Kavi begitu senang. Ia memang ingin memberitahu Melody secepatnya. Karena berita bagus seperti ini akan membuat Melody merasa senang dan bangga padanya. Jika benar Anton akan berinvestasi di perusahaannya, ia merasa jauh lebih ringan. Melody terus mengkhawatirkan kebutuhan hidup mereka yang akan semakin banyak jika bayi mereka lahir nanti. Tak sampai empat bulan lagi. "Aku telepon Melody dulu," kata Kavi seraya mencari kontak istrinya. "Siap, Man. Anggap aja aku invisible." Kavi hanya meringis atas ledekan temannya itu. Ia segera menekan tombol panggil pada kontak Melody lalu menunggu beberapa saat. Tak lama, ia mendengar suara lembut Melody di seberang. "Halo, Sayang," sapa Kavi. Ia mengabaikan cengiran di wajah Anjar yang mendengarnya memanggil sayang pada Melody. "Ehm, Kakak baru n