bc

Meminang Luka Suamiku

book_age18+
28
FOLLOW
1K
READ
family
love after marriage
pregnant
arrogant
kickass heroine
drama
sweet
bxg
city
secrets
polygamy
lawyer
like
intro-logo
Blurb

Savia Aruni bilang dia sekarat. Kejujurannya tentang semua bantuan yang dikirim tanpa nama itu membuat Laila Alizah menanggung hutang budi juga hutang materi. Tapi Savia bilang, ia tidak datang untuk menagih bayaran. Ia datang sebagai seorang ibu yang ingin putri kecilnya hidup dengan pendampingan. Itu bukan omong kosong, sehari setelah Ijab Kabul atas nama Laila diucapkan suaminya, Arvano Zavian Malik, Savia pergi dengan tenang. Namun ketenangan itu tidak pernah ada untuk Laila. Jika Violet, gadis berumur lima tahun buah cinta dari Savia dan Arvano, menerima Laila sebagai ‘teman baru’ di rumahnya, lain dengan Arvano. Lelaki yang sudah jadi suaminya itu bahkan tidak pernah menganggapnya ada.Laila bertahan hanya dengan memikirkan hutang budi dan janji kepada orang mati. Empat bulan berlalu, Laila kira Vano hanya menunggu sampai seratus hari kepergian Savia, namun ia salah. Semakin ia menunggu, semakin Vano merentang jarak diantara mereka. Rumah tangga yang dingin itu berjalan begitu saja selama dua tahun, dan Rizam hadir, Art Director untuk Djati Publishing itu menatap dunia dengan kacamata yang sama dengan Laila. Rizam dengan fotonya, Laila dengan ilustrasi buatannya. Kontras pengabaian Vano dan perhatian Rizam membuat dunia Laila seperti dibolak-balik. Ia melihat jalan keluar dari bagaimana Rizam membuka pintu untuknya. Tapi saat Violet memanggilnya di tengah malam, ada sayang dan cinta yang sudah tertanam lebih dulu oleh penerimaan gadis kecil itu. Lalia harus memilih, jalan keluar yang membuatnya damai. Atau janji dan hutang yang tidak bisa ia lunasi?

chap-preview
Free preview
1| Cinta Seperti Apa
“Jadilah istri suami aku, La.” Bukan bertanya apa kabar, bukan bertanya bagaimana hidupmu selama ini. Tapi kalimat pertama yang meluncur dari mulut perempuan cantik di depan Laila ini adalah sebuah permintaan. Permintaan Savia yang berada di luar jangkauan nalar Laila. Laila tidak mengerti cinta seperti apa yang dimiliki oleh semua orang di keluarga ini, di dua keluarga ini. Yang bisa Laila lihat adalah bagaimana semua orang mencintai Savia tanpa syarat dan ketentuan. Sampai satu permintaan di luar nalarnya saja dituruti. Sampai permintaan Savia untuk menikahkan suaminya sendiri dengan gadis lain disetujui oleh semua pihak. Kecuali oleh satu orang. “Saksi sudah siap?” Seorang yang mengangguk itu adalah Radian Malik, om dari pihak lelaki, dari keluarga Malik. Seorang lainnya lagi yang menjadi saksi adalah paman dari Savia, Om Jainudin Adireja. Tidak ada wali yang mewakili Laila, hanya seorang wali hakim yang mengangguk pada gadis dengan gaun putih sederhana, riasan natural di wajahnya, dan rambut sanggul melati yang sama sederhananya. Di tengah ruang rawat inap bangsal VIP milik Savia yang disulap jadi tempat akad yang sederhana. Laila duduk di samping kiri Arvano, tenggelam dalam ingatannya tentang hari itu, saat Savia datang padanya. Dan hari ini, permintaan itu Laila setujui. Mata Laila melirik Savia yang duduk di atas tempat tidurnya. Sebuah selang melintang di bawah hidungnya, satu lagi di punggung tangannya. Perempuan itu tersenyum lemah, tapi tatapannya penuh dengan terima kasih yang tidak terucapkan. “Calon pengantin perempuan, sudah siap?” Pandangan mata Laila bergerak ke lelaki tua di depannya. Pak Penghulu yang bertanya, dan ia tidak punya jawaban lain selain mengangguk. Anggukan kecil yang bahkan tidak bisa ia anggap sebagai anggukan. Pak Penghulu mengalihkan tatapannya pada lelaki di sebelah Laila, Lelaki yang sama sedang menatap Savia dengan kedua matanya yang memohon. “Calon pengantin lelaki, Anda siap?” Hening. Sebelum suara bergetar lelaki itu terdengar. Parau. “Kamu siap?” tanya lelaki itu pada Savia. Mata Savia berkedip pelan, “Mas,” katanya lemah. Suaranya serak dan napasnya langsung tersengal hanya dengan satu kata pendek itu. “Arvano!” geram Pak Setya pelan, ayah Arvano itu menatap putranya dengan kesal. Lelaki itu menelan salivanya sekali lagi, sebelum memutuskan tatapanya pada Savia. Sebelum memutuskan tatapan pada istri yang paling dicintainya itu. Pernikahan ini tidak masuk akal untuknya. Tapi tidak ada permintaan Savia yang bisa ia tolak. Seperti semua orang, Arvano terlalu mencintai Savia. Dan itu membuatnya harus melakukan hal konyol ini. Menikahi perempuan yang dipilih sendiri oleh istrinya! Cinta ini jadi konyol untuknya! “Silakan genggam tangan Pak Wali” ucap Pak Penghulu. Bukan hanya suaranya, bahkan tangan Arvano bergetar saat terulur dengan setengah hati. “Kita tidak bisa melanjutkan jika anda tidak siap,” Pak Penghulu melihatnya. Kepala Laila semakin menunduk. Tangannya saling meremas di atas pangkuannya sendiri. Bibirnya sendiri bergetar, ia harus menggigit bagian dalam bibirnya untuk menahan gemetar itu terlihat. “Mas,” panggil Savia lagi, suaranya lebih lemah dari tadi. “Iya, Via Sayang! Aku siap!” Arvano menaikan nada suaranya, menatap Savia yang menutup matanya perlahan, “Pak, saya siap!” ucap Arvano dengan tangan yang lebih stabil, punggung yang lebih tegap, dan suara yang lebih yakin. Bunyi suara monoton bip-bip-bip dari mesin dan monitor di samping tempat tidur Savia memberi tahukan kalau perempuan itu masih hidup. “Saudara Arvano Zavian Malik, saya nikahkan dan kawinkan engkau pada –“ -.- “Kak Via bilang apa?” “Aku sekarat, Laila.” Laila tertegun. “Aku bisa aja mati satu menit lagi, aku bawa bom waktu di tubuh aku,” Savia tersenyum kecil. “Kak …“ Semilir angin pegunungan yang menyusup di antara kedua perempuan yang duduk bersebelahan itu menggoyangkan rambut mereka. Kontras antara rambut tak terawat milik Laila yang masih hitam dan lebat, dengan rambut salon Savia yang rontok oleh pengobatan yang dijalaninya. “Kamu ingat, La,” Savia menarik napas dengan susah payah sebelum melanjutkan ucapannya. “Enam tahun lalu waktu kamu pulang dan gak terusin kuliah saat Ama meninggal, waktu Abah kamu harus dioperasi, dan waktu Pak Burhan mengancam menikahi kamu karena sengketa lahan.” Mata Laila membulat. Semua hal itu, ia ingat semua kemalangan yang terjadi setelah ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan pulang ke desa. Semua hal yang rumit dan tidak terpikirkan oleh kepalanya tiba-tiba selesai. Abah yang harus dioperasi tiba-tiba bisa pergi ke rumah sakit yang lebih proper di kota, bisa bertahan selama lima tahun lagi di dunia sebelum meninggal empat bulan lalu. Masalahnya dengan Pak Burhan yang membuat kondisi Abah kembali ngedrop setahun yang lalu juga diselesaikan dengan sangat rapi. Anak buah Pak Burhan yang mendatanginya setiap hari, datang sambil menebar ketakutan kalau ia akan dinikahi tuan tanah berumur tujuh puluh tahun itu berhenti begitu saja dan sengketa tanah dengan Abah selesai begitu saja. “Kak …,“ suara Laila bergetar. Savia menoleh dengan senyum hangat yang Laila kenali. “Aku memang yang menyelamatkan kamu, Laila. Sekarang aku bukan datang sebagai orang baik yang akan menyelamatkan kamu lagi. Tapi sebagai ibu yang sekarat yang gak mau anaknya hidup dan tumbuh tanpa didampingi sosok seorang ibu.” Tangan Laila di pangkuannya diraih oleh Savia, perempuan itu mengabaikan cangkir teh manis yang dibuat paksa oleh Laila tadi. “Gimana bisa aku …,“ gagap Laila. “Kamu gadis paling baik yang pernah aku kenal, La. Gak ada siapapun yang terlintas di kepala aku waktu aku nyari siapa teman aku yang paling baik,” jujur Savia. “Aku memohon bukan sebagai Savia Aruni Adireja yang sudah menyelamatkan kamu. Ini, ini murni permintaan seorang ibu yang gak mau anaknya kehilangan sosok ibu. Aku datang sebagai seorang ibu yang ingin putrinya punya seseorang yang mendampinginya tumbuh.” Laila bisa melihat mata yang penuh cinta saat Savia melanjutkan ucapannya. “Juga sebagai istri yang terlalu mencintai suaminya.” -.- “Saya terima nikah dan kawinnya Laila Alizah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” Pak Penghulu menatap bergantian Pak Radian Malik dan Om Jainudin. Kedua saksi mengangguk. “SAH!” Pak Penghulu melafalkan doa sedangkan Arvano menarik napas, menoleh pada Savia yang tersenyum lemah di atas tempat tidurnya, perempuan setengah jiwanya, yang semua permintaannya tidak bisa ia tolak, yang semua inginnya adalah perintah untuknya. Sampai Arvano rela mengambil jalan seperti ini. Mata Laila menoleh ke arah yang sama, namun mata Savia hanya terpaku pada lelaki di sampingnya. Laila bisa melihat saat bibir Savia bergerak mengucapkan cinta tanpa suara. “I love you.” Dan saat itu juga, Laila merasa kalau ia sudah berada di tempat yang salah. Gaun putih sederhana yang dipakainya terasa menekannya. Bahkan wangi melati yang menggelung rambutnya terasa menusuk hidungnya. Laila kembali menunduk saat satu suara di sudut hatinya mengatakan ini tidak benar. “Laila,” panggil Savia pelan. Suara lemah itu menyaru di antara suara bip-bip-bip monoton dari bedside monitor yang menampilkan garis tak beraturan milik Savia. Kepala Laila yang tadi menunduk menatap tangannya yang bertautan di atas pangkuannya terangkat, kembali menatap Savia yang lemah di atas tempat tidurnya. “Laila, temanku yang paling baik, terima kasih.” Dan ucapan Savia itu membuat air mata yang merebak di pelupuk mata Laila sejak tadi jatuh luruh di pipinya. Ini hutang budi yang sedang dibalasnya. Ini balasan hutang budi yang tidak bisa Laila lunasi sampai kapanpun. -.-

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook