“Adik kecil, namamu siapa?” Alih-alih menuruti permintaan si anak, Rheana semakin jauh dari ranjang dan menghampiri anak itu lalu berjongkok.
“Leon,” jawabnya singkat.
“Ah, Leon,” Rheana tersenyum. “Namanya cakep, gagah seperti singa,” komentarnya dengan kedua tangan terangkat, jari-jarinya menekuk serupa cakar singa, wajahnya juga lucu sekali mengerut, memperagakan ekspresi singa yang garang.
Di tempatnya berbaring, Tama menahan senyum geli melihat interaksi itu.
“Tapi, kenapa kamu manggil aku momy?” tanyanya setelah melihat anak itu rileks.
“Hm,” Leon melipat tangan di d**a, satu tangannya terangkat dengan jari telunjuknya mengetuk dagu. “Papa sering cerita, istri Papa itu adalah teman masa kecil yang bercita-cita jadi dokter. Papa juga punya foto, jadi aku bisa kenali Momy,” jelasnya dengan polos sekali.
Rheana sampai diam dibuatnya, berpikir yang dimaksud Leon itu adalah dirinya? Istri papa? Dia? Rheana mendelik pada Tama yang hanya menonton dari atas ranjang.
“Terus, Papa bilang Momy belum bisa ketemu karena Momy jauh. Papa juga sering ngeluh, rindu Momy.”
Wah! Cerdas sekali ini anak sampai membuat Rheana takjub. Dia berpikir, apa yang Tama berikan pada anak itu sampai pandai sekali bicara lancar, bahkan terkesan manis sekali.
“Momy, Grandma bilang kalau sakit harus dipeluk. Jadi Momy harus peluk Papa karena sakit.”
Wah! Semakin takjub saja Rheana pada anak itu yang pintar sekali memilih kosa kata untuk disampaikan membuat Rheana sekali lagi mendelik tajam pada Tama yang menahan senyumnya.
“No. Tidak, Sayang. Papa kamu itu … ,” Rheana melirik Tama lagi, memilih kata untuk mengatainya tanpa melukai perasaan anak itu. “Brengsek.” Ah, tentu saja, hanya dalam hati dia mengatakannya. “Tidak bisa aku peluk,” katanya halus menolak.
“Kenapa? Momy nggak suka Papa?” Todong Leon berani.
Rheana sampai menampilkan senyum canggung. Bagaimana dia bisa terjebak di sana? Dia melirik suster di sana, tapi si suster malah pamit dengan alasan ada tugas lain yang harus di cek. Melirik asisten Tama, pria itu juga malah pamit dengan alasan terima telepon padahal dering saja tidak ada, malah kebalik pula posisi ponselnya. Dia melirik Hanin yang malah cuek, menahan kikik geli dan akhirnya pamit, dia akan menunggu cerita Rheana perihal itu. Ah, benar-benar.
“Tapi aku bukan istri Papa kamu. Kamu juga bukan anak aku,” kata Rheana mencoba menjelaskan posisinya.
Namun sialnya. Anak itu justru menangis membuat Rheana kelabakan. “Aku bukan anaknya Momy? Lalu siapa? Papa bilang ibuku adalah Momy.”
“Tama sialan!” Rheana mengumpat dalam hatinya dengan mulut terkatup rapat menahan kesal dan marah pada pria itu.
Hubungan mereka bahkan tak sedekat itu, tapi Tama membuatnya seolah dekat bahkan mengatakan dia istrinya. Apa tidak keterlaluan? Secara tak langsung Tama mendoktrin Leon bahwa ibunya adalah Rheana dengan menunjukkan foto dirinya? Uh.
Tapi Rheana membiarkan Leon menangis, dia tetap di sana, berjongkok, menunggu sampai anak itu selesai, di tempatnya Tama diam. Dia menatap Rheana dengan tatapan lain dari biasanya. Sesuatu yang tak bisa dikatakan dalam satu kalimat tapi cukup besar untuk dirasakan.
“Sini peluk,” ujar Rheana kala Leon berhenti menangis. “Jangan menangis lagi. Aku tidak bermaksud mengatakan itu tadi. Tapi, aku memang bukan ibumu. Kamu … anaknya Tama.”
“Tapi, anak itu kan tak harus yang dilahirkan?”
Rheana lantas melepas pelukan, menatap anak itu. “Apa maksudmu?”
“Ibu guru bilang, untuk jadi anak, seseorang tidak perlu melahirkan anak. Kamu mungkin tidak melahirkan aku, tapi Papa yang memilihkan aku ibu,” tuturnya yang membuat Rheana tak habis pikir.
Ini anak jenius atau apa?
“Iya, memang begitu. Tapi aku dan papamu itu … ,” Rheana menjeda sambil mengusap air mata di pipi Leon dengan lembut. “Kami tidak … .” Dia tidak melanjutkannya, tersenyum pada Leon yang menatapnya lamat. “Ah, tidak apa-apa. Kamu ingin aku melakukan apa?” Dia mengalihkan topik.
Sesaat Leon diam, dia melirik Tama. “Peluk Papa. Momy harus peluk Papa,” katanya.
“Ah?” Tapi, itu tidak masuk akal, bukan? Bagaimana mungkin anak itu tiba-tiba memintanya memeluk ayahnya yang jelas saja bagi Rheana itu tidak mungkin. Hubungannya dengan Tama tidak begitu dekat, sebenarnya mereka musuhan sejak saling kenal beberapa tahun silam. Jarak usia mereka terpaut 3 tahun, Tama tengil, suka menggoda membuat Rheana emosi karenanya.
Rheana hanya bisa nyengir. Ada apa dengan hari ini? Entah sial atau untung?
“Jika, aku peluk, ada hadiahnya?” Rheana tahu kalau Leon pintar.
“Momy mau apa?” Anaknya menanggapi. Senyum Rheana terbit.
“Hm. Jangan panggil aku Momy lagi, bagaimana?”
Leon cemberut, matanya berubah tajam. Tampaknya anak itu marah.
“Leon, biar Papa aja yang kasih Momy hadiah, bagaimana?” Tama menyahut dari tempat tidurnya.
Leon menoleh, begitu pula dengan Rheana.
“Kau mau apa?” Tama masih bertanya pada Leon.
“Adik,” jawabnya singkat, padat, dan jelas.
“Hah?” Rheana jelas saja shock.
“Deal!” Tama jutsru setuju.
“Hei, hei! Apa yang kau lakukan?” Rheana berdiri, berjalan paksa pada Tama yang menyibak selimut, bahkan mengeserkan kakinya untuk turun dari ranjang. “Nggak usah ngaco, Tam!” seru Rheana tajam.
Tapi Tama malah tersenyum. “Berbaliklah, Leon. Nanti kau bisa pulang bawa Momy,” katanya.
Belum sempat Rheana sadar dengan instruksi Tama pada Leon, pria itu sudah lebih dulu menariknya dalam dekapan.
“Hei! Lepas!” Rheana berontak, tak peduli jika Tama kesakitan. Tapi pria itu tak melepaskannya, mendekap erat tubuh Rheana yang ada di dekatnya.
“Aku rindu, Rhe. Maaf baru kembali,” bisik Tama yang seperti sebuah mantra penenang bagi Rheana. “Tapi aku tidak akan melepaskanmu kali ini, Rheana.” Yang dia ucapkan itu seperti sebuah janji.
Tangan Rheana yang semula bergerak, berusaha lepas dari Tama kini diam lemah.
“Maaf, aku pergi tanpa tau lukamu,” katanya lembut.
Hanya dengan satu kata maaf seakan semua masa lalu yang penuh luka dan mematahkan hatinya itu terobati. Padahal, bagi Rheana, Tama Evander adalah musuhnya. Sosok yang sering kali membuatnya patah hati, terluka, bahkan menangis setiap malam. Tapi ajaibnya, hanya satu kata maaf, Rheana seakan menerima kedatangan pria itu.
Menyadari diamnya Rheana, Tama melepaskan pelukan. Tapi sebagai gantinya, dia justru mempertemukan bibir mereka membuat Rheana terhenyak. Tapi Tama menahan kepalanya yang hendak menjauh.
“Tama!” Rheana berseru marah, napasnya naik turun, matanya nyalang menatap pria itu yang justru tersenyum. “Dasar gila!” Sungutnya.
“Itu cuma kiss, Rhe. Nempel doang, kok, bukan ciuman panas yang bikin aku ingin bawa kau tempat tidur, seperti malam itu. Aku gak menyangka akan menjadi yang pertama,” balas Tama yang berhasil membuat Rheana marah. Wajahnya bahkan merah padam.
“Hei, kau — mmmp.” Sialnya, Tama tidak suka protes Rheana yang baginya terlalu menggemaskan sehingga dia bernafsu meraup bibir itu lagi kali ini melumatnya pelan.
“Astaga! Apa yang kalian lakukan?!”
Bersamaan dengan suara pintu terbuka, gelegar kemarahan seseorang membekukan keduanya.