bc

One Night Mistake: Bayi Rahasia Tuan Muda Valerius

book_age18+
5
FOLLOW
1K
READ
dark
contract marriage
one-night stand
family
HE
escape while being pregnant
love after marriage
second chance
friends to lovers
pregnant
arranged marriage
kickass heroine
boss
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
city
office/work place
childhood crush
love at the first sight
friends with benefits
addiction
like
intro-logo
Blurb

Malam itu, mereka membuat kesalahan terliar dalam hidup. Empat tahun kemudian, kesalahan itu kembali—membawa mata abu-abu sang penguasa dunia bawah.​Aurelia Lancaster terjebak dalam pernikahan neraka bersama suami kertasnya, Arthur, demi merawat sang ibu yang terbaring koma di bawah cengkeraman sang ayah yang diktator. Namun, tidak ada yang tahu bahwa empat tahun lalu, di tengah jebakan malam perayaan aliansi, Aurelia sempat menyerahkan keperawanannya kepada seorang pria asing berwajah dewa di lorong hotel VIP—sebelum kabur dan meninggalkan segepok uang tunai di atas nakas karena mengira pria itu adalah gigolo bayaran.Aurelia mengira rahasia itu akan terkubur selamanya. Ia salah besar.​Alexander Liam Valerius—sang "Mesin Penuai," CEO dingin, kejam, dan pewaris mutlak paling ditakuti di Eropa—tidak pernah melupakan penghinaan itu. Selama empat tahun, ia memburu wanita yang berani meninggalkannya begitu saja di pagi buta.​Ketika takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali di atas karpet merah, seringai iblis terukir di bibir sang CEO. Liam tidak peduli bahwa Aurelia kini berstatus sebagai istri orang lain. Dengan kekuasaan mutlak yang dimilikinya, Liam menghancurkan perusahaan suaminya, memutus setiap jalan pelarian Aurelia, dan memenjarakan wanita itu dalam rengkuhan posesifnya yang mematikan.​“Kamu menghina harga diriku dengan segepok uang, Sayang. Sekarang, mari kita lihat apakah tubuh dan jiwamu cukup untuk membayar lunas empat tahun penantianku.”​Tertangkap di antara amarah sang suami sah, ancaman ayahnya sendiri, dan obsesi kelam sang CEO, Aurelia dipaksa menyerahkan diri tanpa perlawanan.​Namun, di balik dinding benteng kekuasaan Valerius, ada satu rahasia besar yang disembunyikan Aurelia di balik gaun malamnya—sebuah rahasia yang, jika terbongkar, akan membakar seluruh kota menjadi abu.

chap-preview
Free preview
Pelarian Panas di Lorong Hotel
​"Tolong ... buka pintunya! Siapa pun, kumohon!" Aurelia memukul daun pintu kayu di hadapannya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. ​Napasnya memburu liar. Suaranya pecah di antara isak tangis tertahan yang menyayat hati. Tidak ada jawaban. Pintu kamar VVIP bernomor ganjil itu tetap terkunci rapat, mengabaikan tubuhnya yang kini sudah basah oleh keringat dingin. ​Rasa panas yang membakar sekujur pembuluh darahnya semakin menjadi-jadi. Racun sialan itu bergerak agresif, merusak setiap saraf kewarasannya. Aurelia menyeret kakinya yang terasa seperti jeli menyusuri lorong hotel yang temaram. ​"Sial ... panas sekali ...," rintihnya tertahan, menggigit bibir bawahnya sampai berdarah demi menahan pekikan nikmat sekaligus siksaan yang menghantam perut bagian bawahnya. ​Ia memutar kenop pintu di sebelah kanannya secara serampangan. Masih terkunci. Kepalanya pusing hebat. Pandangannya kabur, dikaburkan oleh kabut gairah palsu yang dipaksakan oleh obat perangsang dosis tinggi. ​Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya dari belakang sebelum ia sempat ambruk ke lantai karpet. ​"Cari mati, hah?" suara bariton yang dingin, berat, dan sarat akan ancaman mematikan langsung menghantam pendengaran Aurelia. ​Belum sempat ia menoleh, tubuhnya ditarik paksa berputar. Dorongan kuat itu membuatnya terhuyung masuk melewati ambang pintu yang tidak terkunci sempurna. Pintu langsung dibanting menutup dari belakang. Terdengar bunyi klik otomatis yang mengunci ruangan itu rapat-rapat dari dunia luar. ​Aurelia terdorong pelan menabrak dinding d**a bidang yang keras. Aroma mint dan kayu cendana langsung memenuhi indra penciumannya, memicu insting hewani yang mendesak untuk segera disentuh. Ia mendongak, mendapati sepasang mata abu-abu pekat tengah menatapnya tajam bagai pisau bedah. ​Alexander Liam Valerius berdiri tegak di hadapannya. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya sehelai handuk putih yang melilit pinggang rampingnya, memamerkan pahatan otot d**a dan perut yang basah oleh sisa tetesan air mandi. ​"Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamarku?" suara Liam merendah, menuntut penjelasan dengan nada penuh bahaya. ​Aurelia tidak menjawab. Otaknya sudah lumpuh. Ia tidak peduli siapa pria di depannya ini. Yang ia tahu, tubuh tegap berhawa dingin itu adalah satu-satunya sumber kesejukan yang bisa menyelamatkan nyawanya. ​"Aku ... aku tidak tahu," desis Aurelia putus asa, jemarinya yang gemetar langsung mencengkeram erat kain handuk di pinggang Liam. "Seseorang ... seseorang menaruh sesuatu di minumanku di bawah sana. Tubuhku terbakar ... kumohon, bantu aku." ​Liam memicingkan matanya, mengamati rona merah padam di wajah wanita itu, napas yang terengah-engah, serta binar mata yang kehilangan fokus. Pria itu bukan orang bodoh. Ia tahu persis reaksi fisik dari seseorang yang berada di bawah pengaruh obat bius penambah gairah. ​"Kamu dijebak," ucap Liam dingin, meski tangannya tidak berusaha menepis jemari Aurelia yang meraba kulit perut ratanya. "Dan kamu memilih lari ke sarang singa yang salah, Nona." ​"Aku tidak peduli ...," racau Aurelia tak karuan. Ia merapatkan tubuhnya tanpa sisa, menempelkan d**a ranumnya pada d**a bidang Liam. "Aku butuh kamu ... panas ini membunuhku ... tolong sentuh aku." ​Liam mendengus pelan, sebuah seringai tipis terukir di sudut bibirnya. "Kamu tidak tahu dengan siapa kamu sedang berbicara, wanita bodoh. Aku tidak pernah menolak rezeki yang datang sendiri ke hadapanku." ​Sebelum Aurelia sempat menarik napas, Liam menangkup tengkuk wanita itu. Ia meraup bibir Aurelia dalam sebuah ciuman yang langsung membungkam seluruh keluh kesahnya. Ciuman itu kasar, menuntut, dan penuh d******i mutlak. ​"Mmmpprhhh ...." Aurelia mendengus kaget, namun sedetik kemudian ia justru melenguh pasrah. ​Sentuhan bibir Liam terasa sangat pas. Keahlian pria itu dalam memagut bibirnya membuat pertahanan Aurelia runtuh seketika. Lidah mereka bertubrukan dalam dansa basah yang sarat akan nafsu murni. Aurelia, yang didorong oleh efek obat bius, membalas ciuman itu dengan keahlian mengejutkan. Ia mengulurkan lidahnya, menghisap bibir bawah Liam penuh semangat, menjelma menjadi sosok wanita yang sangat memuja sentuhan tersebut. ​Liam sedikit terkesiap. Ia tidak menyangka wanita asing yang menyusup ke kamarnya ini adalah seorang goodkisser yang mampu memantik api di dalam darahnya hanya dalam hitungan detik. Ciuman lugu itu berubah menjadi gairah liar. ​"Ahhh ... hmmm ...," erang Aurelia tertahan di dalam ciuman mereka, tangannya beralih meremas pundak kekar Liam hingga kuku-kukunya menancap di kulit pria itu. ​Liam mengerang rendah di tenggorokan. Ia membalas lumatan itu dengan intensitas yang berlipat ganda. Ciuman mereka turun ke arah rahang, lalu merayap turun menyusuri leher jenjang Aurelia yang berkeringat. ​"Kamu menciumku seperti wanita jalang yang kelaparan, Sayang," bisik Liam serak tepat di telinga Aurelia, napasnya memburu panas. "Dan aku menyukainya." ​"Jangan banyak bicara ... sentuh aku di sini ...," pinta Aurelia tanpa malu, menuntun tangan besar Liam langsung ke pinggang belakangnya, meremukkan jarak di antara tubuh mereka. ​Liam menarik tubuh wanita itu semakin melekat. Ia mengangkat pinggul Aurelia dengan mudah, membuat wanita itu melingkarkan kedua kaki jenjangnya melingkari pinggang Liam. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Liam berjalan mundur beberapa langkah hingga bagian belakang tubuh Aurelia menabrak permukaan matras ranjang besar di tengah kamar. ​Ia membaringkan tubuh Aurelia secara kasar ke atas seprai putih. Liam langsung menindihnya, mengurung wanita itu di bawah kungkungannya yang penuh kuasa. ​"Ini hukuman karena berani mencariku dalam keadaan seperti ini," bisik Liam penuh ancaman manis, sebelum akhirnya ia menyambar bibir Aurelia kembali dalam ciuman yang jauh lebih dalam. ​Tangan Liam bergerak liar membuka ikatan handuk di pinggangnya sendiri, membuang satu-satunya penghalang di antara mereka. Sentuhan kulit yang bergesekan langsung membuat Aurelia melengkungkan punggungnya ke atas, menjerit tertahan di d**a Liam. ​"Oohhh ... ya Tuhan ... cepatlah ...," rintih Aurelia, air matanya menetes di pelupuk mata akibat puncak siksaan gairah yang sudah di ambang batas. ​Liam menyeringai dalam gelap. Ia memposisikan tubuhnya di antara kedua paha wanita itu. Tanpa basa-basi, tanpa persiapan yang layak selain basahnya gairah Aurelia sendiri, Liam mendorong pinggulnya maju. ​"AAKHHH!" ​Aurelia memekik keras. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian malam di lantai VIP hotel tersebut. Matanya membelalak lebar, menatap langit-langit kamar dengan napas tersengal-sengal saat sensasi robekan tajam menghantam tubuh bagian bawahnya secara telak. Keperawanannya runtuh dalam satu sentakan mutlak sang pria yang tidak dia kenal.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.6M
bc

The Silver Wolf

read
620.8K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.2M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
909.6K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook