Jarak Tak Kasat Mata
"Titip Audrey, ya, Yud."
"Ya, Tante," jawab Yudha percaya diri. Senyumnya lebar, seolah-olah dia adalah orang paling tepat di New York ini untuk dititipi anak tunggal Tante Suci.
Sebelum melangkah ke area imigrasi Bandara JFK, Tante Suci memeluk Audrey sekali lagi. Meninggalkan anak perempuan satu-satunya di belahan bumi yang jauh untuk pertama kali rupanya tidak pernah mudah, seberapa pun dewasanya Audrey sekarang.
"Kalau ada masalah apa-apa disini, langsung bilang sama Mama, ya, Drey. Atau paling dekat kasih tahu Yudha. Jangan dipendam sendiri sampai stres, ya Sayang."
Audrey tersenyum tipis. Kalimat itu rasanya sudah diulang ribuan kali oleh mamanya semenjak mereka tiba di Manhattan sebulan lalu untuk mengurus keperluan kampusnya.
"Iya, Ma. Mudah-mudahan aku nggak punya masalah apa-apa disini," jawab Audrey.
Yudha memperhatikan dari samping, sedikit menahan senyum. Biasanya Audrey selalu punya jawaban 'ngotot' untuk setiap nasihat orang tua. Hari ini dia mendadak jadi anak paling penurut. Lucu juga melihatnya.
Setelah lambaian terakhir, sosok Tante Suci akhirnya menghilang di balik pemeriksaan imigrasi. Audrey masih bergeming di tempatnya, menatap koridor kosong itu dengan helaan napas berat.
Yudha menepuk bahu Audrey pelan, membuatnya menoleh.
"Yuk, langsung cabut. Gue ada janji kumpul sama anak-anak."
Audrey menoleh. "Lo nganterin gue balik ke apartemen dulu, kan, Yud?"
"Ya enggak sempat dong. Lo ikut gue aja langsung."
"Kalau lo nggak sempat, gue bisa turun di stasiun terdekat aja. Ntar gue lanjut naik subway," usul Audrey ragu.
Yudha berdecak, menggeleng heran. "Baru hitungan menit nyokap lo nitipin lo ke gue, masa langsung gue telantarin lo di jalan? Yang bener aja, Au."
Audrey melirik tajam.
"Bisa nggak stop panggil gue, Au? Nyebelin banget dengernya."
Yudha nyengir.
"Itu kan jadi tombol emosi lo, auto darah tinggi."
Audrey mendengus kesal.
"Ya tapi maksud gue, tante Suci barusan nitipin elo ke gue, kan? Masa iya gue tinggal?" ulang Yudha lagi.
"Maksudnya nitip, bukan berarti harus lo bawa gue ke mana-mana juga, Yud. Kalo lo ada acara sama temen-temen lo kayak sekarang, gue nggak harus ikut juga, kok, gue mendingan pulang aja deh."
"Santai aja. Lo tetap ikut gue."
Audrey sebenarnya masih menimbang-nimbang karena ia sangat tahu diri. Di dalam geng Yudha, ada yang namanya Ivy. Audrey sangat tahu kalau ia tidak akan disambut hangat oleh Ivy, walau teman yang lain terlihat baik-baik saja dengan kehadirannya, dan dia sama sekali tidak berniat membuat Yudha jadi canggung di antara mereka.
"Beneran nggak apa-apa, Yud?"
"Lo kenapa jadi nggak enakan, sih? Mereka semua kan juga sudah kenal sama lo. Lagian ini tuh cuma nongkrong biasa aja, nggak ada agenda apa-apa, kok."
Setelah mempertimbangkan dengan cepat dalam diamnya, Audrey akhirnya mengangguk pasrah,"Ya udah, deh."
Mereka berjalan beriringan menuju area parkir. Semuanya terasa biasa saja, seolah perpisahan dengan mamanya di bandara barusan bukanlah hal besar yang harus ditangisi. Apalagi sekarang Yudha langsung membawanya masuk ke dalam pergaulannya di sini.
Harusnya semua santai.
Satu jam kemudian mobil Yudha akhirnya berhenti di depan sebuah kafe bergaya industrial di kawasan Astoria. Begitu melangkah masuk, Audrey langsung bisa mengenali tawa keras Oman dan Asraf dari salah satu meja. Di sana juga sudah ada Debbi dan tentu saja, Ivy. Mereka itulah gengnya Yudha disini.
Ini bukan pertama kalinya Audrey bertemu mereka. Dia sudah tahu plotnya, Oman dan Asraf adalah teman pertama Yudha saat pertama kali tiba di New York. Debbi adalah sahabat kuliah Ivy dari Indonesia. Dan Ivy ... dia adalah mantan pacar terindah Yudha zaman SMA yang sampai sekarang statusnya masih tetap mantan, tapi dalam satu circle. Semua orang di geng ini juga tahu sejarah Audrey, si anak cengeng korban bully Yudha waktu TK yang tiba-tiba ketemu lagi disini. Tidak ada yang istimewa diantara mereka.
"Nah, itu dia bos datang!" seru Oman begitu melihat Yudha mendekat. Ia menggeser duduknya, menyisakan ruang untuk Yudha. "Kalian barusan dari airport? Mamanya Audrey udah pulang?"
"Iya sudah barusan," jawab Yudha sambil menarik tempat duduk di sebelah Oman, lalu menoleh ke Audrey,"Lo duduk disana aja, Drey."
Yudha menunjuk kursi kosong diantara Debbi dan Ivy.
Audrey yang berdiri di belakang Yudha sempat ragu sesaat, sebelum akhirnya menarik kursi kosong di sebelah Debbi. "Halo semuanya," sapa Audrey ramah.
"Audrey! Jangan sedih ya ditinggal pulang sama nyokap lo, sini duduk dekat bang Asraf," jawab Asraf mencoba bercanda.
"Sejak kapan lo jadi abangnya Audrey?" tanya Yudha.
"Sejak barusan, Yud."
Oman dan Asraf tertawa, Yudha hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum, sementara Audrey juga ikut tersenyum tipis.
Ivy yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, perlahan mendongak. Matanya melirik Audrey dari ujung rambut sampai ujung kaki, sebelum melemparkan senyum yang dipaksakan. "Tumben Audrey ikut? Gue pikir langsung balik ke apartemen."
"Uhm ... tadinya sih gitu. Tapi Yudha ngajak mampir dulu ke sini," jawab Audrey jujur.
Ivy tidak membalas ucapan Audrey. Dia justru menoleh langsung ke arah Yudha, menatapya sambil bersandar dikursinya.
"Yud, lo gimana, sih? Audrey pasti capek habis dari bandara, bukannya diantar balik dulu. Manja banget sih lo, apa-apa harus ditemenin," ucap Ivy dengan nada bercanda, tapi ada sindiran tajam yang terselip di sana.
Ia memang tidak suka dengan kehadiran Audrey, tapi tidak mungkin frontal menolak kehadirannya. Bagi Ivy, Audrey itu tipe cewek yang 'sok asyik'. Baru tiba di New York beberapa minggu tapi sudah bisa masuk ke lingkaran pertemanan mereka hanya modal status 'teman masa kecil'nya Yudha.
Yudha tertawa kecil menanggapi ucapan Ivy dan tidak menangkap sinyal kecemburuan mantan kekasihnya itu. "Bukan gitu, Vy. Nyokapnya nitipin dia ke gue tadi di JFK. Tega banget gue kalau langsung nurunin dia di jalan. Lagian biar Audrey makin akrab juga sama kalian."
"Eh kita akrab-akrab aja, ya kan, Drey?" sahut Ivy santai sambil memutar-mutar sedotan di gelasnya.
Audrey hanya tersenyum. Walau ingin membantah karena merasa tidak seakrab yang dikatakan Ivy, tapi ia sedang malas menanggapi.
"Gue cuma kasihan Audrey-nya aja. Dia pasti capek, lagian obrolan kita juga pasti belum nyambung sama dia. Takutnya dia malah bosan."
Kalimat Ivy membuat meja itu mendadak agak hening. Oman dan Asraf pura-pura sibuk meminum kopi mereka, sementara Debbi memilih melihat ke arah jalanan. Mereka semua tahu Ivy sedang menandai wilayahnya, dan ini bukan yang pertama kali. Hanya Yudha yang tidak menyadari itu.
Audrey merasakan sejumput rasa tidak nyaman merayap di dadanya. Dia tahu diri. Dia tahu dia adalah orang asing di antara mereka. Tapi kan bukan salahnya juga sampai duduk diantara mereka sekarang ini, Yudha yang memaksanya untuk ikut.
"Nggak apa-apa kok, Vy. Lagian gue cuma sebentar aja, kok. Habis ini gue juga mau langsung pamit pulang naik subway," ucap Audrey, berusaha menjaga suaranya tetap tenang dan tidak merusak suasana.
"Tuh kan, bener kata gue. Lain kali tuh, Audrey jangan dipaksa ikut, Yud," potong Ivy cepat, langsung menatap Yudha seolah pendapatnya seratus persen benar.
Yudha mengernyitkan dahi, menatap Audrey. "Beneran lo mau balik, Drey? Kita baru juga sampe."
Audrey memaksakan sebuah senyuman supaya terlihat santai. "Iya, Yud. Kayaknya gue mau ke supermarket juga. Tapi maksudnya nggak sekarang juga, gue kan belum pesen minum," jawab Audrey lalu tersenyum lucu.
Yudha mengangguk, lalu ia berdiri hendak pergi memesan minuman.
"Coffee Latte, less sugar, kan?" tanya Yudha ke Audrey.
Audrey mengangguk sambil mengangkat jempolnya.
"Yup ... thanks!"
Yudha mengangguk lalu menuju tempat pemesanan, karena di cafe ini sistemnya self service.
Hanya mendengar Yudha hafal minuman favorit Audrey sudah membuat Ivy membuang tatapannya pelan.
Saat ini sebenarnya Audrey sudah sadar, berada di dekat Yudha di New York ini ternyata tidak akan pernah sama dengan saat mereka masih kecil dulu. Di sini, ada jarak tak kasat mata yang dibuat oleh orang di sekitar Yudha, dan Yudha sendiri sepertinya tidak pernah menyadarinya. Tapi Audrey bisa merasakan.