Special Part

1894 Words
"Tidak usah kasih aku bagian, Madam Rosa. Terimakasih sudah membantuku mendapatkan pria yang aku mau." Hana tersenyum tipis seraya mematikan panggilannya. Ia menatap wajahnya di pantulan cermin rias yang mewah, jemarinya menelusuri rahang dan lehernya yang masih menyisakan jejak kemerahan dari Richard. Sentuhannya lembut, hampir seperti memuja sebuah investasi yang sangat berharga. Wajah cantiknya, sangat ia yakini akan menjadi solusi dari jerat kemiskinannya selama ini. Ia sudah benar-benar putus asa. Jika dia tidak mengambil resiko, dia akan terus menjadi orang munafik yang terus hidup dalam ketidakmampuan. Sejak awal, Hana bukanlah gadis malang yang tersesat. Dia adalah seorang periset yang handal. Ia telah menghabiskan waktu berbulan-bulan mempelajari daftar pelanggan VIP di bar tempatnya bekerja, menyaring profil demi profil hingga matanya tertuju pada satu nama Richard Evandrus. Pria 40 tahunan, berada di puncak kejayaan karier, namun mulai bosan dengan segala kemudahan yang ia miliki. Pria seperti Richard tidak mencari cinta, mereka mencari tantangan baru, sesuatu yang terasa murni dan sulit ditaklukkan di tengah dunia mereka yang sudah terlalu kotor. Dari semua kandidat, Richard adalah yang paling sempurna. Pernikahannya dengan Clarissa hanyalah sebuah aliansi bisnis, pernikahan bebas, yang biasa disebut dengan open marriage. Tanpa cemburu, tanpa drama. Mereka adalah dua orang asing yang berbagi atap dan aset. Hana juga sudah riset, jika istrinya tidak pernah peduli dengan semua wanita simpanan suaminya, karena ia juga memiliki kesenangan dan dunianya sendiri. Richard juga terkenal sangat royal, ia memanjakan wanitanya dengan kemewahan yang tak masuk akal. Dan ketika rasa bosan itu tiba, seperti yang selalu terjadi, ia akan melepas mereka dengan kompensasi yang cukup untuk hidup tujuh turunan, asalkan mereka tetap bungkam. "Hanya itu," bisik Hana pada bayangannya. "Menemani, menuruti, lalu pergi dengan kantong penuh. Ingat misimu dengan baik." Hana hanya perlu menjadi gadis lemah dan penurut. Ia harus menjaga binar polos di matanya, memastikan Richard merasa seperti pahlawan sekaligus penakluk setiap kali pria itu menyentuhnya. Hana akan membiarkan Richard merasa menang, merasa bahwa dia adalah pria pertama yang merusak kesuciannya di atas bus mewah itu. Ia memoles bibirnya yang sedikit bengkak dengan lip gloss bening, memberikan kesan wajah yang baru saja selesai menangis namun mencoba tetap kuat. Topeng yang sempurna. Saat pintu kamar terbuka dan Richard melangkah masuk dengan keangkuhan, Hana segera mengubah raut wajahnya. Ia sedikit menunduk, bahunya menciut, dan tangannya meremas ujung gaun sutranya seolah ia merasa terintimidasi oleh kehadiran pria itu. "Tuan... maaf, saya sedang merapikan diri." suaranya kembali lirih, rapuh, dan penuh kepatuhan. Richard berjalan mendekat dengan langkah berat yang mengintimidasi, matanya menyapu tubuh Hana dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan posesif yang seolah sedang menelanjangi sisa-sisa harga diri wanita itu. Ia menyukai apa yang ia lihat, seorang gadis cantik dengan mata yang berkaca-kaca, tampak hancur namun tetap pasrah di bawah kendalinya. "Aku bilang temui aku dalam satu jam," suara Richard rendah, bergetar oleh kemarahan yang bercampur dengan nafsu yang tertahan. "Tapi Tuan... Galendra tadi tidak mau melepaskan tanganku, dia...." "Kamu bukan pengasuh anakku!" Richard tiba-tiba menyambar dagu Hana, mencengkeramnya dengan jari-jari kuat yang membuat Hana meringis. "Anda sendiri yang menugaskan saya tadi siang, Tuan..." Hana berbisik, mencoba mempertahankan raut wajah ketakutan yang sempurna, meski di dalam kepalanya ia sedang mencatat setiap reaksi Richard. "Ouhhh, kamu berani melawan rupanya..." Richard terkekeh gelap, sebuah bunyi yang tidak mengandung keramahan sedikit pun. Dengan satu sentakan kasar, ia mendorong tubuh mungil Hana ke atas ranjang besar yang empuk, lalu segera menindihnya dengan tubuh shirtless-nya yang kekar dan panas. Hana terhimpit di bawah beban pria itu, merasakan kulit d**a Richard yang keras bergesekan dengan sutra tipis gaun tidur merahnya. "Kamu mau sok polos? Kamu benar-benar berpikir jika tugasmu di rumah ini hanyalah pengasuh?" Richard menatapnya tajam, napasnya yang beraroma whiskey menerpa wajah Hana. "Tapi Anda yang bilang...." Ucapan Hana terpotong seketika saat Richard menyambar bibirnya dengan ciuman rakus yang menyesakkan. Tidak ada kelembutan, hanya tuntutan liar yang ingin menghancurkan segala bentuk pertahanan. Richard melepaskan pagutannya hanya untuk berbisik tepat di telinga Hana, suaranya parau dan mengancam. "Tidak usah munafik! Kamu tentu tahu alasan sebenarnya aku membawamu... membelimu dari Rosa dengan harga yang tidak murah!" Ia menggigit cuping telinga Hana, membuat wanita itu memekik kecil yang tertahan. "Seperti yang aku bilang, kita bebas di rumah ini, Hana. Aku dan istriku saling terbuka. Sebentar lagi pria-prianya juga akan datang untuk membawanya. Pernikahan ini hanyalah kertas, dan siapa pun yang aku putuskan menjadi wanitaku, dia yang akan menggantikan peran Clarissa dalam segala hal... termasuk di ranjang ini." Richard mencengkeram kedua pergelangan tangan Hana, menguncinya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mulai menjelajahi lekuk tubuh Hana dengan kasar. "Aku sudah mencoba banyak sekali wanita dengan berbagai karakter, dari yang paling binal hingga yang paling berkelas. Dan sekarang aku memilikimu. Aku harap keketatan yang hampir membuatku gila di bus tadi bukan hanya keberuntungan sesaat. Kamu... harus bisa memuaskanku lebih dari mereka semua! Atau, aku akan membuangmu!" Hana menatap mata Richard yang gelap oleh obsesi, membiarkan setetes air mata buatan jatuh dari sudut matanya sebagai bumbu terakhir. Di balik kepasrahannya yang tampak menyedihkan, Hana tersenyum dalam hati. Richard baru saja mengonfirmasi bahwa posisinya di rumah ini jauh lebih kuat dari sekadar selingkuhan. Jika ia bisa menggantikan peran Clarissa, maka ia bisa menggantikan segalanya. "Lalu aku harus bagaimana, Tuan? Bukankah saat aku baru datang, Tuan bilang aku harus mengasuh..." Suara Hana bergetar, nada bicaranya yang tersendat-sendat seolah-olah ia adalah kelinci kecil yang terpojok di depan serigala. Ia menatap Richard dengan mata bulat yang basah, membiarkan ketidaktahuan yang ia rancang menjadi umpan yang paling menggiurkan. Richard mendengus, napasnya yang panas dan berat menyapu wajah Hana. "Biasanya wanita-wanitaku sudah paham. Mereka akan mencariku dan memohon tugas lain tanpa harus disuruh." "Aku hanya menuruti..." bisik Hana, meremas sprei di bawah tubuhnya. "Kamu... benar-benar membuatku gila!" Richard mengumpat rendah. Nafsunya yang tersulut oleh kepolosan Hana meledak. Ia merenggut gaun sutra merah tipis itu hingga terdengar suara kain yang robek, melucuti pakaian Hana dalam satu gerakan kasar yang tidak sabaran. Richard kemudian menarik Hana turun dari ranjang, memaksanya berlutut di lantai marmer yang dingin di hadapannya. Kontras antara kulit Hana yang pucat dan lantai gelap itu membuat Richard semakin haus. "Puaskan dia dengan bibirmu yang indah itu," perintah Richard mutlak, suaranya parau oleh gairah yang sudah berada di ujung tanduk. Hana mendongak, matanya membelalak ketakutan yang dibuat-buat, bibirnya sedikit bergetar. "Tapi... aku tidak pernah melakukannya. Aku tidak tahu cara..." "Lalu aku harus memanggil pelatih? Begitu?!" Richard menjambak rambut panjang Hana, tidak sampai menyakiti namun cukup kuat untuk menarik kepala Hana ke belakang dan mengarahkannya tepat pada miliknya yang sudah menegang di bawah sana. Richard menuntun kepala Hana dengan tangan yang tak sabaran, memaksa wanita itu untuk mendekat. "Gunakan instingmu, Hana. Atau aku akan menganggapmu tidak berguna dan membuangmu malam ini juga." Hana menatap Richard dengan mata yang berkaca-kaca, membiarkan tubuhnya bergetar hebat saat ia berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Richard berdiri tegak di hadapannya, sosoknya yang matang dan dominan seolah menelan seluruh ruang di kamar itu. "Lakukan, Hana. Jangan biarkan aku menunggu lagi," perintah Richard, suaranya serak, sarat dengan ancaman dan gairah yang sudah tidak terbendung. Dengan tangan yang gemetar, Hana perlahan menyentuh milik Richard. Ia membiarkan ujung jemarinya yang halus membelai kulit keras pria itu, sebuah kontras yang membuat Richard menggeram rendah. Hana mendongak sekali lagi, mencari belas kasihan yang ia tahu tidak akan ia temukan di mata elang pria 40 tahun itu. "Aku... aku takut salah, Tuan," bisik Hana lirih. "Gunakan bibirmu. Sekarang!" Richard menjambak lembut rambut Hana, mengarahkan wajah cantik itu semakin dekat. Hana memejamkan mata, membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajahnya. Ia mulai membuka bibirnya yang mungil, menyentuhkan kehangatan mulutnya pada Richard yang sudah menegang hebat. Saat Hana mulai memberikan hisapan kecil yang ragu-ragu, Richard tersentak. Kepalanya terdongak ke belakang, urat-urat di lehernya menonjol seketika. "Sial, Hana..." Richard mengumpat parau. Sensasi mulut Hana yang sempit dan hangat terasa sangat berbeda dari wanita-wanita berpengalaman yang pernah ia temui. Ada kepolosan yang kikuk namun justru itulah yang menghancurkan pertahanan Richard. Richard mencengkeram kepala Hana, jemarinya terkunci di antara helaian rambut wanita itu, menuntun gerakan Hana dengan ritme yang semakin cepat dan dalam. Hana terus melakukan tugasnya, membiarkan air mata buatan membasahi pipinya sementara ia terus memuaskan Richard. Ia bisa merasakan bagaimana tubuh Richard bergetar setiap kali lidah Hana menyapu bagian paling sensitifnya. Suara napas Richard yang memburu dan erangan posesifnya memenuhi ruangan, mengalahkan kesunyian malam Roma di luar sana. Richard tidak tahan lagi. Keketatan dan kehangatan yang diberikan Hana benar-benar membuatnya kehilangan akal sehat. Ia menarik Hana berdiri dengan kasar, tidak membiarkan wanita itu menyelesaikan tugasnya di lantai. "Cukup. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," Richard membalikkan tubuh Hana, mengangkat gaunnya hingga ke pinggang, menekannya ke atas meja rias yang masih kosong itu. Ia menghujam Hana dari belakang dengan satu sentakan yang dalam, membuat Hana memekik keras dan mencengkeram pinggiran meja marmer itu hingga buku jarinya memutih. Richard bergerak dengan kekuatan penuh, menghimpit tubuh mungil Hana di bawah dominasinya. Hana menjepitnya, memberikan sensasi nikmat yang nyaris menyakitkan, seolah-olah ia sedang dipaksa masuk ke dalam ruang yang paling terlarang. Di bawah cahaya lampu meja yang remang, Richard terus menghentak, membiarkan keringatnya menetes di punggung mulus Hana. Ia benar-benar gila karena wanita ini. Baginya, Hana bukan sekadar pemuas nafsu, Hana adalah candu baru yang tidak akan ia lepaskan sampai pria itu bosan. Atau sampai Hana berhasil menguras habis segala yang ia miliki. Dengan satu sentakan kasar yang dipenuhi rasa lapar, Richard merobek gaun sutra merah tipis yang masih melekat di tubuh Hana. Suara kain yang terbelah terdengar nyaring di keheningan ruangan itu, membuat tubuh mungil Hana yang indah terekspos. Richard menatap pemandangan di hadapannya dengan tatapan predator yang menemukan mangsa paling berharga. Ia tidak membuang waktu. Dengan gerakan yang kuat namun tiba-tiba terasa posesif, ia mengangkat tubuh Hana dari atas meja kerja, membawanya ke sofa velvet besar di sudut ruangan yang lebih gelap. Richard merebahkan Hana di sana, lalu segera menindihnya. Namun, kali ini ada yang berbeda. Richard tidak langsung menghujamnya dengan kekasaran seperti di bus. Ia menahan berat tubuhnya dengan kedua tangan, menatap dalam-dalam ke mata Hana yang berkaca-kaca dan penuh kepasrahan. "Tatap aku, Hana...." bisik Richard serak, suaranya berat oleh nafsu namun entah bagaimana terdengar... lebih intim. Ia menyatukan bibir mereka kembali, bukan dalam pagutan rakus yang menyiksa, melainkan sebuah ciuman yang lebih dalam, lambat, dan menuntut penyatuan jiwa. Lidahnya menjelajah dengan lembut, mencicipi rasa manis dan ketakutan yang bercampur di mulut Hana. Sembari menciumnya, Richard mulai mendorong dirinya dengan gerakan lambat, dalam, dan berirama, seolah ia ingin menikmati setiap inci gesekan kulit mereka. Hana mengerang pelan, tubuhnya melengkung secara insting menerima hunjaman Richard yang terasa berbeda malam ini. Tidak ada rasa sakit yang menyentak, melainkan gelombang kenikmatan yang mulai merayap di perut bawahnya. Ia menatap wajah Richard yang berada hanya beberapa inci dari wajahnya. Pria yang biasanya keras dan angkuh, kini tampak seksi, dipenuhi peluh, dan matanya berkilat oleh obsesi yang mendalam pada dirinya. Sementara Richard menikmati setiap ekspresi di wajah pasrah Hana. Ia menyukai bagaimana bulu mata panjang Hana bergetar, bagaimana bibir mungilnya sedikit terbuka mengeluarkan desahan napas yang memburu, dan bagaimana rona merah menjalar di pipi dan lehernya. Baginya, Hana malam ini tampak begitu cantik, begitu murni, dan sepenuhnya berada dalam kuasanya. "Kamu milikku, Hana..." gumam Richard di sela-sela ciumannya, tangannya meremas pinggang Hana dengan posesif. Hentakan Richard semakin lama semakin cepat, namun tetap menjaga ritme yang intim. Di bawah pendar lampu remang kamar itu, Richard menenggelamkan dirinya dalam gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD