Ponsel Damian bergetar. Satu pesan singkat masuk. Ia membukanya, membaca cepat, dan keningnya langsung berkerut. [Aku tidak bisa mengurus Suri. Maaf.] "Apa-apaan ini?" gumamnya. Tanpa berpikir panjang, jarinya menekan nama Abby di layar. Dering pertama. Kedua. Tidak dijawab. Ia berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela besar di ruangannya. Pemandangan kota di bawah tidak berarti apa-apa. Matanya hanya melihat bayangannya sendiri di kaca. "Cepat angkat, Abby," desisnya. Dering ketiga. Keempat. Akan masuk voicemail ... Tersambung. "Apa yang kamu katakan?!" Suara Damian meledak. "Kenapa tiba-tiba berubah pikiran, hah?!" Hening. Lalu suara Abby di seberang, pelan, lelah. "Aku cuma mau sendiri. Maafkan aku." Damian menyisir rambutnya kasar. Tangannya gemetar menahan emosi. "Abby, kit

