Kesepakatan

1423 Words
Jika dilihat dari gender. Tentu ia menang. Jika dilihat dari siapa yang lebih tua, ia juga menang. Melihat siapa yang paling lama di Wise, Saka juga yakin ia akan menang. Tapi jika dilihat dari satu garis keturunan sebelumnya, jelas Amara yang menang. Sepupu perempuannya itu satu-satunya anak dari kakak papanya. Kakak sepupu satu-satunya. Sebagai anak dari anak kedua, ia tidak bisa merasa yang paling tua. Meski benar ia yang paling tua, namun dalam garis keturunan, Amara yang lebih tinggi. Tangan Saka menarik sebatang rokok dari kotak di saku kemejanya. “Lu masih ngerokok?” tegur satu suara dari belakangnya. Saka tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. “Bukan urusan lu,” ketusnya sambil menyalakan korek gas di tangan kanannya. “Gue nanya, bukan mau ngurusin lu,” sinis Amara yang sekarang duduk di samping Saka, “urusan gue udah banyak. Gak tertarik gue buat komentarin rokok lu itu.” “Fuuh,” Saka menghembuskan asap dari mulutnya. Tangan Amara terulur dan mendorong wajah Saka untuk menoleh ke arah lain. Menjauhkan asap dari wajah gadis itu. Saka terkekeh, ia tidak tersinggung. “Apaan si lu, Mar!” sebalnya. “Gue punya asma kalau lu lupa,” pelan Amara mengatakannya. Tangan Saka turun, mematikan rokok. Lalu mengibas-ngibaskan tangannya, menguir asap pergi. Padahal tidak usah begitu asapnya sudah terbang terbawa embusan angin malam. Amara terkekeh pelan. Semilir angin di halaman belakang rumah yang besar dan luas. Di belakang mereka berdua ada kolam renang besar dan juga jaccuzi air hangat. Di depan mereka hamparan luas taman bunga, di samping kiri ada rumah kaca dengan koleksi anggrek milik Kakek yang tersusun rapi. Berbatasan langsung dengan court golf di ujung halaman belakang, ada helipad. Hanya terlihat titik-titik lampu di malam gelap seperti ini. Amara menarik napas. “Lu pasti kaget karena gue tiba-tiba datang.” “Memang.” “Kalau lu pikir gue yang— “Itu kerjaan Kakek. Gue bisa nebak.” “Jadi gak ada persaingan?” Saka menoleh, melihat Amara yang mengulurkan tangan padanya. “Apa yang lu mau?” Ujung bibir Amara naik, menyunggingkan senyum, “Itu gaya kakek banget,” komentarnya sambil masih mengulurkan tangan. Tangan Amara dijabat Saka, “Gue akan tetap ngasih yang terbaik buat Wise. Kalau lu gak berniat buat bersaing, jangan bikin kerjaan gue berantakan.” “Kalau gak mau gue berantakin kerjaan lu, pastikan gue gak diganggu selama JFW,” Amara mengungkapkan permintaannya. Alis Saka bertaut, “JFW?” “Tahun kemarin JFW gue berantakan karena Kakek sabotase panggung gue.” Saka terkekeh puas, ia mempererat genggaman tangannya, “Deal!” Mata Amara memicing. “Kalau JFW gue berantakan, lu tau akibatnya!” ancamnya sekali lalu melepaskan tangannya. “Siap kang baju,” jawab Saka sekenannya tepat saat Amara bangkit berdiri dari duduknya. Gadis dua puluh tujuh tahun itu berbalik, “Kalau gak ada tukang baju kayak gue, lu…” Amara menjeda kalimatnya, ditunjuknya Saka dengan telunjuk dan jari tengahnya. Kedua jarinya yang terangkat itu naik turun, menunjuk dari bahu sampai lutut Saka yang memang memakai celana pendek. “… lu telanjang kayak dinosaurus sekarang.” Saka terkekeh pelan saat Amara kembali berbalik dan berjalan menuju rumah besar di belakang mereka. Gadis itu merapatkan cardigan yang di pakainya di luar baju tidur victoria secretnya. Saka kembali menatap Hamparan halaman luas dan court golf di jauh sana. Ponselnya bergetar, Saka merogoh saku celananya, ujung bibirnya kembali naik. [Alara Rumah : Saya gak kabur, Pak Saka. Rumah sudah beres dan semua baju juga sudah dibereskan.] -o0o- Ala berjinjit keluar dari kamarnya. Ia juga turun tangga dengan hati-hati. Tas tangan di tangan kanannya ia peluk. Sepatu yang belum dipakainya ia pegang di tangan kiri. Matanya bergerak kiri kanan mengawasi keadaan. Dapur sepi. Tidak ada tanda-tanda sudah dimasuki orang. Punggung Ala menegak. Ia menghela napas lega. “Ada maling?” “Astagaaa!” Ala menjerit saat pertanyaan itu terdengar tepat dari belakang telinga kanannya. Ia menutup mata, melepaskan sepatunya sampai jatuh, lalu berjingkrat seperti ditarget tawon. Saka melihat saat Ala hampir saja menabrak sudut meja. Ia bergerak cepat, menarik Ala yang hilang keseimbangan dan Bruk! Tubuh Saka jatuh lebih dulu. Disusul tubuh mungil Ala yang jatuh di atas Saka. Mata Ala membelalak. Menatap wajah di bawahnya. Mulutnya terbuka kaget. Tangannya segera terulur, menopang diri untuk bangun dari atas tubuh terbentuk dengan otot-otot yang bisa ia putar dalam kepalanya dengan jelas di mana saja tempatnya. “Masih mau mengagumi saya?” tanya Saka. Ala mengerjap, “Memang bagus, Pak Saka. Ganteng.” Saka terkekeh. “Maksudnya,” Ala cepat-cepat berdiri, tangannya tidak sengaja membuat Saka menjadi penopangnya lalu duduk di lantai dapur, “Maksudnya enggak gitu, Pak. Maaf, kayaknya tadi saya gak ngajak-ngajak jatuh, deh.” “Kamu gak ajak jatuh, tapi kamu hampir nabrak meja,” jawab Saka yang ikut membangunkan dirinya, duduk di depan Alara. Gadis itu menoleh pada meja marmer di sampingnya, ia meringis pelan. Lalu kembali menghadap bosnya itu. “Marmernya mahal banget, ya, Pak?” tanyanya salah paham. Saka terkekeh, kepalanya menggeleng-geleng, “Hm, mahal banget. Kamu gak akan sanggup gantinya,” jawabnya sekenanya sambil bangkit berdiri. Bibir Ala manyun, tahu diri kalau ia memang tidak akan bisa menggantinya. Saat mengetahui kalau teman serumahnya adalah bosnya, bukan cuma bos tapi BOS, pake capslock karena Saka adalah perpanjangan tangan dari Komisaris itu sendiri. Meski Saka belum resmi menjadi CEOnya, tapi semua hal adalah keputusan dari Sakala Rangga. “Itu tadi gak akan berpengaruh sama kontrak kerja saya, kan, Pak?” tanya Ala yang mengangkat wajahnya. Ia menatap Saka yang sedang menepuk punggungnya sendiri. “Hm? Kontrak kerja?” Saka menoleh. Ala mengangguk. “Memangnya kamu berbuat salah dengan pekerjaan kamu?” Saka balik bertanya. Ala mengerjap. Ia salah tingkah di tatap begitu lekatnya, apalagi saat tangan Saka terulur padanya. Ala menggeleng untuk dua hal. Pertanyaan Saka tentang kesalahan pekerjaannya juga dengan uluran tangan Saka. Canggung sekali kalau menerima tawaran tangannya. Jadi ia meraih tasnya lalu bangkit bangun sendiri. Sebelah alis Saka menukik naik. Matanya melirik tangan kanannya yang terulur, yang diabaikan begitu saja oleh gadis di depannya ini. “Saya gak ada salah dengan pekerjaan saya, Pak,” jawab Ala dengan percaya diri. Ia kembali berdiri, tangannya membereskan kemeja dan memakai tasnya di bahu sisi kanan. Menghadap Saka dengan senyum kaku yang memaksa matanya sipit. Tangan kanannya yang diabaikan Ala, ia masukkan saku, lalu menoleh pada Ala, Saka mengangguk, “Kalau gitu gak akan berpengaruh sama kontrak kerja kamu,” jawabnya santai. “Kalau perpanjangan kontrak?” Tidak ada riak berubah di wajah Saka, “Perpanjangan kontrak?” Ala mengerjap, sadar dengan apa yang sudah dilakukannya. Ini hal yang tidak dibenarkan. Kepalanya menggeleng kemudian, “Bukan apa-apa, Pak Saka,” Ala tersenyum kaku. Matanya mencari sepatunya yang tadi terjatuh, ia berjalan melewati Saka lalu menunduk mengambil sepatunya di depan tangga. “Saya sudah buat sarapan, Pak, untuk membalas teh madu kemarin.” “Itu bukan utang, Ala,” potong Saka sambil melirik Ala yang sedang memakai sepatunya. Mata Ala kembali berkedip, “Memang bukan. Saya hanya membuatnya karena Pak Saka tidak makan malam di sini tadi malam,” jawabnya sambil masih menunduk. Saka memicingkan mata. “Kalau begitu saya pamit pergi dulu, Pak,” pamit Ala setelah kembali berdiri dan membereskan lagi kemeja dan tas tangannya. Memastikan kalau hari ini ia memakai bajunya sendiri. Ala sedikit menunduk hormat lalu berbalik dan berjalan ke pintu depan tanpa menunggu jawaban Saka. Tatapan Saka masih mengikuti gerakan kepergian gadis itu, rambutnya diikat ekor kuda, kemeja sederhana, celana hitamnya, tas totebag, dan sepatu flatnya. Ada satu hal yang membuat Saka bertanya kenapa barang Ala sebagai cewek sedikit sekali? Saat datang ke rumah ini setelah menolongnya malam itu. Koper dan tas ransel yang kecil, juga tas yang dipakainya itu. Kalau mengingat Nalika, kamarnya adiknya itu adalah gabungan dari store Dior, YSL, dan Chanel. Saka jadi penasaran, apakah perusahaannya kurang mensejahterakan pegawainya? Tangannya meraih ponsel, tapi sudut matanya melirik kabinet dapur. Ada sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi yang disimpan di balik tudung saji transparan. Ujung bibirnya tertarik naik. “Makan malam diganti sarapan,” kekehnya pelan, “perhitungan banget.” Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk. Dari mata-mata paling utamanya di rumah keluarga. [Lika : Kakek lagi bikin sayembara baru. Lu sama Amara kayanya bakal jadi tumbal proyek, deh, Kak.] Pesan Nalika ditambah dengan stiker ngakak bocah korea dengan rambut pendek berponi. Pesan yang membuat mata Saka memicing sebal. Bukan pada stikernya, tapi pada sesuatu yang sedang direncanakan kakeknya. Sesuatu yang mungkin ia ketahui. Kepalanya menoleh pada piring nasi goreng lagi, lalu senyumnya kembali naik. “Perpanjangan kontrak, ya?” gumamnya sambil mengangguk-angguk. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD