“Ah! Pelan kak,” gumam Diandra di saat tengah melakukan pergumalan panas di sebuah kamar mewah.
“Kamu masih virgin, Diandra?” tanya Victor dengan mata yang terbelalak lebar. Untuk menarik keluar kembali apa yang baru saja ia tanam di dalam diri Diandra tentu percuma. Miliknya sudah masuk setengah, dan ia kini terpaku sembari menatap wajah Diandra yang tak sepenuhnya sadar karena ia mabuk berat.
“Apa yang kamu tunggu? Menarik keluar juga percuma... Sudah terkoyak. Lanjutkan saja, Kak." gumam Diandra di saat ia melihat wajah Victor yang tampak bimbang. Victor yang tak bisa lagi menahan gelora yang menggebu akhirnya kembali menggauli Diandra.
“K–kak," panggil Diandra dengan suara parau. Ia bahkan sampai memeluk pria yang tengah menghabiskan waktu bersamanya pada saat itu.
“Kamu sangat menawan, Diandra. Aku pasti ingin lagi, dan lagi.” balas Victor.
Mereka berdua kembali meneguk manisnya madu asmara yang bahkan tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Jari-jemari lentik Diandra mulai menari di punggung Viktor. Dan bahkan kukunya sesekali menggores punggung pria itu.
*
Beberapa jam sebelum tragedi itu terjadi, Diandra Soraya bahkan masih menjalani harinya seperti biasa. Ia yang merupakan karyawan magang di suatu perusahaan masih bekerja seperti biasa.
Gadis berusia 28 tahun yang cantik berkulit putih, hidung mancung dan tinggi sekitar 168 cm itu merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Ia memiliki satu kakak bernama Damian yang berusia 32 tahun, dan Diandra juga memiliki adik bernama Lumina yang berusia 25 tahun.
Sebagai anak kedua dari ayah, ibunya, Diandra kerap kali mendapatkan perlakuan tidak adil. Ia selalu dituntut menjadi pribadi yang kuat dan unggul dalam bidang apapun. Setelah lelah bekerja di luar rumah, ia juga harus menuruti semua kemauan adiknya yang begitu manja.
Lumina Soraya, gadis berusia 25 tahun itu memiliki tubuh lemah dan bisa dibilang penyakitan. Ia gampang sekali sakit, sehingga apapun yang dimintanya selalu dituruti oleh keluarganya, dan imbas dari sikap dimanjakan itu membuat kepribadiannya menjadi buruk dan bermuka dua. Tapi sayangnya, semua hal itu hanya diketahui oleh Diandra.
Diandra sendiri tak bisa berbuat banyak selain diam. Sedangkan kakanya, dia juga salah satu anak yang selalu di prioritaskan oleh kedua orangtuanya.
*
Sore hari di kota jakarta..
Diandra baru sampai di rumah sekitar pukul 7 malam. Tubuhnya letih, dan pikirannya juga sama. Saat ia sampai ke depan rumah, ia melihat seseorang yang tak lagi asing baginya. Diandra tersenyum manis di saat melihat pria itu.
Rasa lelahnya seketika hilang di saat melihat orang itu. "Devan," panggil Diandra dengan suara yang terdengar sangat ceria. Pria yang baru saja ia panggil itu tampak baru saja keluar dari dalam mobil itu tampak sedikit terkejut di saat Diandra memanggilnya.
"Di–diandra, kamu sudah pulang?" balasnya dengan suara terbata. Diandra merasa aneh dengan ucapan kekasihnya itu, ya..., Devan adalah kekasih Diandra, Pria bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan itu merupakan kekasih Diandra 3 tahun terakhir.
"Apa maksudmu?" Balas Diandra dengan heran. Ia heran mengapa cara bicara kekasihnya begitu berbeda. Tak berselang lama, akhirnya Diandra mendengar pintu mobil sebelah kemudi terbuka. Diandra menatap ke arah pintu mobil itu dan...
'degh!' batin Diandra di saat melihat siapa yang keluar dari sana. "Lu–lumina? Kenapa kalian—
"Maaf, Diandra..., Sepertinya aku harus menjelaskan ini. Diandra, Aku menyukai adikmu. Dan aku sudah bicara pada kedua orangtuamu, dan sebenarnya — Beliau juga sudah mengatakan hal ini sejak lama." balas Devan.
"A–apa maksudnya ini? Ka–katakan yang jelas, ada apa sebenarnya ini?!" gumam Diandra. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang Devan katakan, namun, beberapa saat kemudian, ia melihat Lumina mendekat ke arah Devan lalu bergelayut manja di lengan pria itu. Diandra tak sanggup lagi menahan segala rasa sesak dan sakit di dadanya. Airmata mengalir deras, dan seakan dadanya baru saja di hantam begitu keras.
"Ti–tidak mungkin." gumam Diandra dengan suara lirih. Gadis itu membalikan tubuhnya dan berlari masuk kedalam rumah. Devan merasa sakit juga di saat melihat gadis itu menitikan airmata. Ia berniat hendak mengejar Diandra, namun lengannya langsung dipeluk erat oleh Lumina. Pada akhirnya, ia tak bisa mengejar gadis itu.
***
Diandra masuk kedalam rumah dan bergegas mencari kedua orangtuanya. Setelah masuk kedalam ruang tamu, akhirnya ia melihat ayah dan ibunya ada di sana. Tanpa ber basa-basi lagi, Diandra akhirnya langsung menanyakan soal kebenaran.
"Ayah, Ibu. Apa-apaan ini?! Ada apa dengan Devan dan Lumina, apa benar kalian berdua meminta Devan bersama Lumina?" tanya Diandra sembari bercucuran airmata.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Hendra Soraya, ayah dari Diandra.
"Kenapa? Bisa-bisanya ayah bilang, kenapa? Bukankah ayah tahu, kalau Devan itu kekasihku, Ayah." ujar Diandra sembari meletakan tangan kanannya di dadanya.
"Diandra, kamu tahu sendiri bagaimana kondisi adikmu. Jadi, kami pikir, mungkin kamu seharusnya mengalah kali ini." balas Sinta, ibu kandung Diandra.
"Iya, lagian–kamu bisa cari lagi, 'kan? Apa tidak ada lagi laki-laki mau sama kamu selain dia?" tanya Damian dengan suara meremehkan.
Bak tersambar petir di siang hari, Diandra tak menyangka akan begini jadinya..., hatinya sakit di saat melihat dan merasakan bagaimana kelakuan keluarganya pada dirinya. "Bahkan, untuk urusan perasaan, dan cinta – aku harus mengalah pada Lumina. Kakak, seharusnya kamu mengatakan hal itu pada Lumina, bukan padaku." gumam Diandra dengan suara terbata-bata.
"Diandra!" pekik sang ayah di saat mendengar ucapan Diandra.
"Kenapa, ayah? Kalian sungguh tidak adil, kenapa aku yang selalu harus mengalah? Kenapa..., kenapa dia selalu merampas suatu hal yang aku miliki, dan aku sukai? Kenapa? Kenapa? Ka–kalian, Kalian jahat!" Diandra sampai berteriak di penghujung katanya. Gadis yang merasa hatinya terasa remuk redam itu berlari keluar dari rumah sembari terisak.
"Diandra! Diandra!" teriak Hendra. Namun, seberapa kerasnya ia berteriak, Diandra tak akan mendengarnya. bahkan Gadis itu sampai mencoba untuk tak melihat ke arah Devan di saat ia berpapasan dengan pria itu yang tadi digandeng masuk oleh Lumina.
***
Diandra lari keluar dari dalam rumah, ia menghentikan salah satu taksi dan meminta di antarkan ke suatu tempat. Dan tempat itu adalah...., 'Club Malam'
Tempat yang sudah 3 tahun tak ia pijaki kini kembali ia datangi. Di sana, mungkin dirinya akan menemukan kebahagiaan, di sana, mungkin ia akan melupakan segala masalahnya sejenak. Dengan pakaian kerja yang terlihat sederhana, Diandra nekat menuju ke sebuah tempat yang lama tak ia kunjungi. Untuk sedikit mengurangi penampilan cupunya, ia melepaskan dua kancing depan, dan merobek sedikit sisi kanan roknya..., dan dari sinilah, awal dari semua kisah yang akan terjadi.