihat selama bertahun-tahun menjadi dokter ketika sebuah kabar buruk tidak lagi bisa dihindari. Elora mulai merasakan gelagat yang tidak beres. Ia bergerak gelisah di atas kasurnya. “Kenapa kalian diam saja? Dok? Jawab aku! Aku baik-baik saja, kan?” Dokter Hendra perlahan menurunkan alat pemeriksanya. “Kita masih harus melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan lanjutan, Elora.” “Jangan pakai bahasa dokter!” Potong Elora dengan nada suara yang bergetar hebat. “Aku benci bahasa dokter. Jawab saja yang gampang, mataku kenapa?!” Keheningan kembali merayap, membuat jemari tangan Elora mulai gemetar tanpa kendali. “Dok ... kenapa semuanya diam? Apa ... apa aku buta?” Pertanyaan sederhana itu seketika membuat atmosfer di dalam ruangan terasa membeku. Arnav memejamkan matanya sesaat, merasakan dadanya seperti diiris pisau tajam mendengarnya. Dokter Hendra menarik napas panjang sebelum menyampaikan kenyataan pahit ini. “Elora, benturan keras saat kecelakaan kemarin menyebabkan kamu mengalami cedera kepala yang cukup berat.” “Terus?” “Terjadi gangguan serius pada jalur saraf penglihatanmu.” Elora menggelengkan kepala dengan cepat, menolak mencerna untaian kalimat medis tersebut. “Aku tidak mengerti. Katakan dengan bahasa yang gampang, mataku kenapa?!” Dokter Hendra menatap perempuan malang di depannya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba. “Penglihatanmu hilang akibat trauma benturan itu, Elora. Kami menemukan tanda-tanda kerusakan pada jalur saraf optikmu.” Seketika itu juga, tubuh Elora membeku total. Dunia yang selama ini ia kenal dan agungkan mendadak runtuh tanpa sisa dalam sekejap mata. Vonis itu mengakhiri segalanya. Artinya tidak akan ada lagi panggung balet, tidak ada lagi cermin besar tempatnya berlatih di studio, dan tidak ada lagi pendar lampu sorot yang hangat. Semua mimpi yang telah ia bangun dengan peluh sejak usia belia kini resmi ditelan oleh kegelapan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Aku tidak mengerti ...” Elora mendadak tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada suara tangisannya. “Ngadi-ngadi. Ini tidak lucu, Dok. Tolong jangan bercanda.” Dokter Hendra tetap memilih bungkam, membiarkan realitas itu meresap perlahan. Air mata kembali meleleh dari kedua mata Elora yang menatap kosong ke langit-langit. “Kalian sedang bercanda, kan? Tolong bilang kalau ini cuma candaan ... Tolong ...” Suara perempuan itu melemah, berangsur menjadi bisikan putus asa yang rapuh. “Tolong ...” Mendapati tidak ada satu pun suara yang membantah vonis tersebut, emosi Elora akhirnya pecah. Tangannya mulai bergerak liar meraba dan mencakar udara di depannya. Brak! Gelas plastik di atas meja nakas samping ranjang tersenggol hingga jatuh dan isinya tumpah ke lantai. “Bohong! Aku bisa melihat! Aku pasti bisa melihat!” Brak! Sapuan tangannya yang tak tentu arah kini membuat kotak tisu ikut terlempar ke lantai. Seorang perawat buru-buru melangkah maju untuk menahan pergerakan tubuhnya yang mulai tidak terkendali. “Mbak Elora, tenang dulu, Mbak ...” “Jangan sentuh aku! Pergi!” Jerit Elora histeris dengan tangis yang meledak hebat. “Aku tidak buta! Aku tidak mungkin buta, aku seorang balerina! Aku ada pertunjukan besar bulan depan, aku latihan setiap hari! Aku belum selesai dengan mimpiku!” Layar monitor jantung di samping tempat tidur mulai mengeluarkan bunyi bip yang kian cepat dan melengking, mendeteksi lonjakan emosi pasien. Arnav akhirnya tidak bisa lagi tinggal diam, ia melangkah maju mendekati sisi ranjang. “Elora.” Panggilan dengan nada suara yang rendah dan dalam itu seketika membuat histeria Elora terhenti selama beberapa detik. Ada sensasi aneh yang mendadak menyengat benaknya, suara itu terasa begitu familiar, sangat lama, dan datang dari tempat yang sangat jauh di masa lalunya. Sayangnya, kepalanya saat ini terlalu pening dan kacau untuk bisa mengingat dengan jernih. “Siapa ... siapa itu?” Tanya Elora dengan kening berkerut. Arnav menahan napasnya di tenggorokan sebelum menjawab singkat, “Dokter yang menangani kamu.” “Bohong ... Suaramu ...” Elora mengernyitkan dahi, mencoba mencari arah asal suara. “Kita pernah ketemu sebelumnya?” Arnav sempat membeku di tempatnya berdiri sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab dengan intonasi sedatar mungkin demi menjaga jarak profesional. “Fokus ke pemeriksaanmu dulu saat ini.” Jawaban itu justru membuat batin Elora semakin gelisah. Karakter suara pria di dekatnya ini terasa begitu dekat, seolah-olah pernah menjadi bagian penting dalam sejarah hidupnya, namun kepalanya mendadak berdenyut nyeri setiap kali ia mencoba memaksakan ingatan itu muncul. Dokter Hendra memberikan kode mata kepada Arnav untuk keluar ruangan sejenak. Kedua dokter itu melangkah meninggalkan kamar observasi, dan begitu pintu panel tertutup rapat, Arnav langsung mengusap wajahnya dengan kasar demi membuang sesak. “Dok,” panggil Arnav. “Ya?” “Apakah masih ada kemungkinan untuk sembuh?” Dokter Hendra terdiam sejenak sebelum menyahut, “Secara klinis, kita belum bisa menyimpulkan apakah kerusakan ini permanen atau tidak.” “Tapi?” “Tanda-tanda awal pada saraf optiknya sama sekali tidak bagus, Arnav.” Arnav memalingkan wajahnya ke arah lain, menatap koridor rumah sakit yang mulai ramai oleh aktivitas shift pagi. Sinar matahari fajar bahkan belum sepenuhnya muncul menembus jendela kaca selasar. “Kita harus segera menjadwalkan tindakan MRI orbital dan kepala untuknya,” ujar Dokter Hendra. “Ya, Dok.” “Evaluasi menyeluruh pada saraf optiknya juga harus diprioritaskan.” Arnav mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di dalam saku jas putihnya. “Apakah benar-benar tidak ada peluang sekecil pun untuk membaik?” Dokter Hendra menatap residen andalannya itu dengan pandangan mendalam. “Kamu seorang dokter, Arnav. Kamu tahu sendiri jawabannya seperti apa tanpa perlu saya jelaskan lagi.” Arnav melepaskan tawa hambar tanpa suara, merutuki nasib b******n yang sedang bermain-main dengannya saat ini. Kenyataan pahit ini entah bagaimana terasa jauh lebih menyiksa batinnya dibandingkan hari ketika sang ibu mengembuskan napas terakhir di rumah sakit ini. Padahal, selama sepuluh tahun ini ia merasa telah berhasil membuang nama Elora dari lembaran hidupnya. Ia telah membakar semua foto kenangan, menghapus nomor telepon, dan memutus semua jembatan yang menghubungkan mereka di masa lalu. Ia mengira dirinya sudah sepenuhnya move on, namun fajar ini membuktikan bahwa ia keliru besar. Pintu ruang perawatan mendadak kembali terbuka, dan suara tangisan Elora yang memilukan kembali terdengar memecah keheningan koridor. Isak tangis itu seketika membuat langkah kaki Arnav terhenti total. Suara perempuan itu terdengar pecah dan begitu rapuh. “Aku mau Mama ... Aku mau Papa ... Aku takut ...” Arnav menundukkan kepalanya dalam-dalam, ingatan tentang masa sepuluh tahun lalu mendadak berputar otomatis di otaknya. Saat itu, seorang gadis SMA mengenakan seragam putih abu-abu menangis tersedu-sedu di depannya hanya karena gagal lolos seleksi balet tingkat nasional. Waktu itu, Arnav muda hanya tertawa kecil melihat kesedihannya. “Kamu menangis seheboh ini cuma gara-gara masalah itu?” Elora memukul lengannya kesal dengan mata berkaca-kaca. “Kamu tidak mengerti, Arnav! Kalau aku gagal di balet, duniaku rasanya sudah selesai!” Arnav tersenyum lalu mencubit gemas hidung gadis itu. “b**o. Dunia kamu itu bukan cuma tentang balet.” “Terus tentang apa?” “Tentang kamu.” Elora tertawa mendengar gombalan kasual itu, membuat sepasang mata indahnya berbinar bahagia di bawah naungan pohon flamboyan. Gadis itu kemudian meraba saku jaket Arnav. “Lagu apa yang sedang kamu dengarkan sekarang?” Arnav melepaskan sebelah earphone miliknya lalu memasangkannya ke telinga Elora. “You Are The Reason.” Elora tersenyum lebar dengan pipi yang merona merah. “Cheesy banget seleramu.” “Kamu malu mendengarnya?” “Tidak. Aku suka.” Memori s*****l dan manis itu hadir begitu nyata di kepala Arnav, terasa sangat dekat seolah baru terjadi kemarin sore. Arnav memejamkan matanya rapat-rapat, dulu ia gagal menjaga perempuan itu, dulu ia memilih pergi dan menghilang dengan cara yang b******n. Kini, takdir membawa Elora kembali ke hadapannya dengan kondisi dunia yang sudah berubah menjadi gelap gulita. Pintu ruang perawatan kembali terbuka lebar, memperlihatkan seorang perawat yang keluar dengan gurat wajah panik. “Dokter Arnav!” Arnav langsung menoleh dengan sigap. “Ada apa?” “Pasien terus-menerus menangis histeris dan indikator tekanan darahnya terus melonjak naik, Dok!” Dokter Hendra mengangguk cepat ke arah Arnav. “Kita masuk ke dalam sekarang.” Arnav melangkah mengikuti sang konsulen, namun langkahnya mendadak terkunci di ambang pintu saat melihat kondisi di dalam kamar. Elora tampak sedang duduk meringkuk di atas ranjang sambil memeluk erat kedua lututnya sendiri. Rambut panjangnya berantakan, dan air mata terus mengalir membasahi pipinya yang pucat. Wajah cantik yang dulu selalu dipenuhi oleh senyuman manis kini terlihat begitu rapuh dan hancur. “Papa ... Mama ... Aku takut ...” Kalimat itu terus diucapkan berulang kali seperti bisikan tanpa henti. Realitas b******n ini bukan tentang mereka yang hatinya patah akibat kehilangan cinta masa lalu, melainkan tentang seorang perempuan yang seluruh dunianya direnggut paksa hanya dalam waktu semalam. Arnav berjalan mendekati sisi tempat tidur. Logika manusianya mendesak untuk segera merengkuh tubuh rapuh itu, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan menegaskan bahwa dirinya ada di sini untuk menjaganya. Sialnya, ia tidak bisa melakukan hal itu karena statusnya saat ini hanyalah seorang dokter jaga, bukan Arnav yang dulu pernah dicintai oleh Elora. Belum saatnya untuk itu. Elora kembali terisak pilu dalam kegelapan matanya. “Aku takut ...” Mendengar suara yang begitu rapuh itu, Arnav akhirnya melangkah lebih dekat. Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun berpisah tanpa kabar, ia memberanikan diri untuk mengulurkan tangan dan menggenggam jemari dingin perempuan itu. Tepat ketika kulit mereka bersentuhan, tubuh Elora mendadak menegang seketika. Keningnya berkerut dalam, dan deru napas memburunya mendadak tertahan di tenggorokan. “Aneh ...” bisik Elora dengan suara yang sangat pelan. “Kenapa ... kenapa genggaman tangan ini rasanya familiar sekali?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD