“Jangan!” ujar Humairah
Cup
Laki-laki itu mulai mencium kening Humairah, namun dia tidak tinggal diam apalagi pasrah. Humairah terus memberontak berusaha melepaskan diri. Ia harus yakin dengan bantuan Allah.
Laki-laki itu merasa kesal karena Humairah terus memberontak. “Diam!” desisnya dengan tajam
“Nggak! Aku nggak akan diam.”
“Diam atau aku akan melukaimu, bahkan membuatmu diam seribu bahasa.”
Nafas Humairah tercekat mendengar ancaman itu. Bohong jika dirinya tidak takut. Sejak tadi jantungnya berdetak cepat karena rasa takut. Ia menahan tangis agar tidak terlihat lemah di hadapan laki-laki itu.
“Aku tidak peduli. Lepasin aku!” desis Humairah
“Aku tidak akan melepasmu. Kita akan bersenang-senang malam ini.”
“Enggak! Aku nggak mau.”
“TOLONG!” teriak Humairah
“DIAM!”
“TOLONG!” Humairah tidak peduli sekalipun dibentak olehnya. Ia terus berteriak sekalipun suaranya akan habis.
Laki-laki itu semakin geram. Dan…
PLAK
“Aakkhh,” pekik Humairah
Laki-laki itu menampar Humairah dengan cukup kencang. Detik itu juga air mata Humairah jatuh membasahi pipinya. Ancaman laki-laki itu tidak main-main. Jika Humairah terus memberontak ia bisa melakukan lebih dari ini.
“Masih meremehkanku, hm?” ucapnya sembari tersenyum smirk
“Hikss..” isak tangis Humairah mulai terdengar
Krekk
"Enggak. Jangan!” pekik Humairah tertahan
Hijab serta gamis Humairah robek seketika setelah laki-laki itu menariknya dengan kasar. Ia melempar hijab Humairah ke lantai. Ia tersenyum smirk menatap wajah cantik Humairah tanpa hijab yang menutupi kepalanya. Rambut yang telah Humairah jaga selama belasan tahun telah dilihat oleh laki-laki yang bukan mahromnya.
“Cantik!” ucapnya tanpa sadar
“Ya Allah, Humairah membutuhkan bantuan-Mu.” Doa’nya dalam hati
Laki-laki itu menangkup wajah Humairah. Jarak wajah keduanya begitu dekat membuat Humairah bisa merasakan hembusan nafas laki-laki itu menerpa kulit wajahnya. Air mata Humairah tidak berhenti menetes membasahi kedua pipinya.
“Aku mohon lepasin aku!” lirih Humairah dengan nada memohon
“Aku tidak mengenal siapa kamu.” lanjutnya
“Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu jika kamu menurut denganku. Kamu akan berteriak penuh kenikmatan setelah ini.”
Humairah menggeleng dengan bercucuran air mata. “Aku tidak mau!”
“Sstt!” ia menempelkan jari telunjuknya pada bibir Humairah agar perempuan itu berhenti bicara.
“Aku tidak membutuhkan pendapatmu. Kamu hanya perlu menurut denganku.”
Tatapan laki-laki itu tertuju pada bibir merah alami milik Humairah. Berulang kali ia menelan ludahnya karena tidak sabar ingin menyentuh bibir itu. Ia mengelus bibir Humairah dengan Ibu jarinya. Gerakannya penuh arti membuat jantung Humairah berdetak cepat.
“Aku…”
Cup
“Hmptt..”
Belum selesai Humairah bicara ia langsung membungkam mulut perempuan itu dengan cara menyatukan bibir keduanya. Humairah tidak lagi bisa bicara. Ia tidak berdaya di bawah tubuh laki-laki itu. Tenaga dan suaranya terkuras habis oleh perbuatannya.
“Hikss..” Humairah menangis dalam diam. Air matanya tidak berhenti menetes
***
Beberapa jam kemudian
Sebuah mobil memasuki perkarangan rumah. Sang pemilik mobil keluar lalu berjalan memasuki rumahnya. “Yah, tadi putri teman Bunda mau ke sini dia sudah datang belum, ya?”
“Lebih baik Bunda tanya dulu putrinya sudah ke sini belum.” Naura mengangguk sebagai jawaban.
Naura mengirimkan sebuah pesan pada temannya untuk menanyakan keberadaan Humairah. Beliau dan suaminya baru saja sampai rumah karena ada urusan di luar. Setelah beberapa menit menunggu temannya membalas dan beliau mengatakan Humairah sudah datang ke rumahnya, namun sampai saat ini belum pulang.
“Yah, kata Bu Amina putrinya sudah datang. Tapi beliau bilang Humairah belum pulang.” ujar Naura
“Atau mungkin Humairah mampir ke suatu tempat?”
“Bunda juga tidak tahu, Yah. Bunda ke belakang dulu sebentar!”
Naura berjalan menuju dapur untuk melihat pemberian Amina. Namun ternyata di atas meja makan tidak ada sesuatu, bahkan beliau mencari ke tempat lain tetap tidak ada. “Di mana Rafa menyimpan makanan itu?” karena hanya putranya yang ada di rumah.
Naura kembali ke ruang tamu menemui suaminya. “Yah, Rafa tadi sudah pulang kan?”
“Sudah, Bun. Memangnya kenapa?”
“Bunda mau tanya makanan yang dari Bu Amina. Karena tadi Rafa yang di rumah, pasti dia yang menerima makanan itu.” Ilham mengangguk sebagai jawaban
Naura berjalan menaiki tangga. Saat sampai di tengah-tengah tangga beliau melihat kotak makanan, hal itu membuat beliau bertanya-tanya. “Kok ada kotak makanan di sini?” gumamnya
Naura mengambil kotak makanan tersebut dan pikirannya langsung tertuju pada makanan yang diberikan Amina. “Tapi kenapa bisa di sini?”
Naura mengambil kotak makanan tersebut lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar sang putra, Rafa. Tidak ada rasa curiga sedikitpun di pikirannya. Karena selama ini tidak ada yang aneh ataupun masalah di hidupnya. Selama ini Naura dan keluarganya hidup dengan tenang dan damai.
Tok.. tok.. tok
“Rafa!” panggil Naura sembari mengetuk pintu
“—“ tidak ada jawaban dari Rafa.
“Rafa, kamu sudah tidur?”
“—“ lagi-lagi tidak ada jawaban dari sang putra.
“Apa Rafa sudah tidur?” gumam Naura
Naura memegang knop pintu lalu memutarnya.
Ceklek
“Nggak dikunci.”
Naura mendorong pintu tersebut untuk melihat apakah putranya sudah tidur atau belum. Gelap, itulah yang beliau lihat pertama kali saat masuk ke dalam kamar putranya. Tidak ada cahaya sedikitpun membuat beliau tidak bisa melihat keberadaan putranya.
“Ya Allah, gelap sekali!”
“Kenapa sih Rafa suka sekali mematikan semua lampu kamar!?” gerutu Naura
Naura berjalan sembari meraba-raba dinding mencari sakral lampu. Akhirnya beliau menemukan. Dan…
Tak
Detik itu juga lampu kamar manyala. Namun Naura belum menatap ke arah tempat tidur. Beliau tersenyum melihat kamar putranya terlihat terang. “Nah, kalau gini kan enak. Terang, nggak gelap seperti barusan.”
Tatapan Naura beralih ke arah tempat tidur, dan…
Deg
Tubuh Naura mematung di tempat. Tubuhnya terasa kaku saat melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Di atas tempat tidur beliau melihat putranya tidur bersama seorang perempuan yang tidak beliau ketahui siapa dia. Wajahnya terhalang rambut panjangnya yang membuat Naura tidak bisa melihat wajah perempuan itu.
Pyarr
Naura menjatuhkan kotak makanan tersebut. Beliau hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada dinding. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya serasa tercekat melihat hal buruk di hadapannya.
“Ya Allah, apa ini? Apa yang telah dilakukan putraku?” lirihnya dengan suara bergetar
Naura menarik nafas panjang lalu berteriak kencang yang membuat Rafa dan Humairah langsung bangun dari tidurnya. “RAFAAA!” teriaknya
Next>>