3. Nyaris Saja!

886 Words
Tia merasa tubuhnya ringan. Sangat ringan. Ia merasa seolah sedang melayang di udara. Di sekelilingnya hanya ada kabut putih tebal yang menutupi pandangan. Ia berusaha berjalan, tetapi kakinya seperti tidak menyentuh apa pun. "Kak Tia..." Suara kecil itu terdengar samar. "Rima?" Tia menoleh ke segala arah. Namun tidak melihat siapa-siapa. "Kak Tia jangan tinggalin Rima ya..." Suara itu kembali terdengar. Hati Tia mencelos. Ia ingin menjawab. Tapi bibirnya terasa berat. Kabut semakin tebal. Dan semuanya kembali gelap. Sementara itu, sebuah mobil hitam melaju memasuki area parkir bawah tanah Hotel Paramount melalui jalur khusus yang tidak dilewati tamu biasa. Jason menyeringai puas dari balik kemudi. "Beres juga akhirnya. Berhasil juga kita ngelabuhin si Dex." Jason kembali menyeringai senang. Di kursi belakang, tubuh Tia terkulai lemah. Kepalanya bersandar ke jendela tanpa kesadaran penuh. Alvin melirik ke belakang. "Iya berhasil. Tapi kalo tadi kita gagal gimana?" Alvin berdecak. Jason tertawa pendek. "Selama ini gue nggak pernah gagal. Udah, nggak usah ngomongin yang belum terjadi. Lo mau ikut nyicipin nggak?" Jason menaikturunkan alisnya m***m. Alvin mendengkus. "Kalo nggak mau, gue nggak bakal bantuin lo tadi." Tak lama mobil berhenti di area privat. Beberapa staf hotel yang sudah mengenal Jason segera menghampiri. Salah seorang menyerahkan kartu akses kamar tanpa banyak bicara. Mereka sudah terlalu sering membantu pria itu. Dan selama ini tidak pernah ada masalah. Setidaknya begitu yang mereka kira. Jason dan Alvin lalu membawa Tia menuju lift khusus yang jarang digunakan tamu umum. Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah suite mewah di lantai atas. Pintu terbuka. Jason membaringkan tubuh Tia di atas ranjang besar yang empuk. Tatapannya langsung berubah m***m. Ia menyeringai seraya menggosok-gosok kedua telapak tangannya tidak sabar. Alvin bersandar di dekat pintu. Ia meringis melihat ekspresi Jason. Temannya ini memang pecinta wanita sejati. "Gue tunggu di lobby aja. Biar lo puas nyicipinnya." Alvin nyengir. Jason terkekeh. "Siap. Lo tenang aja. Gue pastiin gadis itu masih fresh saat gue serah terima ke lo nanti." "Bener ya? Jangan ntar udah ancur aja baru lo kasih ke gue. Ya udah gue ke depan. Inget Kalo udah selesai, langsung kabarin. Jangan lama-lama. Ntar dia keburu sadar." Alvin mengingatkan. "Iya. Nggak percaya amat sih lo," dengkus Jason tanpa mengalihkan pandangan dari ranjang. Alvin pun keluar lalu pintu ditutup. Kini di dalam kamar hanya tersisa Jason dan Tia. Jason melangkah mendekat ke ranjang. Menatap Tia yang tergolek lemah seolah-olah makanan yang lezat. Tepat saat ia hendak menyentuh gadis itu, bel kamar berbunyi. Jason berdecak kesal. "Sialan! Nggak sabar amat ini si Alvin. Belum juga ngapa-ngapain!" Jason menyumpah-nyumpah. Ia mengabaikan panggilan Alvin. Namun bel kembali berbunyi. "b******k bener ini si Alvin!" Dengan gerutuan panjang, Jason berjalan menuju pintu. "Lo ini nggak sabaran banget sih? Gue belum ngapa-ngapain tahu?" Jason membuka pintu kasar. Sejurus kemudian wajahnya langsung berubah pucat. Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi besar dengan tatapan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Riffat Herlambang. Putra tunggal Khalid Herlambang, pemilik Hotel Paramount ini. Ayah dan anak yang dikenal sebagai penguasa dunia malam-orang-orang yang namanya lebih baik tidak disebut sembarangan. Di belakang Riffat berdiri dua staf hotel- Dennis dan Lutfi yang biasa "membantunya. Keduanya tampak gemetar ketakutan. Satu lagi seorang perempuan berjas putih yang sepertinya seorang dokter. "P... Pak Riffat. Sa... saya..." Bugh! Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bogem mentah singgah wajahnya. Riffat menghajarnya! Kerasnya pukulan membuat Jason terhempas ke lantai. Jason memegangi rahangnya yang nyeri luar biasa. Belum sempat Jason bersuara lebih lanjut, Riffat masuk beberapa langkah ke dalam kamar. Tatapannya menyapu ruangan. Lalu berhenti pada sosok Tia yang terbaring tak berdaya di atas ranjang. Rahang Riffat mengeras. "Berani sekali Anda melakukan hal kriminal di hotel saya." Jason buru-buru bangkit. "Ini... tidak seperti Bapak kira. Saya... bisa jelaskan." Sambil menyeka hidungnya yang hangat karena darah yang mulai menetes, Jason coba membela diri. Melalui sudut mata, Jason melihat wanita berjas putih tersebut memeriksa keadaan Tia. Bugh! Pukulan kedua mendarat tanpa ampun. Jason kembali tersungkur. "Apa yang ingin Anda jelaskan?" suara Riffat terdengar rendah namun mengandung ancaman berbahaya. "Anda mau bilang kalau Anda telah memanfaatkan dua teman gadis ini untuk menjebaknya di Club Sky Light," Riffat menunjuk Tia. "Saya kebetulan ada di club tadi dan telah memeriksa CCTV." Riffat memberi clue. Wajah Jason makin pucat. Club Sky Light adalah club malam milik Riffat juga. Jason sadar, Riffat pasti telah melihat aksinya mengelabuhi Tia. "Anda mempedaya gadis ini di club saya dan membawanya ke hotel saya juga? Nyali Anda sungguh besar," pungkas Riffat dingin. Jason berkeringat dingin. Telinganya berdenging memikirkan akibat dari perbuatannya. "Saya salah, Pak." "Salah?" Tatapan Riffat menajam. "Anda telah melakukan perbuatan kriminal." Jason makin pucat. "Saya minta maaf." Mendengar kata polisi, seluruh keberanian Jason lenyap. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Apalagi tak lama kemudian dua polisi berseragam memasuki kamar dan meringkusnya. Sisa-sisa keberaniannya menguap dalam sekejap. "Pak polisi ... saya benar-benar minta maaf. Saya belum melakukan apa-apa pada dia." Jason meronta panik. "Jangan seperti ayam sayur kau!" Polisi itu menoyor wajah Jason yang sudah lebih dulu dihajar Riffat. "Nanti kau jelaskan aja semuanya di kantor. Jalan sekarang!" Sang polisi itu memiting leher Jason dan menggelandangnya pergi. Polisi lainnya menahan Dennis dan Lutfi yang sejak tadi berdiri gemetar di depan pintu. Selama ini mereka sering "membantu" Jason. Memberikan akses. Menyiapkan kamar. Dan pura-pura tidak melihat saat perempuan-perempuan mabuk dibawa masuk ke hotel. Riffat mendekat pada dua stafnya dan berkata dingin. "Mulai detik ini kalian dipecat."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD