Ruang tamu rumah nenek Abby terasa asing bagi Damian. Sofa baru yang Abby beli, sederhana, berwarna krem, sedikit keras dan masih bau plastik. Lampu di sudut ruangan menyala temaram, cukup untuk melihat wajah mereka. Damian berbaring dengan kepala di pangkuan Abby, matanya terpejam, napasnya mulai teratur. Abby duduk diam, punggung tegak, satu tangannya membelai rambut Damian dengan gerakan lambat. Jemarinya menyisir helai demi helai, mencoba menenangkan, baik Damian maupun dirinya sendiri. "Ini sudah larut." Suara Abby pelan, nyaris berbisik. "Sebaiknya kamu pulang." Ia menjeda, tangannya masih bergerak. "Kasihan anak-anak. Mereka pasti nyariin ayahnya." Damian tidak membuka mata. "Mereka sudah tidur." Suaranya serak, dengan nada malas. "Nggak akan tahu kalau ayahnya pergi." Abby memu

