Aylin melirik jam di tangan. Sudah lewat dua menit. Bagaimana bisa begini? Seorang anak Jayakarsa Atmaja yang agung itu dibuat menunggu? Hei. Aylin sebetulnya bukan sosok yang punya kesabaran seluas itu, tetapi mari tunggu satu menit lagi. Aylin kembali duduk di bangku kafe, menyedot milkshake stroberi. Tatapan Aylin ke luar jendela, tetapi sesaat dia mendengar suara familier, rupanya sosok tersebut sudah di sini, hanya tadi sedang di dalam ruang VIP kafe. Dapat Aylin lihat pria dengan tingkat kematangan 13 tahun lebih awal darinya itu mendekat setelah berjabat tangan dengan—mungkin kolega bisnis. Nah, ini, nih. Tipikal cowok mapan. Oke, lolos kriteria nomor satu. "Lama, ya?" Suara baritonnya membuat bulu kuduk Aylin sedikit meremang, didukung dengan tampang rupawan. Ehm. Lolos

