Sejak Tante Maharani pergi, taman belakang rumah Suryadinungrat terasa seperti ruang kosong yang menelan suara. Ellya berdiri kaku di dekat bangku batu, kedua tangannya menggenggam rok di sisinya, tubuhnya gemetar bukan karena angin melainkan karena ancaman yang baru saja dijatuhkan kepadanya. Rumah ibunya—rumah satu-satunya yang masih menyimpan jejak masa lalu—akan dijual jika ia tidak menyerahkan empat miliar rupiah untuk “membeli” perdamaian dari tante yang seharusnya menjadi keluarga. Ancaman itu menggema di kepalanya, menekan napasnya, membuat telapak tangannya dingin. Ia mencoba menenangkan diri, namun matanya memanas. Dunia yang ia coba jaga rapuhnya mendadak runtuh. Langkah kaki lembut terdengar dari arah pintu kaca. Ellya mendongak cepat, menyeka sisa air mata sebelum menoleh. R

