Tekanan dari Ayah

1103 Words

Pesan terakhir itu adalah palu godam. Zumena menolak keberanian Jafran untuk mendekat. Dia memaksakan jarak yang Jafran sendiri sarankan. ​Jafran bersandar di kursi kafe. Dia telah kembali ke logika; Zumena yang sekarang memegang obor gairah dan risiko. Jafran sekarang yang harus menahan diri, yang harus mendengarkan logika, sementara Zumena berjuang sendirian di medan perang emosional. ​Dia telah gagal membawanya pergi. Dia telah gagal menjadi hero yang hadir. ​Jafran meraih cangkir kopinya yang dingin. “Aku hanya ingin seseorang yang berani membawaku pergi.” ​Kata-kata itu tidak hilang. Kata-kata itu kini mengakar di hati Jafran. Dia tidak bisa pergi. Dia tidak bisa mundur. ​Dia harus meluncurkan perang ini, tidak hanya untuk melindungi Zumena, tetapi juga untuk membuktikan pada Zum

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD