Di pagi itu, Diandra mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Di kamar mandinya, tidak ada shower atupun bathub. Namun di kamar kedua saudaranya, fasilitas terlihat mewah dengan adanya dua hal yang disebutkan tadi. Diandra sudah terlalu lelah memikirkan bagaimana ia dibanding-bandingkan, yang ia pikirkan sekarang — bagaimana ia keluar dari lingkaran toksik yang tengah ia tempati.
Meskipun demikian, pertanyaan lain juga timbul dalam pikirannya. Apakah pilihannya tepat? Wajah tampan Victor membuatnya menentukan pilihan pada pria itu, dan terlebih, sejauh ini – hanya pria itu yang selalu berpenampilan sederhana.
"Apa pilihanku tepat? Aku harap, dia adalah orang yang lembut pada wanita." gumam Diandra. Setelah selesai mandi, Diandra segera bergegas keluar kamar mandi, ia menggunakan pakaian kantornya dan segera bersiap.
Tak lupa Diandra mengeringkan rambutnya dan merias tipis wajahnya. Diandra sudah cukup terlatih di hadapkan dengan situasi yang serasa selalu menghimpitnya dan seakan menindasnya.
Meski hatinya remuk redam, namun, wajahnya masih terlihat santai dan datar. Tanpa sarapan, Diandra segera bergegas ke luar rumah untuk segera berangkat bekerja. Rasa-rasanya ia seakan kehilangan nafsu makannya, dan kini ia hanya ingin segera pergi dari rumah terkutuk itu.
Tapi, di saat ia baru saja ia keluar dari rumah, ia berpapasan dengan beberapa orang yang sungguh ia kenali.
"Diandra, kamu mau kemana, nak?" tanya seorang wanita yang tampak baru saja datang ke tempat itu.
"Mau kerja, tante." balas Diandra, ia sungguh sangat terluka, tapi berusaha untuk tetap tersenyum pada seseorang yang pernah begitu menyayanginya. Dia adalah Ratih, ibu dari Devan.
"Loh, nak, kok kerja sih? Bukankah hari ini kita mau membicarakan soal lamaran?" tanya seorang pria lagi, dia adalah Pak Bambang – ayah dari Devan. Diandra tak langsung menjawab, ia menatap kedua orangtua yang seharusnya menjadi mertuanya itu, dan sesaat kemudian, ia menatap ke arah Devan yang tampak sudah salah tingkah. Bukan karena malu, atau merasa bersalah, pria itu tampaknya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada kedua orangtuanya perihal yang satu ini.
Ingin rasanya Diandra mencaci maki Devan, namun, ia yang diperlakukan baik oleh kedua orangtua Devan akhirnya mengurungkan niatan buruknya itu. Diandra mencoba tersenyum, meski terlihat tersenyum getir. Mau bagaimanapun, apa yang menimpanya sudah terlalu pahit.
"Pak, Bu..., Maaf, memang mungkin benar, kalian datang kesini untuk hal itu, tapi sayangnya – semua itu bukan untukku." balas Diandra dengan tenang.
'degh!' batin kedua orangtua Devan.
"A–apa maksudnya, nak?" Bu Ratih tampak begitu terkejut, dan kedua bola matanya terbelalak lebar saat mendengar ucapan Diandra. Begitu juga dengan Pak Bambang.
"Apa putra kalian belum mengatakan hal ini?" tanya Diandra dengan suara lembut. setelah beberapa saat tak ada jawaban, Diandra menghela nafas panjang. "Maaf, sebenarnya hubungan kami sudah kandas, dan mungkin kedatangan Devan ke sini bukan untukku, melainkan untuk anak perempuan lain di sini selain aku, tapi kalian tidak usah khawatir —" Diandra menjeda kata-katanya dan langsung menggenggam kedua tangan Ratih yang terasa sudah berkeringat dingin.
"A-apa maksud kamu, nak? Tidak usah khawatir bagaimana? Kamu tahu, 'kan? Ibu sudah menganggap kamu sebagai putri ibu sendiri, ke-kenapa..., kenapa jadi begini?" gumam Ratih sembari mulai menitikan airmata. Hati Diandra seakan diremas saat mendengarkan hal itu, namun bibirnya kini tampak tersenyum manis. Dengan sikapnya yang dewasa, ia tampak mengecup kening Ratih dengan lembut, sebelum akhirnya menatap wajah wanita itu dengan tatapan yang lembut pula.
"Bu, aku masih tetap anakmu..., Anak perempuanmu, ibu tidak usah khawatir soal aku. Aku sudah menemukan pria baik yang menggantikan Devan, mungkin – kami hanya di pertemukan, dan tidak di satukan, sehingga ada saja prahara yang terjadi pada hubungan kami, bukankah soal jodoh, rejeki dan maut sudah di tentukan, dan mungkin dialah jodohku." balas Diandra dengan suara tenang. semua orang menatap heran ke arahnya, terlebih Devan. matanya menyelidik seakan mencari kebenaran, dan hatinya seakan memanas di saat mendengar hal itu.
"Meski kami keberatan, tapi kalau kamu juga sudah memutuskan, maka kami akan merelakan. Tapi, Nak – bisakah kamu katakan pada kami, siapa orang itu?" tanya Pak Bambang.
Diandra tersenyum sembari menoleh ke arah Pak Bambang. "Bila sudah waktunya, maka aku akan mengenalkannya pada kalian. Ah, hari sudah siang, aku harus segera berangkat ke kantor, pak, bu." Diandra tampak menatap jam tangannya dan menyadari ia akan telat bila terus berbincang di sana.
"Aku pamit, semoga hari kalian menyenangkan." balas Diandra. Diandra menyalami kedua orangtua Devan dan segera bergegas pergi dari sana.
"Diandra, tunggu...," panggil Devan. "Mah, Pah..., Kalian masuk saja dulu ke dalam, aku ingin mengantarkan Diandra ke kantor." ujar Devan lagi sebelum ia pergi menyusul Diandra.
Kedua orangtuanya tampak menatap satu sama lain dengan bingung, dan Devan tampaknya tak memperdulikan reaksi mereka.
Devan terus mengejar Diandra, dan sesaat kemudian..., Ia berhasil meraih lengan Diandra. Ada suatu hal yang membuatnya mengernyitkan dahinya, di saat melihat pergelangan tangan Diandra yang putih, ia melihat bercak kemerahan yang cukup banyak... ya, memang itu adalah tanda yang sempat Victor tinggalkan di sana. Pria itu tak melewatkan satu inci pun dalam tubuh Diandra.
"Diandra, kenapa dengan tanganmu ini?" tanya Devan sembari menyibak kemeja panjang Diandra ke atas. Makin ke atas, bekas itu makin banyak. Diandra yang merasa emosi diperlakukan demikian akhirnya menarik tangannya dan memberikan sentuhan kasar dipipi kiri Devan. Suaranya begitu nyaring, karena Diandra melayangkan tangannya dengan sepenuh tenaga.
Wajah Devan menoleh ke arah kanan, tampak bekas merah yang terlihat di bekas pipinya.
"Jangan mencoba menyentuhku, dan jangan kamu ikut campur urusanku!" tekan Diandra dengan suara yang bergetar menahan gejolak emosinya. Devan tampak tidak perduli, ia kini menatap ke arah Diandra dan bahkan menatapnya dengan pandangan mata yang terlihat dingin.
"Diandra, siapa yang kamu maksud?" tanyanya dengan suara dingin. Diandra mengernyitkan dahinya di saat mendengar pertanyaan dari Devan. "Siapa pria itu?" tanyanya lagi. "Jawab Diandra!" teriak Devan dengan suara meninggi.
"Jangan membentakku! Apa urusanmu, 'hah?!" Diandra akhirnya ikut meninggikan suaranya.
"Di– Diandra, aku hanya ingin memastikan, apa pria itu adalah pria baik. Hanya itu saja." Selak Devan. Diandra tersenyum getir saat mendengar ucapan Devan.
"Setelah menghancurkan aku, kamu berkata seolah ingin yang terbaik untukku? Lalu, jikalau kamu merasa orang itu tidak baik – Lantas bagaimana denganmu? Di saat aku mengira kamu yang terbaik, tapi ternyata kamu memberikan luka paling sakit." balas Diandra sembari menatap Devan dengan pandangan mata yang berkaca-kaca.