Ruangan seketika hening. Dimas masih berdiri di dekat pintu kamar setelah menguncinya. Lelaki itu pun masih menatap sang istri yang terlihat juga menatapnya dengan pandangan kesal. "Aku salah." Sebuah kalimat yang sudah mewakili maksud dan tujuan lelaki itu mencari dan menemui istrinya. Perlahan Dimas mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia masih belum berani mendekati Rayya karena perempuan itu masih belum memberikan respon baik padanya. "Aku cemburu." "Kamu sudah bilang tadi,“ balas Rayya masih dengan nada ketus. " Aku enggak suka jika kamu dekat dengan lelaki lain." "Aku juga udah bilang Fauzan itu sahabatku." "Aku tahu." "Lalu?" "Aku memang terlalu berlebihan." Dimas berkata pelan. Lelaki itu baru menyadari jika tidak seharusnya ia bersikap demikian. "Maukah kamu