“Aku tidak datang untuk bertengkar.” Kalimat itu keluar dari mulut Tante Maharani dengan nada tenang, hampir lembut. Ellya berdiri di seberangnya, di ruang tamu rumah besar Suryadinungrat, tempat yang terlalu luas untuk percakapan yang seharusnya pribadi. Dira dan Rena tidak ada di sana. Reza dipanggil mendadak ke kantor pusat. Situasi yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. “Aku datang untuk mengingatkan,” lanjut Tante Maharani, duduk tanpa diminta. Ia menaruh tasnya di samping kursi, membuka kancing mantel, menghela napas ringan. “Kamu sekarang berada di posisi yang berbeda.” Ellya berdiri. Ia tidak duduk. Tangannya terlipat di depan perut, sikap yang tanpa sadar sering ia pakai saat kecil. Saat harus mendengarkan. Saat tidak boleh membantah. “Kalau ini soal Reza,” kata Ellya, “ak

