“Jangan khawatir Pak, kami sudah mengerjakannya meski belum selesai.” Sora terlihat tersenyum, tipis. Dan Baru kali ini semua staf yang berjajar di sana melihat bos iblis itu tersenyum. “Kalau begitu bawa masuk ke ruanganku, aku ingin melihatnya dan segera merevisinya.” Sora langsung meninggalkannya masuk ke ruangan tak melihat bagaimana ekspresi tegang semua stafnya bisa. “Siapa duluan yang mau masuk ke ruangan?”tawar seorang staf pada lainnya. “Siapa? Aku belakangan aja.” “Aku juga belakangan aja.” Tak ada yang mau karena bagi mereka menyalahkan tugas untuk direvisi pertama tidak kalah menakutkannya dengan dieksekusi mati, hingga tiba sampai pada giliran Orin, dia yang terakhir di tawari dan jadi harga mitlak tak bisa menolak. “Kamu ya, Orin?” Orin menggeleng. “Nggak, aku n

