Hari itu, sinar matahari menembus jendela besar kamar, menyapu lantai marmer dengan lembut. Ellya bangun lebih pagi dari biasanya, meski tidurnya gelisah dan dipenuhi bayangan pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Hari pertama menjadi istri sudah cukup sulit—hari kedua justru terasa seperti hari pertama yang sebenarnya. Reza masih tertidur di sisi lain ranjang, memeluk guling dengan wajah damai dan sedikit mendengkur halus. Ia tampak seperti anak laki-laki yang tidak tahu apa-apa tentang dunia yang keras di sekitarnya. Melihatnya begitu tenang justru membuat d**a Ellya terasa lebih sesak. Karena hanya Ellya yang tahu betapa rusuhnya dunia di luar tidur Reza. Alih-alih membangunkannya, Ellya menutup selimut Reza sedikit lebih rapat dan keluar dari kamar. Ia butuh udara. Butuh ruang. But

