"Ini kamarmu." Damian mendorong terbuka sebuah pintu di lantai dua, hanya beberapa langkah dari kamar Suri.
Abby melangkah melewatinya, masuk ke dalam ruangan. Udara yang sejuk dan wangi menyambutnya. Matanya perlahan-lahan memandang sekeliling, sebuah ranjang besar berkelambu lembut, lemari pakaian tinggi dari kayu gelap yang memenuhi satu sisi dinding, sebuah meja rias dengan cermin berbingkai emas, dan pintu terutup yang mengarah ke kamar mandi dalam. Cahaya sore menyelinap melalui tirai sutra. Ruangan ini lebih besar dari ruangan kos lamanya, bahkan rumah neneknya.
"Apa ini … cukup?" tanya Damian, masih berdiri di ambang pintu, mengamatinya.
Abby menoleh padanya, lalu mengangguk pelan, hampir seperti gerakan reflex. "Ya," bisiknya, suaranya sedikit tercekat. "Ini lebih dari cukup."
Damian berdeham ringan. "Di dalam lemari sudah ada beberapa paper bag. Isinya untukmu. Beristirahatlah dulu. Setelah itu, kamu bisa mulai menyesuaikan diri. Saya ada di lantai bawah. Jika butuh apa-apa, ada pelayan yang bisa dipanggil."
Abby hanya bisa mengangguk lagi, matanya masih belum sepenuhnya meninggalkan kemegahan kamar itu. Damian pun pergi, meninggalkannya sendiri. Bunyi pintu yang tertutup dengan lembut terasa seperti segel yang dipasang.
Beberapa saat ia hanya berdiri di tengah ruangan, sebelum akhirnya teringat perkataan Damian tentang lemari. Dengan langkah ragu, ia mendekati lemari berdaun empat itu dan membuka salah satu pintunya.
Di dalam, tergantung rapi beberapa pakaian, blus, celana panjang, dress sederhana. Dan di rak bawah, bertumpuk beberapa paper bag bermerek mewah. Abby membungkuk, mengambil satu. Ia mengeluarkan isinya, sehelai sutra halus berwarna krem yang terbuka menjadi sebuah nightgown. Di bawahnya, tersusun beberapa set pakaian dalam dari renda dan satin. Warna-warna netral, potongan yang elegan, namun tak tersembunyi lagi fungsinya.
Jari-jari Abby menggenggam kain sutra yang dingin dan licin itu. Napasnya terasa pendek. Ia mengintip ke dalam paper bag lainnya. Lingerie. Semuanya baru, masih berlabel, disiapkan dengan ukurannya yang pasti.
Dia berdiri di depan lemari terbuka itu, kain mewah berjatuhan di tangannya. Sebuah realitas yang dingin dan elegan menyergapnya, pria itu tidak hanya menyiapkan kamar. Dia telah menyiapkan perannya, hingga ke detail paling intim. Ini adalah pengingat nyata dari transaksi yang baru saja ia tanda tangani, sebuah kehidupan mewah yang dibayar dengan diri sendiri, lengkap dengan segala atribut dan kewajiban seorang istri rahasia.
Setelah mandi dan mengenakan salah satu setelan katun lembut yang disediakan, Abby menghirup napas dalam-dalam sebelum menuju kamar Suri. Di sana, seorang pelayan berusia separuh baya sedang menata pakaian bersih di atas tempat tidur.
"Apakah Nona Suri akan mandi?" tanya Abby.
Pelayan itu menoleh, matanya yang ramah menyapanya. "Iya. Oh, Anda pasti pengasuh barunya?" ujarnya, menyadari wajah asing.
"Saya Abby." Perkenalannya singkat.
"Nona Suri biasanya mandi sendiri, tapi ...." Pelayan itu menurunkan suaranya, "dia suka bermain air sampai lama. Kadang kulitnya jadi dingin dan membiru. Tuan sangat tidak suka itu."
Abby mengangguk, mencerna informasi itu. "Saya akan temani dia."
Pelayan itu mengangguk dan memberi ruang. Abby mendekati bocah kecil yang tengah berdiri hendak membuka bajunya. Saat bayangan Abby menyentuhnya, Suri mendongak. Wajahnya yang polos tiba-tiba berkerut.
"Tidak mau!" teriaknya kecil, tangan mungilnya menepak-nepak udara antara mereka. "Pergi!"
Abby langsung mundur dua langkah, tangan terangkat sedikit sebagai isyarat menenangkan. "Baik, baik. Aku tidak akan mendekat. Suri mandi sendiri, ya? Aku hanya menunggu di sini." Dia mundur hingga ke ambang pintu kamar mandi, bersandar pada kusen pintu.
Pelayan itu, yang memperhatikannya, tersenyum tipis penuh pengertian. "Sudah beberapa pengasuh yang tidak betah karena sikap Nona Suri. Butuh waktu lama baginya untuk menerima orang baru. Semoga Anda bisa bertahan lebih lama."
"Saya akan berusaha," gumam Abby. Pikirannya menerawang pada kontrak pernikahan rahasianya, mengundurkan diri bukanlah sebuah pilihan.
Pelayan yang bernama Ester itu kemudian membantu memandikan Suri untuk pertama kalinya, memberi contoh pada Abby. Abby memperhatikan setiap gerakannya, suara yang pelan, gerakan yang tidak terburu-buru, memberi ruang pada Suri untuk merasa mengendalikan situasi. Saat Ester hendak menyisir rambut Suri yang basah, Abby memberanikan diri.
"Boleh saya coba?"
Ester menyerahkan sisir itu dengan senyum. Setelah dia pergi, Abby berlutut pelan di belakang Suri, yang sedang memandangi boneka kelincinya dengan tatapan kosong. Dengan sangat hati-hati, Abby mulai menyisir ujung-ujung rambut ikalnya yang basah, mencoba membuka setiap simpul dengan lembut.
Lalu, tiba-tiba.
Suri memutar kepalanya dengan cepat. Mata hazelnya yang biasanya kosong kini melebar penuh teror. "DADDY!" teriaknya, suara murni dan melengking seperti sirene. "ADA ORANG JAHAT!"
Abby terhentak, sisir terjatuh dari tangannya. "Suri, aku bukan—"
"DADDY!" teriak Suri lagi, merangkak mundur menjauh darinya.
Dalam sekejap, bayangan memenuhi pintu. Audrey dan Aidan bergegas masuk, wajah mereka panik. Audrey langsung mencekal tubuh kecil Suri yang gemetar, memeluknya erat. Aidan berdiri menghalangi antara Abby dan kedua saudarinya, matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Apa yang kamu lakukan pada adik kami?!" tuntut Audrey, suaranya membakar.
"Saya—saya hanya menyisir rambutnya," jawab Abby, suaranya gemetar. Dia merasa dirinya mengecil di bawah tatapan tajam mereka.
Saat itulah, siluet tinggi muncul di belakang anak-anak itu. Damian berdiri di ambang pintu, wajahnya seperti topeng batu yang mencerminkan cahaya lampu kamar. Matanya yang kelabu beralih dari Suri yang masih tersedu-sedu, ke Audrey yang melindungi, lalu akhirnya menetap pada Abby yang pucat, mencari jawaban di balik keheningan yang tiba-tiba menggantung pekat.
Damian melangkah masuk, aura tenangnya segera mengisi ruangan yang tegang. Dengan isyarat kepala yang halus, ia menyuruh Audrey dan Aidan keluar. Tanpa protes, mereka mundur, meninggalkan adik mereka yang masih tampak ketakutan. Damian mendekat, dan tubuh kecil Suri langsung merangkul kakinya, bersembunyi di balik celana panjangnya.
"Tidak apa-apa. Daddy di sini," gumam Damian sambil membungkuk, mengangkat Suri dengan mudah ke dalam pelukannya. Gadis kecil itu langsung meringkik, wajahnya terkubur di leher ayahnya. Damian duduk di tepi ranjang, menepuk-nepuk punggung Suri dengan ritme yang menenangkan.
Abby masih berdiri menyender pada dinding kamar. Tangannya, yang baru saja memegang sisir, masih terasa sedikit gemetar. Teriakan “orang jahat” itu masih bergema di telinganya.
"Tolong sisirnya," ucap Damian tanpa menatapnya, suaranya rendah tapi jelas.
Abby merangkak sebentar, mengambil sisir kayu yang tergeletak di karpet, lalu menyodorkannya pada Damian.
"Abby hanya ingin membantu," bisik Damian ke telinga Suri, sementara tangannya mulai dengan sabar menyisir ujung-ujung rambut ikal yang masih basah. "Lihat, rambutmu jadi rapi. Tidak ada yang menyakitimu."
"Dia … sentuh aku," desis Suri, suaranya tertahan.
"Sentuhan yang lembut, kan? Untuk merapikan rambutmu. Kalau tidak disisir, nanti saat tidur rambutnya bisa membuatmu kepanasan." Damian terus menyisir dengan gerakan yang pasti dan lembut.
Setelah Suri tertidur lelap, Damian keluar dari kamar, memberi isyarat pada Abby untuk mengikutinya ke koridor yang sepi.
"Pelan-pelan," ujarnya, suaranya datar.
"Aku sudah melakukannya dengan pelan," bantah Abby, suaranya bergetar karena frustrasi yang tertahan.
"Ini baru hari pertama. Kamu harus bertahan."
"Ini terasa seperti … aku sedang diserang, padahal aku bahkan tidak tahu aturan perangnya."
Damian memicingkan matanya, alisnya bertaut. "Jadi menurutmu, Suri adalah musuhmu?"
"Itu bukan—" Abby menghela napas, menahan diri. "Bukan itu maksudku."
"Lupakan itu untuk sekarang. Sudah siap untuk malam ini?"
"Siap untuk apa?" tanya Abby, tetapi seketika tubuhnya menjadi kaku. Dia memahami maksud di balik pertanyaan itu sebelum Damian sempat menjawab.
Damian tidak menjawab. Hanya menatapnya, pandangannya menembus, menunggu.
"Anda … Anda bilang bisa menunggu," protes Abby, suaranya kecil. "Aku bahkan belum bisa mendekati Suri."
"Dan apakah saya harus menunggu sampai kamu sepenuhnya ‘menaklukkannya’?" Damian menyeringai, sebuah ekspresi sinis yang dingin. "Benarkah?"
Abby terdiam, mulutnya terbuka sedikit, tak ada kata yang keluar. Rasanya seperti bernegosiasi dengan sebuah batu karang.
"Saya beri waktu sampai Minggu depan." Kalimat itu diucapkan dengan nada akhir, seperti keputusan yang tak terbantahkan.
Sebuah tawa pendek dan pahit terlepas dari bibir Abby. Sungguh menggelikan, tak percaya jika saat ini dia sedang bernegosiasi dengan suaminya mengenai malam pertama mereka.
"Abby," desak Damian, suaranya memecah lamunannya.
"Ya. Terserah Anda," jawab Abby akhirnya, suaranya datar dan lelah. Dia menyerah.
"Bagus. Saya akan menunggu." Setelah itu, Damian berbalik, langkahnya yang mantap menjauhinya tanpa menoleh lagi.
Abby berdiri sendiri di koridor yang sunyi, menatap punggung lebar itu yang menghilang di balik tangga. Perutnya bergejolak, sebuah campuran antara kemarahan, penghinaan, dan sebuah kepasrahan pahit bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang stabil dia harus membayarnya dengan mahal.