BAB 9 – Hari Pertama di Rumah Suryadinungrat

1478 Words
Pagi pertama setelah kembali dari pulau itu terasa lebih sunyi dari yang seharusnya. Rumah besar keluarga Suryadinungrat memang selalu megah dan tenang, namun hari ini, ketenangan itu terasa seperti tekanan yang menempel di udara. Seakan setiap sudut rumah ini sedang mengamati dua orang yang baru saja dipaksa masuk ke dalam garis hidupnya. Boat yang membawa mereka kembali merapat sebelum matahari terlalu tinggi, dan begitu kaki Ellya menyentuh dermaga rumah utama, ia merasakan udara berbeda—lebih berat, lebih penuh penghakiman. Reza berjalan di sebelahnya, memegang tas kecil berisi baju yang dibawa dari pulau. Ia melangkah perlahan, memandang ke kanan dan kiri dengan tatapan bingung, seperti tidak yakin ia boleh menyentuh lantai yang terlalu mengkilap ini. “Ini… rumah kita sekarang?” tanya Reza pelan ketika mereka masuk ke pintu utama. Ellya menatap ruangan luas yang sudah ia lihat semalam: chandelier besar tergantung di tengah, perapian marmer yang tidak pernah benar-benar digunakan, sofa putih dengan bantal-bantal rapi. “Iya,” jawabnya dengan suara kecil. Reza mengangguk, mengusap tengkuknya. “Besar sekali… aku takut hilang.” Untuk pertama kalinya sejak semalam, Ellya tersenyum tipis—senyum kecil yang muncul bukan karena bahagia, tetapi karena Reza berhasil membuat ruang itu terasa sedikit lebih manusiawi. Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Dira muncul dari tangga atas dengan langkah mantap dan ekspresi yang menghakimi. Rena menyusul dari ruang makan, memeluk lengan dengan dagu yang terangkat. “Kalian sudah datang,” kata Dira tanpa senyum. “Ayah menunggu di ruang kerjanya nanti siang.” Ellya langsung menegang. Reza hanya mengangguk menurut. “Baik, Kak…” Dira menatap keduanya dari kepala sampai kaki, seolah menilai apakah mereka pantas berdiri di rumah itu. “Bereskan diri kalian. Kamar kalian ada di lantai dua. Reza, kamarmu yang lama diisi ulang. Dan Ellya… tujuanmu jelas di kamar suamimu.” Nada itu menusuk jantung Ellya. Ia menunduk, menahan napas. Rena menambahkan dengan sarkasme halus, “Semalam kalian tidur satu ranjang, kan? Masa sekarang jadi malu-malu?” Ellya memerah. Reza menatap Rena dengan bingung, tidak mengerti kenapa ia berkata begitu. “Kak Rena… kami cuma tidur,” jawabnya jujur. Rena tertawa kecil, mengejek. “Ya, tentu.” Dira mengibaskan tangan. “Pergi. Rapikan barang kalian. Nanti ada instruksi lagi.” Keduanya naik tangga dalam diam, langkah mereka terdengar terlalu keras di lorong yang panjang. Reza memandang sekeliling dengan mata besar—terkesima dan gugup sekaligus. “Dulu aku jarang di sini,” katanya pelan. “Aku lebih suka kamar kecil di belakang.” “Kamar kecil?” Ellya mengulang. Reza mengangguk. “Yang dekat kebun. Ada banyak burung. Aku suka di sana. Kak Dira bilang aku berisik kalau di rumah utama.” Ellya ingin memeluk laki-laki ini. Ia ingin menahan Reza dari dunia besar yang suka menilainya tidak adil. Tapi ia hanya tersenyum kecil. “Sekarang kamu di sini. Bersamaku.” Reza berhenti sejenak, menatapnya, lalu tersenyum canggung. “Iya… aku… suami kamu.” Kalimat itu membuat d**a Ellya terasa aneh—bukan bahagia, bukan juga sedih. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Mereka masuk ke kamar besar Reza. Kamar itu rapi, luas, dinding putih, rak buku sedikit berantakan, dan balkon menghadap taman. Seprai biru lembut sudah terpasang, dan di salah satu meja kecil ada foto lama Reza kecil dengan ibunya—satu-satunya foto yang tampak pribadi. Reza meletakkan tasnya, kemudian menatap ranjang besar itu. Ellya langsung merasa canggung. Ingatan tentang malam sebelumnya—dua orang di ranjang tanpa berbicara banyak—membuat pipinya panas. Reza duduk di tepi ranjang dengan hati-hati, seperti takut merusaknya. “Kamu mau tidur di kiri atau kanan?” Pertanyaan sederhana itu membuat Ellya tertawa kecil dalam hatinya. “Aku… di kiri saja.” Reza mengangguk. “Aku di kanan… karena aku selalu bangun lewat sana.” Lalu hening. Hening panjang. Canggung. Menyiksa. Ellya membuka jendela, membiarkan angin masuk. “Segarnya…” Reza berdiri di belakangnya, menatap luar jendela. “Indah sekali taman ini… Dulu aku nggak boleh masuk taman depan.” “Ellya menoleh. “Kenapa?” Reza mengangkat bahu. “Kak Dira bilang aku bisa nyasar.” Ellya menelan ludah. Ia tahu keluarga ini keras, tapi mendengarnya langsung… lebih menyakitkan daripada yang ia duga. “Reza,” panggil Ellya pelan. “Kamu boleh ke mana pun yang kamu mau sekarang.” Reza tersenyum kecil. “Karena kamu ikut, ya?” Ellya terhenyak, lalu mengangguk pelan. “Iya.” Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Reza bahwa ia mungkin satu-satunya orang di rumah itu yang tidak akan membuatnya merasa bodoh. Ketukan pintu memutus momen itu. Mbak Ningsih, kepala pelayan, muncul. “Nyonya Ellya, Mas Reza… sarapan sudah disiapkan di ruang tengah. Nanti jam dua siang Pak Rully ingin bicara.” Ellya mengangguk sopan. Reza mengucap terima kasih sambil membungkuk kecil—hal yang membuat Mbak Ningsih tersenyum iba. Mereka berjalan ke ruang makan. Di meja panjang, hanya ada empat kursi yang disiapkan: untuk Ellya, Reza, Dira, dan Rena. Rully belum datang. Suasana mencekam, meski aroma masakan pagi mengisi ruangan. Dira duduk dengan tablet di tangan. Rena menggulir ponselnya dengan ekspresi tidak tertarik. Ellya dan Reza duduk bersebelahan. Reza menggenggam sendok salah arah. Ellya memperhatikannya, lalu pelan-pelan membantu membenarkan posisinya. “Begini…” katanya. Reza tersipu, mengangguk. “Oh… aku lupa.” Dira melihat itu dari ujung mata dan menghela napas keras. “Astaga… bahkan makan pun dia harus dibantu.” Rena menimpali dengan sinis, “Beruntung ya, Ellya. Kamu dapat suami yang lucu.” Lutut Ellya melemah, bukan karena malu, tetapi karena rasa tidak adil yang terus menggigit. “Sudahlah,” ujar Ellya pelan, mencoba menjaga nada. “Tidak apa membantu.” Dira menatapnya dingin. “Kami harap kamu tidak memanjakan Reza. Dia sudah cukup merepotkan tanpa kamu ikut membuatnya manja.” Reza menunduk dalam-dalam. “Maaf, Kak Dira…” Ellya merasakan sesuatu meledak kecil dalam dadanya. Selama ini ia ingin menjauh dari hidupnya karena dikendalikan tante… tetapi ternyata ia masuk ke rumah yang jauh lebih keras. “Reza tidak merepotkan,” Ellya berkata lebih tegas dari yang ia rencanakan. Dira berhenti makan. Rena mengangkat alis. “Aku bilang,” Ellya mengulang, “Reza tidak merepotkan.” Reza menatap Ellya cepat, seperti tidak percaya ada orang yang membelanya. Dira mendengus. “Kau masih baru di sini. Kau akan berubah pikiran.” Ellya menggenggam sudut serbetnya. “Aku tidak akan berubah pikiran.” Suasana menjadi lebih tegang. Namun sesuatu di wajah Reza berubah sedikit—bukan kecerdasan, bukan keberanian, melainkan rasa lega. Rasa… punya teman. Sarapan berlangsung dalam keheningan canggung. Reza makan perlahan, seperti takut menumpahkan. Ellya sesekali membantu mengambilkan lauk. Dira dan Rena berkomunikasi dengan tatapan—menyalahkan Ellya tanpa bicara. Setelah makan selesai, Reza bangkit duluan. “Aku… mau lihat kamar kecil di belakang… kalau boleh.” Dira memutar mata. “Terserah.” Reza keluar dengan langkah kecil, meninggalkan Ellya sendirian menghadapi dua perempuan yang memandangnya seolah ia maling yang sedang dinilai. “Aku tidak tahu,” kata Rena sambil menyilangkan tangan, “apa kamu ini benar-benar naif atau berpura-pura.” “Apa maksudmu?” tanya Ellya. Rena mendekat sedikit. “Reza itu… Reza. Kamu tahu maksudku. Dia bukan pria normal. Kamu harus tahu konsekuensinya.” Ellya menghela napas. “Aku tahu Reza tidak normal menurut kalian… tapi menurutku dia hanya berbeda.” “Itu cara halus menyebut bodoh,” potong Dira. Ellya menatapnya—pertama kalinya dengan tegas. “Tidak. Reza tidak bodoh. Dan kalau kalian masih menganggap dia begitu… mungkin kalian yang tidak pernah berusaha melihatnya.” Dira menegang. Rena terdiam. Dan untuk beberapa detik, hanya suara angin dari jendela yang terdengar. Ellya berdiri, merapikan gaun, dan melangkah pergi—meninggalkan kedua perempuan itu dengan wajah terkejut. Ia mencari Reza, melewati koridor panjang, hingga menemukan pintu kecil menuju taman belakang. Reza duduk di bangku kayu, memegang dedaunan kecil, tersenyum kecil seperti anak-anak. “Ellya! Ada burung kecil tadi. Lucu sekali…” Suara itu lembut. Tidak ada kecerdasan tersembunyi. Tidak ada kesadaran mendalam. Hanya kebahagiaan kecil. Ellya mendekatinya, duduk di samping. “Kamu suka di sini?” Reza mengangguk. “Di sini… aku rasa lega. Tidak ada yang marah.” Kalimat itu menusuk Ellya. Ia ingin menjawab sesuatu, tapi suaranya tercekat. Reza menatapnya, memiringkan kepala. “Ellya… kamu marah aku merepotkan?” Ellya menggeleng cepat. “Tidak. Sama sekali tidak.” Reza tersenyum malu-malu, membungkuk sedikit seperti ingin berterima kasih. “Kalau kamu tidak marah… aku senang.” Ellya tersenyum tipis. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, ia berkata jujur dari hatinya sendiri: “Reza… mulai sekarang, kita sama-sama belajar, ya? Kita… kita lakukan ini pelan-pelan. Tidak harus cepat.” Reza mengangguk. “Aku… mau belajar… jadi suami yang baik.” Hati Ellya hangat—tapi juga sakit. Karena yang duduk di sampingnya bukan laki-laki kuat yang bisa melindungi… …melainkan laki-laki lembut yang mungkin harus ia lindungi. Dan hari pertama mereka sebagai suami-istri dimulai bukan dengan cinta atau gairah… tetapi dengan kecanggungan, ketakutan, dan perlahan… sebuah rasa yang belum bernama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD